
Hari masih tampak gelap dan mentari belum juga mengintip dari ufuk timur. Kabut bahkan masih bertakhta menyelimuti ibu kota, memberi suasana syahdu di pagi buta.
Panggilan alam membangunkan Caitlyn dengan terpaksa. Wanita cantik itu membuka matanya dan hendak turun dari ranjang menuju kamar mandi, tetapi kemudian dia menyadari jika tidak ada sang suami yang tertidur di sampingnya.
Caitlyn mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar tetapi tidak nampak sosok sang suami di sana. Matanya berpindah pada jam dinding besar yang terpatri di dalam kamar. Waktu kini menunjukkan pukul 5 pagi.
“Ke mana dia pagi buta begini?” tanya Caitlyn entah pada siapa.
Bumil cantik itu bangkit dan melangkah ke kamar mandi. Sampai di sana matanya menelisik setiap sudut kamar mandi sembari memanggil-manggil suaminya, tetapi tidak jua dia temukan sosok Lean di sana.
“Al, kamu di mana, Al?” Caitlyn masih terus memanggil. “Apa dia balik ke apartemen sepagi ini? Gak mungkin, deh.” Caitlyn menolak pemikirannya sendiri.
Dia lalu menuntaskan panggilan alamnya terlebih dahulu. Tidak butuh waktu lama, dia pun kembali dan mencari-cari keberadaan sang suami hingga ke balkon.
“Sayang! Al ...!”
Semua tempat di dalam kamar itu telah dia periksa, tetapi Lean tak juga tampak. Caitlyn terpikirkan untuk menelpon suaminya.
“Apa mungkin dia sudah kembali ke apartemen? Tapi sejak kapan? Apa dari malam atau baru pagi ini?” Caitlyn bermonolog sendiri.
Dia lalu mancari ponselnya untuk dapat menghubungi Lean. Rasa kantuk wantia itu seketika hilang, padahal tadi dia masih ingin kembali dan tidur.
Saat bunyi panggilan nada sambung terdengar, pada waktu yang bersamaan itu pula dering ponsel Lean terdengar. Caitlyn menoleh ke atas sofa dan mendapati benda pipih persegi itu tengah bergetar dan terus memekik di sana.
“Loh, itu ponselnya ada. Berarti dia masih di sini, dong. Tapi ke mana?” Caitlyn lalu mematikan panggilan.
Wanita cantik itu bangkit dan meraih jubah tidur membungkusi gaun tidurnya yang tampak tipis dan sedikit transparan. Dia pun melangkah keluar dari kamar dan mencari keberadaan sang suami.
Menuruni undakan tangga satu per satu dengan mata yang bergerak ke sana dan ke mari, tetapi belum juga terlihat. Caitlyn lalu melangkah menuju ke ruangan keluarga terlebih dahulu. Masih kosong yang dia temukan.
__ADS_1
“Ke mana, sih, dia?”
Caitlyn lalu beralih ke ruang tamu. Tidak juga ada. Dia pun menengok ke keluar lewat tirai yang disibak kecil. Nihil.
“Apa di ruang kerja papa, yah?” Lagi dia membawah langkahnya ke sana.
Namun, belum juga sampai di ruang kerja sang papa mertua, Caitlyn menghentikan langkahnya saat melewati ruangan besar dan kosong yang bersebelahan dengan ruangan kerja Hadya. Bagian luar ruangan besar itu merupakan teras bagian samping yang lebih besar dari teras bagian depan.
Mendengar suara-suara orang yang sedang mengobrol dari luar, Caitlyn lantas menoleh dan mendapati pintu keluar di sana terbuka. Pantas saja suaranya hingga ke dalam.
Penasaran, dia pun melangkah mendekat ke arah pintu. Ruangan yang dikelilingi cermin transparan itu tampak selalu gelap tanpa cahaya lampu, membuat dia Caitlyn dapat menatap keluar secara jelas.
