Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 125. Daddy And Old Brother


__ADS_3

“Daddy?” Itu suara Dokter Vargas yang memanggil ayahnya.


Sementara Nyonya Vargas cepat-cepat menghampiri suaminya dan ingin menanyakan apa saja yang sudah pria bule itu ketahui.


“Kau juga sudah mengetahuinya, Willy?” tanya Nyonya Vargas to the point.


Tuan Vargas mengangguk. “Ya, sudah. Kita bicarakan ini nanti, aku ingin melihat putriku terlebih dulu.”


Tanpa memberi sapaan pada Hadya dan Lean, pria bule yang berusia hampir setengah abad itu langsung menyelonong masuk dan melangkah cepat ke arah ranjang pasien.


“Permisi, Tuan Sanjaya. Boleh saya melihat putri saya sebentar?” Meskipun sudah tidak dapat untuk menahan, Tuan Vargas masih tahu batasannya.


Dia sadar betul siapa yang kini berdiri di hadapan putrinya saat ini. Meskipun dia adalah ayahnya, tetapi wanita itu tidak lagi sendiri. Dia telah bersuami, seseorang yang lebih berhak atas dirinya, terlepas dari status tuan muda yang disandang pria itu.


Ck, apa dia akan memeluk istriku juga? Arrrgghh, seharusnya mereka tidak usah bertemu saja ....


“Tuan. Sanjaya,” panggil Tuan Vargas sekali lagi.


“Ya? Bagaimana, Tuan Vargas? Oh, mau melihat istri saya? Boleh, silahkan!” ucapnya kemudian langsung melompat naik ke tempat tidur pasien dan duduk tepat di sebelah Caitlyn, lengkap memeluk tubuh istrinya itu.


Tuan Vargas dan semua yang ada di dalam ruangan itu melongo melihat tingkah Lean yang luar biasa posesif. Tuan Vargas yang hendak maju mendekati putrinya jadi menjadi ragu dan segan. Sementara Dokter Vargas dan ibunya terkikik melihat sikap bucinnya Lean.


Hadya berdehem lalu menggeleng. “Kau sedang apa di situ, Lean. Tidak ada yang ingin merampas istrimu. Pria itu adalah ayahnya jika kau lupa. Berikan mereka waktu untuk bersama, Nak,” tegur Hadya yang merasa malu dengan sikap putranya.


Lean mencebik kesal lalu perlahan turun dari ranjang, tetapi lagi-lagi meninggalkan banyak ciuman di wajah cantik istrinya terlebih dahulu. Sesudah itu dia beru menyingkir dan bergabung bersama ayahnya.


Namun, mata tajam itu masih tidak beranjak sedikitpun dari sosok sang istri. Dia harus selalu mengawasi istrinya itu di setiap saat dsn tidak boleh lengah.


“Hentikan kecemburuan kamu yang tidak beralasan itu Lean. Istrimu itu baru bertemu lagi dengan keluarganya, mengertilah sedikit dengan kerinduan mereka yang sama-sama terpendam selama ini, Nak.” Hadya memberi nasehat.


“Iya, Pa. Iya, nih aku sudah memberi ruang dan waktu, ‘kan?” ketus ucapannya membuat Hadya tertawa kecil.


Di sampingnya Dokter Vargas berdehem. “Jadi, sekarang kita iparan, yah, Tuan?” tanya sang dokter.


Lean sedikit terkejut lalu menoleh, menatap pria di sebelahnya selama beberapa detik.


“Iya juga yah, Aku tidak berpikir sampai ke situ sejak tadi,” ucap Lean dengan kening mengerut.

__ADS_1


“Gimana mau mikir kalau otak kamu isinya cuman ada Caitlyn dan Caitlyn,” sambar Hadya dengan candaan yang menusuk.


Dokter Vargas tergelak membuat Lean mau tidak mau ikut tertawa kecil. Dia memang kadang-kadang suka konyol sendiri.


“Sudahlah, Pa. Dari tadi Papa sudah malu-maluin aku terus di hadapan iparku ini. Makin hancur reputasi aku, Pa.” Sungut Lean yang sebenarnya tak sungguh-sungguh.


Ketiga pria berbeda generasi itu lalu tertawa bersama. Sementara Nyonya Vargas ikut bergabung bersama Caitlyn dan juga suaminya.


“Ini Daddy kamu, Sayang.” Ucapan Nyonya Vargas menyadarkan suaminya dari lamunan.


Sedari tadi sejak Lean berpindah dari dari sana, pria bule itu bukannya bertekad mendekat, malah tertegun tanpa tahu harus memulai pembicaraan dengan putrinya seperti apa.


“Daddy,” panggil Caitlyn dengan nada lembutnya. Samar-samar, kabut mulai menari dalam penglihatannya, bersiap meluncurkan mendung yang tampak bergantung di pelupuk mata.


Detik itu juga William memajukan langkah lebarnya dan langsung meraup tubuh mungil putrinya dalam dekapan penuh kasih. Ayah dan anak itu berpelukan haru penuh air mata.


“Iya, ini daddy, Sayang. Daddy yang selalu merindukanmu, mencarimu ke sana kemari selama bertahun-tahun. Daddy sangat rindu dengan tuan putri satu-satunya daddy ini.” Tuan Vargas mengeratkan pelukannya sering tangisan Caitlyn yang semakin kuat.


