
Di tempat lain dalam sebuah ruangan bernuansa gelap, seorang wanita setengah baya sedang duduk di depan sebuah televisi berukuran tidak terlalu besar. Di depannya terdapat sebuah meja yang dipenuhi dengan beberapa botol alkohol serta bungkusan rokok.
Wanita yang berusia hampir setengah abad itu duduk angkuh dengan kaki yang saling berpangku, kemudian tertawa senang kala menonton sebuah tayangan berita di pagi itu.
“Selamat, Cecilku sayang. Selamat menikmati hari-hari bahagiamu. Kita akan bertemu sesekali untuk melepas rindu," ucap wanita yang tidak lai adalah Sania. “Dengan dia membongkar kebenaran jika kau bukan putrinya, hal itu akan menjadi batu loncatan untukmu, Sayang. Lihatlah, apa yang terjadi sekarang? Kau bahkan mendapatkan jauh dari apa yang pernah dia berikan.” Wanita itu tampak puas sekali.
Dia kemudian bangkit dari duduknya sambil menggenggam segelas red wine. Wanita itu berjalan menghampiri jendela kaca yang terhalang oleh tirai tipis, yang bisa memperlihatkan pemandangan di kaur sana meskipun samar.
“Mereka pikir bisa mengelabui dan mengalahkan aku?” Tertawa keras. “Sania tidak sebodoh dan selemah yang kalian pikir wahai, Tuan-tuan Sanjaya yang bodoh. Aku Sania ... Sania yang bisa melakukan apapun dan selalu mendapatkan apapun yang diinginkan.” Masih saja tertawa.
Wanita itu lalu menghabiskan wine di tangannya dalam sekali teguk. Dia kembali lagi ke tempatnya dan menyalakan sebatang rokok lalu duduk dengan gaya angkuh.
“Heh, menunggu dia memberikan keputusan? Kelamaan. Aku tahu jika itu tidak akan mudah dan ibunya yang sudah mau mati itu, tidak akan pernah setuju. Hah, mereka pikir aku hanya akan bersabar menunggu permainan konyol mereka? Ha-ha-ha, licikmu belum bisa sebanding dengan Sania, Hadya sayang.” Menghisap batang rokok kemudian meniupkan asapnya ke udara.
Mata Sania melirik cahaya yang muncul dari layar ponselnya. Dia lalu meraih benda pipih persegi itu dan mendapati sebuah pesan chat masuk di sana. Wanita itu tersenyum kala membaca pesan yang dikirimkan oleh putrinya.
Sania ingin sekali menghubunginya lewat panggilan, tetapi dia sadar betul tidak bisa melakukan itu. Cecilia butuh waktu untuk menyesuaikan banyak hal.
“Kau harus sabar dan menahan diri, Sania. Jika Cecil sudah punya waktu, dia pasti akan menghubungimu.” Memejamkan mata dan bersandar pada sandaran sofa. “Oh, astaga ... pagi-pagi begini aku sudah mabuk. Aku harus istirahat sebentar supaya nanti malam aku bisa menghadiri acara keluarga baru Cecilia.”
Sania dengan sedikit pusing berjalan menuju ke kamar dan hendak beristirahat. Sejak kemarin hingga malam, dia sibuk mempersiapkan hari yang luar biasa ini. Sungguh, dia butuh istirahat sejenak. Kerja kerasnya seharian kemarin membuahkan hasil.
Namun, baru akan membuka pintu kamar, tiba-tiba saja tiga orang pria masuk dan menghentikannya. Sania terkejut dan berteriak, tetapi salah satu dari mereka menutup mulutnya.
“Diam dan ikuti saja kami, Nyonya, jika Anda sayang terhadap nyawa anda!” ucap salah sat dari tiga pria itu dengan tegas.
Mereka lalu membawa paksa Sania keluar dari rumah itu. Dalam hati Sania bingung dari mana orang-orang ini menemukannya? Pasalnya wanita itu sudah meninggalkan rumahnya yang didatangi oleh Lean dan Hadya beberapa hari lalu. Rumah yang sekarang adalah tempat tinggal baru yang sudah dia pikirkan akan jauh dari jangkauan dua pria Sanjaya itu.
__ADS_1
Nyatanya, masih saja ada yang menemukan dirinya. Sania terus memberontak tetapi mereka menahannya dengan kuat. Tiga pria itu memasukkannya di mobil dan segera melaju meninggalkan tempat tinggal tersebut.
“Siapa kalian?” Sania baru bisa bersuara karena orang di sebelahnya baru melepaskan bekapannya di mulut wanita itu saat mobil sudah melaju kencang.
