
Seperti sedang menonton sebuah film yang menegangkan, seperti itulah yang dirasakan Lean saat ini. Pria tampan itu tersenyum puas sekali menyaksikan wajah-wajah kaget keluarga Vargas yang mendominasi, berbaur dalam ketegangan yang meresahkan di wajah Cecilia.
“Em, maksud kamu apa? Aku tidak mengerti!” seru Cecilia sedikit membentak, menyamarkan kegugupan yang menderanya.
Caitlyn tertawa anggun. Bumil cantik itu menatap Nyonya Vargas sekali lagi dengan sorot lembut penuh tanya.
“Maaf sebelumnya, Nyonya Vargas. Tapi saya ingin mengkonfirmasi bahwa benarkah Anda yakin hanya kehilangan satu putri? Saya kira harusnya dua, Nyonya. Karena saya merasa familiar sekali dengan keluarga Anda padahal kita baru bertemu malam ini? Apakah aku bisa datang dan mengaku jika aku putri kalian juga? Bukan kebetulan namaku Caitlyn–”
“Shut up! Hentikan omong kosongmu, Nona Muda!” sentak Cecilia sekali lagi.
“You know manners? Jangan memotong pembicaraan orang lain. Apalagi setahu saya, suami saya tamu kehormatan malam ini. Right, Pak Dokter?” tanya Caitlyn dan mendapat anggukan dari Dokter Vargas. Kembali dia menatap Cecilia. “Apa kau sengaja ingin mempermalukan keluarga barumu, Nona Cecilia?” Caitlyn menekan setiap katanya dengan geraman tertahan.
“I am Caitlyn, not Cecilia!” balas Cecilia tak kalah penuh penekanan.
Caitlyn berdecak sambil menggeleng. “Aku terbiasa memanggilmu seperti itu karena itu memang namamu. Dan ... setahuku, nama yang diberikan orangtuaku bukan nama pasaran sehingga dengan mudah menemukan seseorang yang kebetulan namanya sama denganku. Kalaupun ada, itu jarang sekali dan jelasnya bukan kau!” tandas Caitlyn tidak lagi peduli dengan raut wajah Nyonya Vargas yang campur aduk dan berubah-ubah.
Cecilia terbungkam dan kehabisan kata-kata. Dalam hati dia memaki serta meloloskan berbagai sumpah serapah untuk Caitlyn. Bumil cantik itu berhasil menjungkirbalikkan dunia Cecilia.
Tidak juga puas memberikan serangan panik bahkan mematikan sekaligus bagi Cecilia, Caitlyn kembali pada Nyonya Vargas.
“Maaf untuk ketidaknyamanan ini, Nyonya Vargas. Tapi sungguh, saya mengenal wanita itu dengan sangat baik!” Cecilia sontak terbelalak dengan darah yang mendidih. Gestur resah yang ditujukannya membuat satu sudut bibir Caitlyn terangkat. “Tanyakan hati Anda apakah benar dia putrimu atau bukan? Jika perasaan Anda berubah ragu, hubungi saya saja, Nyonya. Mungkin saya bisa membantu memberikan jawabannya. Nomor telepon saya masih ada pada Pak Dokter jika memang Anda perlu. Saya dan suami saya permisi, Nyonya Vargas. Selamat berbahagia dan selamat malam.”
Finally, Caitlyn sukses melemparkan bom waktu pada seluruh keluarga Vargas dan juga pada Cecilia. Tinggal menunggu saja kapan bom itu akan meledak. Mungkin saja selepas acara ini, besok, atau kapanpun itu, Caitlyn pastikan akan tetap ada ledakan dalam keluarga yang adalah keluarganya.
__ADS_1
Pasangan suami-istri itu bergegas meninggalkan stage. Caitlyn berbalik tanpa melirik Cecilia sedikitpun, sedangkan Lean malah sebaliknya. Pria tampan itu sedikit mendekat dan berbisik pada Cecilia.
“Jangan dulu memasang tampang terkejut seperti itu, Cecil. Bagaimana dengan gaun yang dipakai istriku? Cantik bukan? Tentu saja, karena dia adalah Caitlyn dan seharusnya dialah yang menjadi tokoh utama dalam acara malam ini. But, Nevermind. Bukan tokoh utama, tetapi dia berhasil mencuri semua perhatian malam ini, bukan?”
