Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 97. Menahan Diri


__ADS_3

Malam telah datang dan Lean masih berada di rumah utama. Sejak siang tadi, dia tidak kembali lagi ke kantor maupun ke apartemennya. Pria itu menghabiskan banyak waktu berbicara dengan sang ayah hingga gelap tiba.


Dia baru bisa kembali ke kamar dan membersihkan diri. Pria itu belum lagi melihat istrinya setelah siang tadi di kamar Nenek Sanju. Saat keluar dari ruang ganti, Lean mendapati Caitlyn yang juga baru masuk ke kamar.


“Dari mana, Sayang?” tanyanya.


Caitlyn tersenyum dan langsung mendekat pada suaminya. “Dari mana lagi memangnya? Aku seharian bercerita di kamar nenek.” Dia pun lalu memeluk Lean dengan sikap yang manja. “Sudah beres urusannya sama papa?” Bertanya dengan mata yang berkedip-kedip menggoda suaminya itu.


Biasanya Lean akan tertawa tetapi kali ini dia menanggapinya hanya dengan sebuah senyum kecil. Melihat itu Caitlyn merasa jika suaminya sedang ada masalah dan tidak tertarik sama sekali dengan apa yang dia lakukan.


“Sudah, Sayang.” Lean tersenyum kecil dan membalas pelukan Caitlyn. Tidak lupa dia memberikan kecupan singkat di keningnya. Wait, perlakuan manis itu tidak cukup bagi Caitlyn. Tanpa menyadari perubahan raut wajah istrinya, Lean menoleh pada jam dinding yang terdapat dalam kamar itu. “Sudah makan?“ tanyanya sebab waktu kini menujukkan pukul 8 malam.


Caitlyn menggeleng tanpa suara. Wanita itu langsung melepaskan pelukannya dan beranjak menuju tempat tidur. Dia lalu berbaring dengan posisi membelakangi suaminya.


Kening Lean mengkerut melihat tingkah lakunya istrinya itu. Sedikit yang dia pahami bahwa Caitlyn sepertinya sedang marah. Dia pun mendekat dan langung duduk di sampingnya.


“Kenapa belum makan? Ayo, bangun dan kita makan bersama!” ajak Lean tetapi Caitlyn menolak.


“Aku tidak lagi berselera. Aku sudah tidak lapar,” sahutnya dengan nada ketus.


“Kau sedang marah padaku?” To the poin tanpa basa-basi, tetapi Caitlyn tidak juga menjawab. “Maafkan aku jika ada berbuat salah lagi.” Lean mengembuskan napasnya dengan kasar lalu bangkit berdiri dari sisi Caitlyn. “Baiklah jika kau masih marah. Aku pergi–”

__ADS_1


“Lean,” rengek Caitlyn seketika. Wanita itu langsung bangun dan duduk di atas ranjang. “Kenapa kamu menyebalkan sekali hari ini, sih? Aku sudah sabar nungguin kamu dari siang sampe malam, loh, ini. Kalau kamunya sedang di kantor atau di apartemen, aku gak peduli. Tapi ini kamu lagi di rumah dan aku gak bisa liat kamu seharian. Aku ngerti kamu sedang kerja sama papa. It’s ok, aku tidak akan mengeluh sama sekali. Aku juga tidak akan cemburu dengan pekerjaan kamu atau cemburu sama papa. No! Tapi setelah itu jangan bersikap tak acuh seperti ini. Apa aku tidak boleh marah dengan sikap cuek kamu? Aku baru ngambek dikit aja sudah main langsung pergi. Jadi seperti itu kamu sekarang? Segitu aja sayang kamu ke aku? Gak cinta lagi sama aku? Iya?” sembur Caitlyn dengan nada meninggi tiba-tiba.


Wanita hamil itu tanpa jeda mengeluarkan segala unek-uneknya. Lean mendadak bingung karena perubahan sikap sang istri yang begitu cepat berganti hanya dalam hitungan detik.


Apa semua wanita hamil seaneh ini?


Namun, di tengah kebingungannya, Lean mendadak merasa senang karena Caitlyn yang menujukkan cinta dan perhatian lewat kekesalan. Tanpa kata, dia lalu ikut naik ke tempat tidur dan duduk dibelakang istrinya. Lean langsung memeluk tubuh Caitlyn dari belakang, kemudian bersandar di pundak wanita cantik itu.