Di sana papa mertua bersama sang suami sedang berbicara dengan puluhan pria berbadan kekar dan berpakaian serba hitam, yang tengah berbaris rapi. Dia tahu bahwa beberapa di antara mereka adalah para penjaga di kediaman mewah itu karena wajah-wajah mereka yang tak lagi asing.
Namun, sebagian besar lagi tidak Caitlyn kenali. Dan satu hal yang membuatnya bingung, kenapa jumlahnya semakin banyak? Dia tahu persis jika jumlah penjaga di kediaman mereka tidak sebanyak itu.
“Ada apa sebenarnya? Sepertinya ada masalah sampai jumlah mereka ditambah.” Caitlyn menerka-nerka.
“Selamat pagi, Nona. Anda sudah bangun sepagi ini?” sapa Dita yang entah muncul dari mana.
“Auwh,” ringis Caitlyn bersamaan dengan suara cermin yang saling terbentur. Bumil itu hampir saja oleng karena kaget dan berbalik tiba-tiba membuatnya kehilangan keseimbangan. Untung saja dia langsung menahan pintu dan terbentur di sana.
Suara gaduh itu seketika menyita perhatian Lean dan juga Hadya.
“Sayang?"
“Caitlyn?”
Dua pria berbeda generasi itu menyerukan bama Caitlyn bersamaan dan langsung berlari mendekat.
__ADS_1
“Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud mengagetkan Anda. Sekali lagi maafkan saya, Nona.” Pelayan itu meminta maaf berulang kali dengan kelapa yang tertunduk.
Caitlyn tidak sempat untuk membalas ucapan pelayan itu karena Lean yang langsung memeriksa seluruh tubuhnya.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang? Kenapa bisa ada di sini” tanya Lean panik. Dia langsung memeluk tubuh Caitlyn dengan posesif.
“Aku tidak apa-apa, Al. Aku ke sini karena mencarimu. Kamu tiba-tiba tidak ada di kamar jadi aku cari,” jawab calon ibu muda itu apa adanya.
“Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir. Lain kali diam di kamar saja, Sayang. Aku hanya di sini sebentar saja,” ucap Lean merasa bersalah.
Sementara itu Hadya menatap sang pelayan dengan wajah marah karena hampir saja mencelakai menantu dan calon cucunya.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah wilayah kerjamu hanya sebatas di dapur? Jika tugasmu membersihkan ruangan, mungkin akan terdengar masuk akal. Tapi tugasmu hanya memasak. Kenapa sampai bisa ada di sini dan pada waktu sepagi ini pula?” Hadya menatap curiga.
“Em ... itu ... saya ... tadi saya melihat Nona turun dari tangga dan saya mengikutinya ke sini, Tuan. Tapi saya tidak bermaksud untuk mengagetkan Nona sama sekali, Tuan. Saya bersumpah,” ucap Dita dengan suara bergetar.
Kening Hadya mengerut. “Kenapa kau begitu ketakutan? Saya hanya bertanya.” Entah mengapa dia mendadak curiga pada pelayan wanita yang cukup dekat dengan menantunya itu.
“Udah, Pa. Biarkan dia pergi. Caitlyn tidak kenapa-kenapa, kok. Dia juga tidak sengaja.” Caitlyn menyelamatkan Dita dari tatapan tajam Hadya dan Lean.
Hadya menuruti kemauan putrinya dan meminta pelayan itu segera pergi dari sana. Dia juga meminta Lean mengantarkan Caitlyn ke kamar dan dia sendiri kembali mengurusi para penjaga yang masih berdiri di luar sana.
Setelah tiba di kamar, Caitlyn langsung bertanya tentang jumlah para penjaga yang semakin bertambah. Dan ada kepentingan apa hingga Lean dan Hadya turun tangan memberi arahan di pagi buta itu.
“Tidak ada apa-apa, Sayang. Papa hanya meningkatkan keamanan rumah ini karena kamu sedang mengandung penerus Sanjaya jadi keamananmu untukmu harus lebih diperketat,” jawab Lean tidak pada intinya. Namun, tidak sepenuhnya salah juga karena memang seperti itu.
“Aku harap tidak ada yang kalian sembunyikan dari aku.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...