Selepas mengatakan itu, Lean segera mengikuti langkah istrinya, meninggalkan Cecilia dalam kekejutan yang berkali-kali lipat. Matanya membulat sempurna kala mengenali gaun indah yang melekat di tubuh Caitlyn.
What? Gaunku? Jadi ... jadi pelanggan VIP yang dimaksud karyawan bodoh itu, dia? Arrrgghh, dasar anak pungut sia*lan!
Cecilia sungguh dibuat meradang. Kedua tangannya terkepal merasa terkalahkan dengan Caitlyn lagi dan lagi. Saking kesalnya, dia tidak menyadari jika kini posisinya sedang terancam dalam keluarga barunya.
Cecilia langsung berlari kecil meninggalkan stage menuju ke kamar mandi. Dia ingin menghubungi ibunya yang belum juga membalas setiap pesan-pesannya.
Sementara itu, ekspresi Nyonya Vargas masih tetap sama saat pertama kali melihat Caitlyn. Wanita setengah baya itu masih saja terdiam seolah tidak mampu untuk mengungkapkan perasaan yang tengah menyambangi hatinya saat ini.
Dia baru tersadar saat suara panik Lean terdengar menggema memenuhi seisi ballroom.
“Sayang!”
Dokter Vargas menyadari itu langsung ikut meneriaki nama Caitlyn dalam versi sopan yang selalu dia suarakan.
“Nona Caitlyn!” teriaknya dan langsung berlari menuju tempat yang kini telah ramai dikerubungi oleh para tamu undangan. Jiwa dokternya serta merta berfungsi secara alamiah.
Nyonya Vargas baru menyadari hal itu langsung ikut berlari menuruni stage dengan perasaan panik yang luar biasa. Jantungnya yang sedari tadi telah berdetak tak karuan, kini semakin menjadi gila.
__ADS_1
“Cacaku,” ucapnya dalam rasa yang sarat akan kecemasan.
Sementara itu Lean yang tengah panik, berteriak memanggil Jerry seperti orang kesetanan. Begitu asisten itu datang, dia sigap menyampaikan jika ambulance telah tersedia di luar.
Tidak perlu heran karena sebelumnya Lean sudah mengantisipasi ini semua. Dia tahu persis bahwa istrinya akan shock mengetahui ini semua. Lean sudah paham betul jika ketegaran dan ketenangan yang ditujukan oleh istrinya tadi, hanyalah bakat drama yang sudah sering dia mainkan saat menghadapi Sania dulu. Oleh karena itulah dia menyiapkan semuanya atas bantuan sang asisten.
Lean segera bangkit dan membawa istrinya dengan langkah lebar dan sedikit cepat menuju keluar. Bayangan Hadya dan Nenek Sanju yang akan marah besar menghantuinya.
“Sadarlah, sayang. Ini salahku. Maafkan aku,” ucap Lean saat mereka sudah duduk di dalam ambulans ditemani dua petugas medis di dalam sana.
“Jangan panik, Tuan. Nona Caitlyn akan baik-baik saja.” Ucapan dari suara berat itu membuat Lean yang sedari tadi menunduk mencium telapak tangan Caitlyn, sedikit kaget dan mengangkat kepalanya.
Dia kira yang ada di dalam sana hanya dua petugas medis, ternyata Dokter Vargas dan ibunya–Nyonya Vargas juga ada di sana. Wanita setengah baya itu bahkan menyentuh kaki mulus Caitlyn dengan lembut.
“Kalian ada di sini? Please, jangan tinggalkan acara ini. Ini pesta kalian. Saya bisa mengurus istri saya sendiri.” Lean berbicara sedikit enggan.
Pria itu tidak ingin berbicara pada siapapun saat ini. Dia ingin semua perhatiannya hanya terpusat pada wanita cantik yang tengah terbaring tak sadarkan diri di sana.
“Bagaimana bisa saya ada di dalam sana dan melanjutkan acaranya, sementara hati saya ada di sini. Maaf, Tuan Sanjaya. Tapi saya kira istri Anda telah membawa separuh dari jiwa saya bersamanya.”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1