
Waktu bukan hanya sekedar berlalu dan meninggalkan beberapa momen dalam sebuah ruang berenam kenangan. Namun, waktu juga mampu menyingkapkan banyak hal yang sengaja disembunyikan dari dunia.
Seperti hal yang dilihat serta dialami Caitlyn malam ini. Sosok baik dan lemah lembut yang selalu dia kenal, tiba-tiba saja menunjukkan sisi aslinya. Caitlyn menyesal karena tidak bisa mengenal topeng yang ditutup rapi dengan berbalut label sahabat.
“Jangan pernah menyebutnya seperti itu jika tidak ingin melihatku marah, Tamara!” peringat dia yang datang.
Melihat orang tersebut mendekat, Caitlyn langsung berdecih.
“Jangan mendekatiku dan jangan sok membelaku! Kau sama iblisnya dengan dia dan ibumu. Aku tidak sudi punya sahabat sepertimu, bang*sat!” maki Caitlyn dengan nada yang meninggi. Dia enggan menyebut nama yang terasa menjijikan baginya.
“Hei, siapa yang mau jadi sahabatmu? Aku hanya ingin menjadi pendamping hidupmu, Lily sayang.” Orang itu hendak menyentuh wajahnya tetapi Caitlyn langsung meludah dengan cepat.
“Aku bilang jangan mendekatiku! Aku tidak sudi untuk disentuh manusia munafik sepertimu . Kau menjijikan–”
Ucapan Caitlyn yang berapi-api langsung mereda kala sebuah telapak tangan mendarat keras di pipinya. Wanita malang itu sampai pusing, bahkan ujung bibirnya sedikit mengeluarkan darah segar.
“Gue gak pernah mau menyakiti lu, Lily sayang. Tapi kenapa bibir sek*si lu ini begitu kejam mengatai calon suami lu, hm?” Menyentuh dagu Caitlyn dan menaikan wajahnya dengan kasar.
Lagi-lagi Caitlyn meludah dan memekik. “Don‘t touch me! Kau bukan siapa-siapanya aku dan tidak akan pernah menjadi siapapun dalam hidup aku!” teriak Caitlyn begitu marah.
Jika dulu Caitlyn selalu membelanya saat Lean marah dan cemburu, kali ini dia mungkin jauh lebih membenci orang itu daripada Lean sekalipun.
“Heh, ja*lang! Kecilkan suaramu, telingaku sakit!” bentak Tamara. “Dan kau Nathan, kenapa kau begitu menyukai ja*lang seperti dia?”
__ADS_1
Ya, pria yang datang itu adalah Nathan. Pria yang beberapa jam lalu Caitlyn memergoki dirinya di rumah sakit dan mengetahui tentang semua rahasianya.
Nathan menggeram. “Jaga ucapanmu, Tamara! Biarkan dia berteriak sepuasnya, karena sebentar lagi dia akan diam dan tunduk padaku sebagai suaminya.” Berucap santai.
Caitlyn bingung mendengar ucapan santai itu. Mengerti dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Caitlyn, Tamara meminta Nathan untuk menjelaskannya.
“Sepertinya kau sangat tertarik dengan bekas kakak tirimu, Nath!” Wanita iblis itu terkekeh. “Dan sepertinya kau juga harus memberikan sedikit bocoran padanya, Nath,” ucap Tamara.
Nathan tersenyum dan menggeleng. “Tidak masalah jika bekasnya adalah dia.” Menunjuk Caitlyn dengan dagunya. “Dan aku rasa tidak perlu memberi tahu sekarang. Biar jadi kejutan saja.”
“Ck, lama. Biar aku saja,” putus Tamara. “Kau tau kenapa kau ada di sini, Nona Wiguna?” Tamara mulai berjalan mengitari posisi Caitlyn, sedangkan Nathan memilih duduk santai pada sebuah kursi yang tersedia di dalam ruangan tersebut.
“Pertama, karena kau adalah aset berharga bagi kami. Dengan dirimu, kami bisa meraih semua mimpi bersama keluarga Sanjaya. Kedua, karena kau merebut Lean dariku–”
“Kau merebutnya, Bit*ch! Kau menjebaknya.” Tamara mencengkram rambut bagian belakang kepala Caitlyn. Wanita itu sama sekali tidak peduli dengan suara rintihan Caitlyn. “Dan kau tahu alasan yang ketiga? Karena sebentar lagi penghulu akan ke sini dan menikahkan dirimu dan Nathan. Dengan begitu aku bisa mendapatkan Lean dan kau bisa bersama dengan Nathan. Bagus, ‘kan?” Tamara tergelak puas.
Sementara itu, Caitlyn terbelalak mendengar kata menikah.
Tidak, tidak! Papa, papa di mana? Tolong cepat kemari dan bebaskan Caitlyn dari mereka, pa.
“Dan satu lagi, karena kau telah dengan lancang mengetahui status dan identitas asliku. Karena itu akan lebih baik jika langsung menikahimu,” sambung Nathan.
“Jangan mimpi! Kalaupun kami telah resmi bercerai, selera Lean bukan kau lagi, Tamara. Dan dia juga bukan tipeku. Kenapa kalian berdua tidak menikah saja? Sangat cocok dan serasi. Kenapa harus bersusah payah mencari yang lain?” Caitlyn tetap bersikap berani dan tidak ingin terlihat lemah.
__ADS_1
Baru saja selesai mengucapkan itu, Caitlyn terkejut dengan beberapa orang yang masuk ke ruangan itu sekaligus. Salah satu di antaranya adalah Sania.
“Selamat bertemu kembali, Nona Caitlyn.” Sania tersenyum iblis. “Selamat juga karena sebentar lagi akan menjadi menantuku yang kedua kali,” imbuhnya.
Sania menjeda lalu mendekat ke arah Caitlyn dan hendak merapikan rambut wanita malang itu.
“Pengantin wanita harus terlihat cantik, bukan?” Tangannya bergerak dengan cekatan, meskipun Caitlyn tengah meronta.
“Tante, please! Jangan lakukan ini. Aku masih istri Lean, Tante. Please ….”
Sania tertawa mendengar permohonan itu. “Lihat, siapa yang meminta tolong ini? Akhirnya kau sadar jika kau hanyalah tikus kecil yang lemah.”
Sania tidak peduli dan bergerak menjauh dari sisi Caitlyn. Detik berikutnya, dia memanggil penghulu yang sudah mereka siapkan sebelumnya.
“Langsung dimulai saja, Pak penghulu,” ucap Sania.
“Baiklah, kalau begitu.
“Tidak! Jangan, Tante …!”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1