Seingat Tuan Vargas, ini kalo ketiganya dia menangis di dalam hidup selama dewasa. Pertama kali hal itu terjadi saat dia berdiri di bawah altar dan mengucapkan janji suci menikahi seorang gadis cantik asal Indonesia yang rela mengikutinya tinggal jauh di negeri orang, di Seattle sana. Gadis itulah yang kini menjadi ibu dari ketiga anaknya.


Kedua kalinya dia menangis saat kehilangan putri satu-satunya waktu kecil. Dan saat ini adalah kali ketiganya saat dia bertemu lagi dengan putri kecilnya itu.


“Permisi, apa mommy boleh gabung?” tanya Nyonya Vargas dengan suara serak dan wajah dipenuhi linang air mata.


Caitlyn mengangkat wajahnya yang sedari tadi bersandar di dada sang ayah. Dia tersenyum dalam tangis dan meminta ibunya untuk bergabung. Ketiganya lalu berpelukan hangat. Pasangan suami-istri paruh baya itu bergantian menghujani wajah Caitlyn dengan penuh cinta.


Dari tempatnya duduk, sebelah tangan Lean terangkat dan menghapus ujung matanya yang tampak basah. Senyum kecil tercetak samar di wajah tampannya. Untuk kali ini saja, dia membiarkan pria lain memeluk tubuh istrinya. Pria yang menjadi cinta pertama sang istri, jauh sebelum mengenal dirinya.


Lean lalu menoleh ke samping menatap Dokter Vargas yang juga tengah menahan tangis melihat pemandangan haru di depannya.


“Kau tidak ingin bergabung di sana, Dokter?” tanya Lean dan seketika sang dokter menatap ragu ke arahnya. Lean membuang pandangannya ke sembarang arah. “Kali ini saja, hanya untuk kali ini aku mengizinkannya.” Mengerti arti dari tatapan dokter itu.


“Anda yakin, Tuan?” Masih tetap ragu karena dia sudah melihat bagaimana posesifnya Lean tadi.


“Atau mau aku batalkan saja?” Wajah Lean terlihat acuh dan kembali datar.


Detik itu juga tanpa meminta permisi atau membantah lagi, Dokter Vargas langsung melangkah cepat menuju tempat di mana keluarganya berkumpul.

__ADS_1


Begitu dia telah berdiri di dekat ketiga orang di sana, pria berwajah blasteran itu langsung pura-pura terbatuk. Hal yang dia lakukan sontak menginterupsi kegiatan mellow yang terjadi di sana.


“Em, apa ada yang mengingatku di sini?” Senyum tipis pria itu membuat Caitlyn ikut tersenyum tetapi bingung.


“Kemarilah, Kak.” William memanggil anak sulungnya itu untuk segera bergabung.


Namun, Caitlyn refleks sedikit memekik dengan sebelah tangan yang terangkat menghentikan gerakan sang dokter yang hampir menghambur memeluknya.


“Wait, wait! Jadi, dokter baik hati ini adalah saudara kandungku?” tanya Caitlyn dengan mata membola.


“Yes, Darla. He‘s your older brother.” William menjawab bangga sambil tersenyum.


“Really?” Caitlyn memekik tertahan. Binar di matanya tidak dapat disembunyikan.


Ada perasaan bahagia tersendiri yang menyeruak di hati bumil cantik itu. Dia merasa hidupnya kini benar-benar sempurna. Dia bahagia memiliki orang tua yang lengkap serta seorang kakak laki-laki yang telah lama dia dambakan.


Bagi seorang anak perempuan yang lama hidup terpisah sejak kecil dengan orang tuanya, tentu dia merindukan sosok seorang kakak laki-laki yang bisa menjadi pelindung. Namun, Caitlyn tidak pernah menemukan sosok itu. Dia baru menemukannya pada Rendi, tetapi sungguh tidak sebahagia ini.


Ini benar-benar kakak laki-lakinya, kakak yang memiliki darah yang sama di dalam tubuh mereka. Kakak kandung yang sudah pasti sangat besar menyayanginya.


“Yeah, Darl!” seru William sekali lagi diikuti anggukan kepala Nyonya Vargas dan dan sang dokter.


Seketika Caitlyn tertawa dan menangis pada waktu yang bersamaan. Perasaan ini sulit digambarkan. Cepat-cepat tangannya menghalau acak air mata yang berlomba turun ke pipinya. Dia lalu membuka kedua tangannya dendam posisi sedikit terangkat, seolah meminta pelukan.


“Kakak,” cicit Caitlyn saat dokter itu membawa tubuh kecilnya dalam pelukannya.


Lean hanya tersenyum menyaksikan momen indah yang sudah dinantikan istrinya selama ini. Tiba-tiba tangan Hadya menepuk pundak putranya itu.


“Papa bangga sama kamu, Nak. Kamu sudah menyelesaikan semua ini dengan cepat.” Senyum bahagia terlihat jelas pada garis-garis lelah di wajah Hadya.


“Semua ini tidak akan mudah jika tidak ada ikatan yang kuat di antara mereka, Pa. Lean hanya membuka sedikit jalan, sisanya mereka yang melakukan sendiri dengan kekuatan cinta,” ucap Lean masih tersenyum.


“Apapun itu, papa bangga sama kamu. Jangan lupa untuk bahagiakan istrimu. Karena jika kau menyakitinya, papa yakin mertuamu akan langsung mengambilnya dan membawanya pulang ke negara asal mereka. Jangan lupa dia bule, loh.”


Ayah dan anak itu tertawa sembari saling merangkul.


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2