Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 32. Small Reply


__ADS_3

Siang hari di kediaman Sanjaya, tampak begitu sepi seperti biasanya. Rumah mega itu makin hari makin kehilangan kehangatan. Akan terasa seperti tidak ada kehidupan di sana jika saja tidak ada aktivitas para pelayan. Benar, rumah itu masih terlihat hidup hanya karena adanya cukup banyak pelayan di sana. Penghuni utama rumah itu seolah mati tenggelam dalam arus kesibukan dan ambisi masing-masing.


Hadya yang sibuk memantau banyak hal mulai memantau menantunya dari jarak jauh, memantau setiap pergerakan sang putra, bahkan kini harus mantau perusahaan, dan masih banyak lagi yang harus Hadya urusi untuk ketenangan dan kebahagiaan seluruh keluarganya. Sementara itu, Sania sibuk mencari cara untuk bisa mendapatkan lagi harta keluarga Sanjaya, dan Lean sendiri sibuk mencari Caitlyn. Oh, yah. Jangan lupa dengan Cecilia! Wanita itu kini sibuk dengan menunggu hasil dari SW-Entertainment.


Sejak kemarin dia sudah mengirimkan portofolio lewat web resmi dan tengah menunggu hasil. Baru beberapa saat lalu, ibunya datang dan menanyakan tentang hasil. Namun, belum ada jawaban yang bisa diberikan pada sang ibu.


Beberapa saat berlalu setelah kepergian Sania, Cecilia mendapat balasan email dari website resmi SW-Entertainment. Dengan wajah berbinar dan perasaan senang yang meluap-luap, Cecilia membuka kotak email tersebut. Namun, betapa kagetnya dia membaca isi dari balasan email tersebut yang merupakan sebuah penolakan.


“What? Ditolak?” Cecilia tampak kaget dan tidak percaya.


Dia mencoba membaca kembali keseluruhan isi email tersebut lebih jelas lagi. Detik berikutnya Cecilia dibuat shock dengan berbagai alasan yang tertera di sana.


“Hah? What the fu*ck! Tinggi 173 cm gak masuk kriteria? Apa lagi ini? Terlalu kurus dan penampilan kurang menarik? Breng*sek! Agensi si*alan!” maki Cecilia yang tidak tahan karena merasa terhina. “Alasan macam apa ini? Gak, gak. Ini salah. Aku harus mendatangi kantor mereka,” sambung Cecilia sambil bangkit dan bersiap-siap.


Sementara itu pada waktu yang bersamaan di tempat berbeda, tepatnya di apartemen Saskia. Wanita itu tengah tertawa kala mendapat laporan dari pihak perusahaan terkait pendaftaran model atas nama Cecilia Sanjaya. Jauh sebelum itu, Saskia telah mengantisipasi dua nama model besar, salah satunya adalah mantan adik ipar dari sahabatnya agar tidak sampai masuk dan bergabung ke agensi milik keluarganya. Hal ini Saskia sampaikan langsung kepada ibunya–Widia, selaku CEO SW-Entertainment.


Sebagai anak tunggal, tentu saja permintaan Saskia dikabulkan. Berbagi akses dan cela sekecil apapun, diblokir oleh Saskia. Begitu mendapatkan laporan dari perusahaan, Saskia langsung bersiap-siap ke kantor. Dia tahu persis karakter Cecilia seperti apa.


“Jangan harap lu bisa join agensi keluarga gue, iblis kecil!” ucap Saskia sambil melangkah menuju pintu unit apartemennya.


Setelah memastikan pintunya telah terkunci, Saskia segera berlalu dari sana dengan langkah riang menuju basement. Dalam hati wanita itu sungguh sangat bersyukur karena bisa membalaskan sedikit saja perbuatan Cecilia pada sahabatnya.

__ADS_1


“Ini hanya balasan kecil,” gumamnya sambil tersenyum.


Tiba di basement, Saskia pun masuk ke mobil dan mulai menghidupkan mesin, lalu segera melaju meninggalkan bangunan bertingkat tersebut. Butuh waktu tiga puluh menit untuk tiba di perusahaan keluarganya. Namun, baru sepuluh menit berkendara dan melewati jalan tol yang sepi, mobil Saskia tiba-tiba dihadang oleh sebuah Mercedes Gelandewagen berwarna hitam, dari arah yang berlawanan.


Wanita cantik itu sedikit kaget lalu menginjak pedal rem dengan spontan.


“Sh*it!” umpat Saskia dengan keras.


Tidak menunggu lama, dia langsung keluar dari mobilnya dengan membanting pintu begitu kuat. Saskia pun menghampiri mobil di depannya tanpa gentar, bahkan menggedor-gedor pintu bagian pengemudi.


“Buka! Lu bisa nyetir gak sih, hah? Kalo mau belajar bawa mobil jangan di sini!” teriak Saskia dengan penuh emosi.


“Woi, breng*sek! Ngapain lu senyam-senyum gak jelas? Sengaja mau bikin gue celaka?” semprot Saskia menggebu-gebu.


Namun, kedua pria itu seolah tidak menggubris berbagai umpatan Saskia. Mereka segera mendekat dan langsung mengikat kedua tangan wanita itu.


“Mau apa kalian? Lepasin! Jadi cowok bisanya main keroyokan.” Saskia meronta minta dibebaskan tetapi dua pria itu semakin mengikatnya dengan kuat.


“Diamlah, Nona. Kami tidak akan menyakitimu jika kau tidak keras kepala. Ikuti saja ke mana kami membawamu,” ucap salah satu dari dua pria berwajah sangar itu.


“Gak, gua gak mau ikut! Lepasin gue, Bodoh!” Saskia terus berteriak dan meronta, tetapi kedua pria itu tidak jua peduli dan justru menyeret paksa Saskia agar masuk ke mobil mereka. “Gak mau! Gu … hmmppp, hmmp ….”

__ADS_1


Suara Saskia seketika menghilang begitu disumpal dengan sebuah sapu tangan.


“Berisik sekali jadi wanita.”


Saskia pingsan dan tak sadarkan diri. Salah satu pria itu lalu keluar mengendarai mobil milik Saskia, sedangkan satunya lagi langsung melaju membawa Saskia ke tempat yang sudah disiapkan sebelumnya.


Dalam perjalanan, pria yang bersama Saskia menghubungi seseorang melalui telepon selulernya.


📲 “Beres, Boss. Target sudah bersama kami!”


Di tempat yang berbeda, seseorang yang berada di seberang telepon tersenyum senang mendengar laporan anak buahnya.


📲 “Good job!”


Dia langsung mengakhiri panggilan telepon itu dan bangkit dari duduknya.


“Let's play the game!”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2