Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 94. Restorant


__ADS_3

Waktu saling berkejaran dan hari terus berganti dengan cepat. Sebulan berlalu lagi dan kini semuanya semakin berubah menjadi jauh lebih baik.


Rendi mulai bekerja di gedung utama Sanjaya Grup sebagai OB di sana. Lean dan Hadya ingin memberikan posisi yang jauh lebih bagus, tetapi Rendi sendiri menolak dengan alasan tidak memiliki ijazah Sekolah Menengah Atas.


Ya, meskipun sebenarnya OB juga membutuhkan ijazah SMA, berbeda dengan CS. But it's ok, jika punya orang dalam seperti Rendi saat ini, semua bis diatur.


Pria itu hanya seorang lulusan SMP. Kehidupan yang kumuh, liar, dan tanpa bimbingan orang tua membuat anak-anak di sekitar sana rata-rata tidak memiliki pendidikan yang baik. Caitlyn adalah salah satu yang beruntung karena dapat mengecam pendidikan hingga jenjang menengah ke atas.


Semua itu tidak lepas dari kegigihannya sendiri serta kasih sayang ayah angkatnya. Beliau tidak ingin Caitlyn memiliki kehidupan seperti anaknya–Rendi yang telah dia usir karena kenakalan yang tidak lagi teratasi.


Namun, semua telah berlalu dan kini telah berjalan jauh lebih baik. Kehidupan indah yang selalu beliau impikan untuk Caitlyn dan juga Rendi, telah terpenuhi meskipun dia tak lagi ada.


Well, back to Rendi dan pekerjaannya. Saat ini dia sedang membersihkan ruangan kerja Lean. Sementara pemilik ruangan itu tengah melakukan meeting sekaligus makan siang di luar bersama seorang klien dari Amerika di sebuah restoran mewah.


“Secinta itu tuan pada adik angkatku,” gumam Rendi sambil tersenyum.


Pasalnya, dia selalu mendapati foto Caitlyn yang terpajang manis di atas meja kerja Lean. Namun hari ini dia melihat foto yang berbeda dalam ruangan itu. Foto pernikahan Lean dan Caitlyn yang tampak tersenyum manis, terpasang di dinding ruangan itu dengan ukuran yang begitu besar.


Percayalah, itu hanya senyum palsu tetapi kini berarti bagi Lean dan juga Caitlyn.


“Sejak kapan tuan memasangnya? Sedangkan setiap hari aku membersihkan ruangan ini.” Rendi sedikit bingung. “Orang kaya memang suka aneh dan penuh kejutan.” Dia pun melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


Namun, detik berikutnya pekerjaan dia sedikit terganggu kala ponsel dalam saku celananya berdering. Rendi melihat dan tertera nama asisten Jerry di sana. Tanpa berpikir panjang lagi, dia segera menerima telepon.


📲 “Selemat siang, tuan.”


📲 “Ya, selamat siang. Sekarang juga datang ke Kim Resto. Tuan muda menunggu Anda.”


Sesingkat itu dan Jerry langsung mematikan teleponnya. Rendi sudah memahami betul bahwa Lean akan menyuruhnya untuk makan seperti biasa. OB satu itu memang selalu dispesialkan oleh atasannya. Poinnya masih sama, perkara orang dalam. Xixixixi!


“Tapi kenapa harus ikut ke resto segala? Aku, ‘kan, katro tidak biasa dengan tempat mewah seperti itu, yang ada nanti aku malu-maluin mereka juga.” Dilema Rendi.


Meskipun begitu, dia tetap ke sana mengikuti perintah Lean. Rendi meninggalkan pekerjaannya dan berjalan kaki menuju tempat yang disebutkan Jerry tadi. Tidak perlu heran karena tempat makan elite tersebut tidak jauh dari gedung utama Sanjaya Grup.


Sampai di sana, dia bingung hendak masuk lewat mana dan harus bagaimana. Namun, kebingungannya teratasi ketika Jerry datang memanggilnya.


“Terima kasih, Tuan.” Rendi membalas dengan kepala yang menengok ke sana ke mari mencari sesuatu. “Em, maaf, Tuan. Tuan muda berada di mana, yah?” tanyanya.


“Mereka di ruangan khusus. Mungkin sudah hampir selesai meeting-nya. Silahkan makan, Rendi!” ucap Jerry.


Ck, dia sama saja dengan tuan muda. Tidak bisa berbasa-basi sedikit. Datar sekali ekspresi mereka.


“Anda sendiri tidak makan, Tuan?” tanya Rendi.

__ADS_1


“Sudah,” jawabnya singkat.


Rendi menggaruk tengkuknya. Ada yang mengganjal di hati pria sederhana itu.


“Tapi, Tuan ... saya ... boleh tidak saya makan di kantor saja. Soalnya saya tidak tau makan dengan menggunakan benda-benda ini.” Menujuk garpu, sendok, dan pisau yang lebih dari satu di atas meja.


Rendi ingin sekali berkata jujur jika dirinya pusing melihat peralatan makan sebanyak itu. Yang dia bisa hanya menggunakan sendok dan selebihnya lagi biar lebih nikmat, dia menggunakan tangan. Simple dan praktis.


Jerry ingin menjawab tetapi dia sudah lebih dulu mendapat panggilan dari Lean.


“Sebentar, tuan memanggil saya.” Jerry pun langsung menyelonong pergi.


Dari tempatnya, Rendi terus menatap gerak gerik Jerry hingga masuk ke sebuah ruangan khusus dan tidak lama setelah itu mereka pun keluar. Dapat Rendi melihat Lean berjalan terlebih dahulu diikuti seorang pria berwajah bule dan diikuti Jerry di belakang.


“Orang itu ... wajahnya seperti tidak asing? Pernah liat di mana, yah?” Rendi memaksa otaknya untuk mengingat orang itu.


Dia pun lantas bangkit untuk mengikut mereka. Namun, begitu sampai di parkiran, langkah Rendi terhenti saat sebuah belati menempel di lehernya.


“Melangkah sedikit saja, nyawamu taruhannya!”


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻🌻...


__ADS_2