
Di luar dugaan Lean, Saskia memundurkan langkahnya dengan cepat kemudian membanting pintu di hadapannya. Pria itu memejamkan matanya dengan rahang yang mengetat menahan emosi.
Sabar, Lean ….
Lean menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan. Pria itu berusaha mengendalikan emosinya mati-matian. Setelah merasa lebih tenang dari sebelumnya, Lean kembali membunyikan bel apartemen Saskia.
Sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, sampai kali ke lima pun, pintu apartemen itu tidak terbuka. Lean mengusap wajahnya dengan kasar setelah itu dia mulai menggedor-gedor pintu apartemen di depannya.
“Saskia, aku tidak ingin mengusik ketenanganmu. Aku ke sini hanya ingin menemui Caitlyn. Biarkan aku masuk sebentar saja!” ucap Lean dengan sedikit keras.
Tidak terdengar balasan apapun dari dalam. “Caitlyn! Tolong bukakan pintunya. Aku ingin menyampaikan pesan nenek. Caitlyn, kita perlu bicara!”
Bukan lagi memanggil Saskia, kali ini nama Caitlyn yang dia sebut. Lean masih terus berusaha memanggil kedua wanita di dalam sana bergantian sambil tangannya aktif mengetuk pintu.
“Apa kau tidak memikirkan kesehatan nenek? Nenek menunggu kamu di rumah.” Gedoran Lean semakin keras seiring ketidaksabarannya yang mulai bergejolak. “Caitlyn! Sekali lagi kau tidak juga keluar–”
“Apa? Mau Anda apakan sahabat saya, Tuan Sanjaya yang terhormat?”
Ucapan Lean terhenti dengan sambutan Saskia di depan pintu. Gadis itu berdiri dengan posisi bersandar pada tiang pintu sambil menatap Lean dengan malas.
“Tidak akan aku apa-apakan dia. Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya. Tolong panggilkan dia,” kata Lean dengan nada memerintah.
Saskia berdecak dan menjawab dengan malas, “Dia gada.”
__ADS_1
“Tolong, jangan memaksa aku berbuat kasar!” ucap Lean tegas.
Wajah malas Saskia berganti sangar mendengar kalimat Lean barusan.
“Dan tolong, jangan buat gue marah dan berkata kasar sama lo. Jika bukan karena janji gua sama a … lupakan dan mohon untuk segera pergi dari sini!”
Saskia hampir saja membeberkan fakta tentang kehamilan Caitlyn. Untungnya dia masih dapat menahan diri sehingga emosi tidak menghancurkan semua usahanya selama semalam kemarin.
Sementara itu Lean yang sudah habis kesabarannya, langsung mendorong pelan tubuh Saskia dan menerobos masuk begitu saja ke dalam. Pria lalu memanggil Caitlyn berulang kali seperti orang gila. Dia tidak lagi peduli jika saat itu sudah hampir larut dan dia berada di rumah orang lain.
Saskia kaget dan ingin marah tetapi lagi-lagi dia teringat dengan janjinya pada Caitlyn dan calon keponakan. Dia pun membiarkan Lean mengacak-acak seluruh tempatnya sesuka pria itu. Saskia memilih duduk diam di sofa ruang tamu dengan kedua tangan yang dilipat.
Meskipun diam di tempat, tetapi mata Saskia bergerak mengikuti serupa gerak dan langkah Lean di sana. Sesekali dia akan menggelengkan kepalanya melihat kebrutalan pria menyebalkan itu.
“Heran kenapa Lily bisa jatuh cinta sama manusia model gini, sih? Tampan iya, tapi gak bikin bahagia dan nyaman buat apa coba? Lama-lama bisa mati muda yang ada. Lily … Lily, untung aja lu dah minta cerai.” Saskia bergumam.
“Di mana dia?” tanya Lean dengan nafas yang memburu.
Saskia tidak menjawab melainkan langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.
“Lu sudah buktikan sendiri dia gada, ‘kan? Sekarang keluar dari tempat ini karena gue juga gak tau dia di mana sekarang,” sangkal Saskia.
“Aku tau kamu berbohong, Saskia. Tolong pencerahannya. Ini urusan pribadi aku dan sahabatmu. Jadi jangan ikut campur!” Lean menekan perkataannya.
__ADS_1
“Ya kalo gitu selesaikan sendiri, dong. Napa harus libatkan gue? Cari sana di tempat lain, tidak ada urusan sama gue di sini. Ngerti lu? Sekarang juga gue minta lu keluar, KELUAR!” teriak Saskia yang terlanjur emosi.
Tidak menunggu lama atau perintah kedua kalinya, Lean langsung berjalan keluar dengan cepat. Namun, tetap saja pria itu tidak percaya dengan yang diucapkan oleh Saskia. Sangat tidak mungkin jika gadis itu tidak tahu tentang keberadaan Caitlyn. Mereka bagaikan bulan dan bintang yang selalu berjalan beriringan pada waktu yang bersamaan.
Malam itu juga Lean memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia akan menemui sang nenek meskipun dirinya belum siap. Namun, Lean memilih untuk menjalani segala konsekuensinya. Dia tidak ingin terus-terusan lari dari masalah hidup.
Pikirnya, dia akan berbicara dengan Nenek Sanju dan memberi pengertian pada wanita lansia itu agar memberinya waktu untuk mencari Caitlyn lagi.
...***...
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Lean bangun dan bersiap ke kantor. Namun, sebelum itu dia ingin melihat keadaan neneknya terlebih dulu. Lean masuk dan mendapati sang nenek masih tertidur.
“Maafkan Lean, Nek. Lean belum bisa bawa Caitlyn ke sini. Kasih Lean waktu untuk mencarinya lagi. Lean janji akan menemukan Caitlyn secepatnya. Sabar yah, Nek.”
Lean mencium kening Nenek Sanju setelah itu dia segera keluar. Begitu Lean menghilang, Nenek Sanju membuka matanya. Wanita itu ternyata sudah bangun dan berpura-pura tidur.
“Kenapa kau jahat padanya, Lean? Nenek melihat cinta di matamu, tapi kenapa tidak ada cinta dari tutur katamu? Bukan Nenek yang akan kehilangannya tapi kau sendiri, Lean.”
Sementara itu Lean yang sudah di depan pintu hendak berangkat ke kantor, langkahnya tertahan sebentar saat seorang pelayan datang menghampirinya dan membawa sebuah paket berukuran kecil.
“Selamat pagi, Tuan. Maaf, ada paket untuk Anda.” Pelayan itu menunduk lalu menyerahkan paket kecil itu pada Lean.
Lean menerimanya lalu berjalan menuju garasi sambil membuka paketan tersebut. Saat kotak kecil itu terbuka, Lean tersentak kaget dengan jantung yang berdebar tak beraturan.
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...