Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 87. Tabungan Rindu


__ADS_3

Sudah lebih dari sejam, Lean tibah di rumahnya. Akan tetapi, selama itu pula baik Hadya maupun Nenek Sanju dan yang lainnya belum melihat batang hidung pria itu sedikit pun.


Sejak menginjakan kakinya di rumah, Lean langsung berlari ke kamar miliknya bersama Caitlyn. Dan hingga saat ini, dia belum juga keluar malah betah di dalam sana. Apalagi alasannya kalau bukan berduaan dengan Caitlyn.


Hadya melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 1 siang hari. Semua keluarga sudah sangat lapar dan hanya menunggu pasangan dimabuk cinta itu untuk keluar kamar.


“Panggilkan mereka,” perintah Hadya pada beberapa pelayan yang berdiri di dekat sana.


Saat ini mereka semua telah duduk menunggu di ruang makan. Rendi pun sudah turut hadir di sana. Tinggal Lean dan Caitlyn saja yang belum ada.


“Ibu makanlah saja duluan dan minum obatnya. Tidak udah menunggu mereka.” Hadya berbicara pada Nenek Sanju.


“Tidak, Hady. Ibu ingin menunggu mereka berdua,” tolak Nenek Sanju.


Hadya berdecak. “Dia tidak akan keluar sebelum keinginannya selama seminggu ini tercapai, Bu. Sudahlah, Ibu duluan saja.”


Hadya seolah bisa menebak apa yang sedang dilakukan anak dan menantunya di atas sana. Tak hanya dia, tentunya yang lain pun sudah tahu apa yang dilakukan pasangan suami-istri jika tidak bertemu berhari-hari. Apalagi sebelumnya mereka telah berpisah selama 2 bulan.


Oh, jangan harap untuk Lean bisa cepat keluar. Tabungan rindu selama ini sudah terlalu penuh dan Lean butuh waktu yang lama untuk meluapkannya.


“Ibu tetap ingin menunggu mereka. Titik!” Nenek Sanju bersikeras.


“Ayo lah, Bu. Jangan keras kepala, biar Hadya cukup pusing saja dengan Lean, jangan dipusingkan lagi dengan sakitnya ibu. Kapan Hadya bisa hidup tenang kalau kalian semua keras kepala begini?” keluh Hadya.


“Kau tidak ikhlas sekali mengurus ibu. Baiklah, ibu juga tidak akan mengharapkan bantuanmu lagi, jadi kau tidak perlu untuk repot-repot lagi.”


Bukannya mengalah, Nenek Sanju malah bertingkah dan membuat Hadya hanya bisa menggeleng sambil memijit pelipisnya.


Apa apa dengan keluargaku ini, astaga. Tidak cucu, tidak neneknya, sama saja ....


Sementara itu di dalam kamar milik Lean dan Caitlyn, keduanya kini sedang beristirahat setelah aktivitas olahraga siang hari yang begitu panas mengalahkan teriknya matahari di luar sana. Ruangan full AC itu bahkan seolah tidak mempan untuk memanilisr suasana panas yang tercipta. Buktinya tubuh polos pasangan suami-istri itu tengah bermandikan peluh.


“Terima kasih, Sayang,” ucap Lean yang tidak lupa memberikan kecupan sayang di kening Caitlyn.


Bumil cantik itu berdecak. “Kau jahat. Tadi katanya lemes. Eh, malah aku yang sekarang dibikin lemes. Modus banget, sih.”


Caitlyn memasang wajah cemberutnya. Wanita itu cantik itu kini sedang bergulung manja dalam dekapan suaminya.

__ADS_1


Lean terkekeh kecil. “Tapi kamu suka, ‘kan?” godanya sembari menyentuh bagian tubuh Caitlyn yang menjadi favoritnya.


Meskipun sempat mende*sah nikmat, tetapi Caitlyn tidak ingin melanjutkan ini. Dia tidak ingin Lean membuatnya semakin tidak berdaya lebih dari saat ini. Sungguh dia tidak lagi sanggup.


“Stop it, Al! Aku lelah, biarkan aku tidur sebentar saja, yah.” Caitlyn merengek dengan mata terpejam.


“Ya, tidur lah. Maafkan aku, Sayang,” ucap Lean sambil mencium kepala Caitlyn. Tidak lupa tangannya bergerak mengelus lembut punggung mulus istrinya yang tidak berbalut apa pun itu.