“Jangan kencang-kencang, Nyonya! Kami tidak tuli.” Pria di sampingnya menanggapi karena suara Sania yang begitu kencang.
“Sumpal saja mulutnya,” seru yang satunya dari kursi depan.
“Kurang ajar! Heh, bang*sat, kalian tidak tau siapa saya? Saya adalah Nyonya Sanjaya. Apa kau tidak pernah melihat wajahku di televisi dan surat kabar?” ucap Sania setelah berteriak dengan percaya diri.
Keberaniannya menciut ketika tiga pria di sana tertawa keras. Sania menggeser duduknya hingga menempel dengan kaca mobil.
“Pantas saja kau sedang mabuk. Jangan banyak berkhayal, Nyonya. Sebaiknya kau tidur saja karena setelah ini kau butuh banyak energi untuk menghadapi permainan dari tuan.” Yang sedang mengemudikan mobil saat itu memperingati Sania.
“Tuan? Tuan siapa yang kalian maksud?” tanya Sania lagi.
Selang dua puluh menit, mobil pun tiba di halaman sebuah rumah mewah. Sania terkejut begitu turun dari mobil dan matanya membaca sebuah papan nama di dekat pintu masuk yang bertuliskan ‘Kediaman Sanjaya’.
Hati Sania mendadak senang karena dia pikir Hadya yang menyuruh mereka membawanya ke tempat ini.
“Dia menepati janjinya untuk membawaku kembali? Di rumah yang baru? Rumah yang berbeda dari keluarganya? Ini sungguh di luar dugaanku,” ucap Sania dengan wajah takjub serta bahagia.
Namun, kebahagiaan itu hilang seketika kala dua orang pria tadi datang dan menariknya dengan paksa.
“Benar sekali, Nyonya. Ini di luar dugaan Anda.” Keduanya tertawa dan dengam kasar menarik Sania.
“Kenapa kau menarikku? Lepaskan aku! Hadya akan datang dan menghukum kalian!” teriak Sania yang membuat dua pria itu semakin tertawa.
__ADS_1
Kekesalan Sania berubah bingung saat dirinya tidak dibawa masuk ke dalam rumah melainkan dibawa ke arah belakang dengan melewati jarak yang lumayan panjang. Wanita itu terkejut melihat sebuah bangunan cukup besar di belakang rumah utama.
Dari luar terlihat indah, tetapi begitu masuk Sania hampir tidak bisa bernapas karena kurangnya udara dan kondisi tempat yang kotor. Sania mulai panik. Belum cukup sampai di sana, mereka membuka karpet yang menutupi sebuah pintu pada lantai. Di dalamnya ada tangga menuju ke bawah.
“Apa-apaan ini? Kenapa saya dibawa ke sini?” teriak Sania tidak terima.
“Karena Anda cocok untuk berada di sini, Nyonya. Bukankan ini di luar dugaan seperti yang Anda katakan tadi?”
Sania sudah bisa menebak ke arah mana dirinya akan dibawa. Benar, mereka lalu menyeretnya menuruni tangga itu dan terus masuk ke bawah sana. Sampai di sana, dia dimasukkan lagi ke sebuah ruangan.
Betapa kagetnya Sania kala melihat seorang wanita yang tidak asing lagi di matanya.
“Kau? Kau di sini? Apa kau sudah melakukan pekerjaanmu?” cecar Sania.
“Nyonya, saya menyesal menerima bantuan darimu. Tolong bebaskan saya dari sini, Nyonya!” seru wanita yang tidak lain adalah Dita.
Sania ingin menjawab tetapi kalau cepat dengan suara salah satu pria di sana.
“Kau sudah punya teman, bukan? Selamat berjumpa dan saling menolonglah satu dengan yang lain. Saya ingin mengingatkan saja supaya jangan berteriak karena itu hanya akan membuang-buang tenaga kalian. Sebaiknya duduk tenang, istirahatkanlah tubuh agar nanti kalian kuat menerima hukuman dari Tuan!” ucap salah satu pria itu dengan tegas.
Selanjutnya pintu ditutup dan yang terdengar hanyalah teriakan Sania yang tidak digubris sama sekali. Dua pria itu kemudian menemui Jerry yang sedang berada di bangunan rumah utama.
“Sudah beres, Tuan. Dan ini ponsel wanita itu.” Berkata sambil menyodorkan sebuah ponsel pada Jerry.
“Baiklah, terima kasih! Awasi mereka, saya akan kembali bersama tuan muda nanti malam atau besok,” ucap Jerry dan dia pun segera pergi dari sana.
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...