Beberapa saat keduanya terdiam dengan posisi itu karena Lean yang sengaja tidak ingin bicara. Dia hanya ingin menyalurkan segala cintanya lewat pelukan itu. Caitlyn pun mendadak tenang seketika.


“Maafkan sikapku hari ini. Aku mengaku salah dan karena itu hukumlah aku sesukamu.” Lean tidak ingin membela diri. Dia sadar telah menyakiti perasaan wanita hamil itu.


Beberapa detik menunggu jawaban istrinya, Lean tidak mendengar sahutan apapun. Namun kemudian dia merasakan basah di lengannya yang masih memeluk Caitlyn. Lean sedikit memiringkan wajahnya dan dia terkejut mendapati air mata bercucuran dari manik indah bumil itu.


“Aku tidak mau menghukum kamu. Aku hanya ingin mendengar jika kau mencintaiku,” sahut Caitlyn di sela-sela tangisnya.


Lean langung melepas pelukannya dan menjauhkan Caitlyn agar dia bisa menatap wajah cantik itu.


“Apa kata cinta terlalu penting? Dengan sikapku saja tidak cukup untuk membuktikannya?” tanya Lean dengan lembut agar Caitlyn tidak tersinggung lagi.


“Tidak penting bagimu, tapi penting bagiku. Setiap hari aku mendapat kata cinta beribu-ribu kali dalam sehari. Tapi di hari ini tidak satu kali pun. Kau bahkan bersikap acuh. Tidak ada perasaan rindu yang sebulan ini terus aku dengar. Mana aku mengerti dengan sikap acuh seperti tadi–”

__ADS_1


Lean menyerah dengan menahan diri sedari tadi. Bukan tanpa sengaja dia bersikap demikian. Selain tidak ingin kebablasan dan membuat Caitlyn kelelahan, Lean juga ingin menjaga pikirannya agar tetap tenang dalam rencana menghadapi Sania.


Pikirannya memang sedang terganggu dengan apa yang diceritakan ayahnya siang tadi, juga apa yang dia lihat. Di mana Sania yang menyewa seseorang untuk menyamar sebagai kurir dan mengantarkan paket pada istrinya.


Isi dari paket itu sendiri membuat emosi Lean bergejolak hebat tetapi mati-matian dia menahan diri. Bayangkan saja dalam kotak itu terdapat boneka bayi berlumur darah. Di atasnya terdapat selembar kertas bertuliskan ‘kau dan bayimu akan mati!’. Tidak hanya itu saja, di dalamnya bahkan ada lagi sebuah benda yang menghasilkan suara tawa mbak kunti yang menggelegar.


Sania benar-benar ingin membunuh mental Caitlyn. Dia ingin agar wanita itu depresi dan menyakiti dirinya sendiri. Jangan tanyakan lagi emosi Lean. Dia menyalahkan ayahnya yang waktu itu menyelamatkan Sania dari cengkeramannya. Waktu itu Lean ingin sekali menghabisinya, tetapi dihentikan oleh Hadya lagi dan lagi.


Oleh karena pikiran dan emosi itulah, Lean ingin menenangkan diri agar fokus membalas dan mencegah tindakan Sania selanjutnya. Namun, semua itu kembali jadi perkara yang nanti saja. Tidak sepenting saat ini yaitu menyenangkan hati Caitlyn, serta memuaskan keinginannya.


Pertahanan yang dibangun Lean sedari tadi, runtuh sudah. Seorang Caitlyn terlalu sulit untuk diacuhkan. Tidak dulu maupun sekarang, Lean selalu takluk soal hasratnya pada wanita satu itu.


“Aku mencintaimu, Caitlyn,” ucap Lean sela-sela ciumannya. “Sangat besar mencintaimu.”


Meskipun Lean membuatnya hampir kehabisan napas, tetapi itu justru membuat Caitlyn merasa senang. Memang ini yang dia inginkan. Tidak cukup sampai di situ, Caitlyn bahkan menginginkan sentuhan Lean lebih dari ini. Oh, tentu saja Lean mengabulkannya.


“Sadarkan aku jika aku menyakitimu, Sayang,” ucap Lean yang entah sejak kapan telah menanggalkan pakaian mereka berdua.


“Dan aku tahu kau tidak akan pernah menyakitiku.”


Bisikan lembut itu membuat Lean sejenak melupakan tentang si iblis Sania.

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2