Lean jadi merasa kasihan karena telah membuat istrinya selelah itu. Dia memang tadi hanya berpura-pura lemah agar mendapat perhatian dari Caitlyn. Muntahnya pagi tadi pun tidak begitu parah seperti sebelumnya. Hanya saja dia menggunakan kesempatan itu untuk mendapat perhatian lebih dari sang istri.


“I love you, Caitlyn,” ucapnya begitu pelan dan sangat tulus.


Dia pikir wanita hamil itu sudah terlelap, nyatanya Caitlyn masih sempat untuk membalas kata cinta darinya.


“Love you too, Al." Suara Caitlyn terdengar berbisik dan begitu lemah hampir tak terdengar.


“Masih bangun? Katakan sekali lagi," pinta Lean.


“Love you too, Al.” Suaranya masih bisa didengar meski sangat pelan dan hampir hilang.


“Love you.” Sampai di tingkat ini sudah tidak bisa lagi mendengar apa-apa. Bibirnya saja yang tampak bergerak lambat dan itu pun samar.


“Again, Honey.”


Dan kali ini sudah tidak ada lagi balasan dan suara yang terdengar. Hanya terdengar terpasang napas hangat dan teratur. Lean jadi yakin sekarang bahwa istrinya benar-benar telah tertidur.


Dia lalu bergeser pelan dan menjauh. Gerakannya sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Caitlyn. Dia pun bangkit dan menarik selimut menutupi tubuh polos istrinya. Setelah itu, Lean memungut pakaian mereka berdua yang berserakan di lantai, lalu melangkah menuju kamar mandi.


Dua puluh menit kemudian, Lean sudah tampak lebih segar. Pria itu kembali mendekat ke arah ranjang besar di kamarnya. Namun, baru saja hendak menunduk dan mencium Caitlyn yang masih lelap kala itu, terdengar ketukan pada pintu kamar.


Lean mengurungkan niatnya dan secepat kilat berlari ke arah pintu. Dia tidak ingin hal itu sampai mengusik tidur Caitlyn.


“Ada apa?” tanyanya setelah pintu terbuka dan dia mendapati seseorang pelayan berdiri di sana.


Pelayan itu sedikit menunduk dan menjawab pertanyaan tuan muda keluarga itu.


“Maaf, Tuan muda. Tuan besar dan Nyonya sudah menunggu Anda dan Nona sedari tadi di ruang makan.”

__ADS_1


“Oh, ya. Saya akan segera turun.”


Lean langsung kembali menutup pintu. Dia melangkah cepat ke arah ranjang dan mengecup singkat kening Caitlyn barulah dia menyusul sang pelayan ke ruang makan.


Sampai di sana, semua orang dibuat tak bisa berkata-kata begitu melihat Lean yang datang sendirian tanpa Caitlyn.


“Mana Caitlyn," tanya Nenek Sanju.


“Dia ketiduran, Nenek,” jawabnya singkat, apa adanya, dan tanpa beban.


“Kau membuatnya kelelahan?” tanya sang nenek sekali lagi.


Tidak merasa bersalah salam sekali, Lean justru tersenyum lebar dan memberi satu kedipan mata untuk neneknya. Nenek Sanju tidak bisa lagi untuk bertanya lebih lanjut. Wanita lanjut usia itu hanya geleng-geleng kepala.


“Jangan terlalu sering membuatnya lelah seperti itu Lean. Ingat di sedang hamil muda.” Sang nenek berpesan.


“Siap, Nenek. Lagian baru hari ini saja, tidak setiap hari. Orang kita juga sedang pisah rumah. Maklum lah, Nenek. Rindu itu berat.”


Perkataan Lean membuat Rendi yang duduk di sebelahnya tertawa kecil.


“Hei, Bro. Maaf, sudah membuatmu menunggu," sapa Lean.


“Sama sekali bukan masalah, Tuan.” Rendi memaklumi.


Hadya mengembuskan nafasnya kasar dan langsung menarik piring di depannya. “Seperti yang kita duga, Bu. Ayo, makanlah! Cucumu itu butuh energi baru,” sindir Hadya.


Lean terkekeh tidak peduli. “Papa pengertian sekali.”


“Setelah ini, antarkan atasanmu segera pulang, Jerry! Kelamaan di sini saya khawatir dengan kondisi menantuku!”


“Papa,” geram Lean.


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_1


__ADS_2