Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 46. No One is More Deserving Than You


__ADS_3

Bel berbunyi berulang kali di sebuah hunian mewah, membangunkan pemiliknya yang masih terlelap. Dia–Caitlyn, begitu terusik dengan keributan yang entah dibuat oleh siapa di pagi buta seperti ini.


Bumil cantik itu terbangun dan membuka mata dengan perlahan. Ditengoknya jam dinding besar yang terpampang pada sebagian dinding kamarnya. Waktu menunjukkan pukul 04.30 am.


“Siapa sih yang datang jam segini? Papa atau anak buahnya lagi?”


Caitlyn bergegas bangun dari tempat tidur dan dengan langkah gontai melangkah keluar menuju ruang tamu. Tempat tinggalnya yang baru itu sangat besar dan luas. Untuk mencapai pintu di depan sana, Caitlyn harus berjalan sedikit jauh apalagi dari dalam kamar.


Begitu sampai, dia langsung membuka pintu dan mendapati Hadya di sana.


“Papa? Pagi bener datang ke mari, Pa.” Caitlyn berbicara dengan sedikit tidak jelas karena menguap.


“Maaf, papa sudah mengganggu waktu istirahat kamu. Tapi papa tidak bisa datang siang. Itu beresiko, Nak.”


Caitlyn mengangguk-angguk dan mempersilahkan ayah mertuanya untuk masuk, kemudian membuatkan secangkir kopi untuk pria paruh baya yang sudah dia anggap seperti ayahnya.


FYI, dalam sekejap dengan sekali perintah saja, seisi penthouse sudah dipenuhi dengan berbagai perlengkapan untuk Caitlyn. Bumil cantik itu tidak perlu repot-repot berbelanja ke sana-kemari, bahkan memikirkan saja tidak pernah. Dia hanya tahu semuanya telah tersedia. The power of kekuasaan keluarga Sanjaya.


“Terima kasih, sayang. Ini yang sudah lama papa rindukan darimu.” Hadya tersenyum lalu menyeruput kopi yang dibawakan oleh Caitlyn.


“Karena Caitlyn sudah ada di kota ini, Papa boleh datang kapan pun Papa mau, dan Caitlyn akan buatkan kopi kesukaan Papa.” Bergerak duduk di samping ayah mertuanya.


Keduanya kini tengah duduk di sebuah ruangan khusus untuk bersantai dengan view yang memperlihatkan pemandangan ibu kota.

__ADS_1


“Tentu saja, papa akan sering-sering kemari mengunjungi kalian,” ucap Hadya lalu teringat akan sesuatu hal. “Oh, ya, apa brioche-nya enak?” tanya Hadya.


Caitlyn mengangguk. “Ya, sangat enak. Caitlyn makan banyak sekali, pa,” akunya dengan senyuman sambil mengelus perutnya.


Namun, ekspresi yang ditujukan Hadya kala mendengar itu, membuat Caitlyn mengernyit.


“Ada apa, pa? Kok, liatnya gitu banget?” Caitlyn merasa aneh.


“Tidak, papa cuman heran saja. Sejak kapan kamu menyukai brioche? Papa pernah liat kamu menolaknya saat Lean dengan begitu jail memaksamu.” Ucapan itu langsung mengingatkan Caitlyn dengan sosok Lean.


“Hmm, itu gak tau, pa. Tapi baru suka aja sejaaaakk ….” Menjeda sambil mengingat-ingat kembali. Telunjuknya bergerak mengetuk dagunya yang sedikit runcing. “Ah, sejak sebulan lalu kayaknya, pa. Iya bener,” lanjutnya lagi.


Hadya mengangguk mengerti. Dia bisa menebak jika hal itu dirasakan oleh Caitlyn sejak wanita itu hamil. Senyum pria paruh baya itu terbit saat menemukan satu jalan untuk meyakinkan Lean.


“Oh, iya, pa. Papa … sudah coba ngomong sama Lean?” tanya Caitlyn menyadarkan Hadya dari lamunannya.


“Apa? Blue garden?” Caitlyn begitu terkejut. Jantungnya berdegup kencang. “Trus Papa biarin dia pergi begitu saja? Pa, Papa tau tempat itu ….” Caitlyn mengatupkan mulutnya menahan gemuruh di dada. Dia tidak mampu untuk meneruskan perkataannya. Kedua tangannya terangkat lalu menutup wajah cantiknya.


Kenapa ke tempat itu lagi, Al?


“Iya, papa tau. Makanya itu dengerin papa dulu, papa belum habis ngomong.” Tangan Hadya terulur mengangkat pundak Caitlyn. “Papa gak biarin dia pergi sendiri, kok. Papa nyusul dia ke sana dan hampir saja dia dijebak Tamara dan … ya, Tamara.” Hadya tidak ingin menyebutkan nama Sania.


Pikirannya masih cukup waras untuk menjaga nama baik wanita yang masih berstatus sebagai istrinya. Mempermalukan Sania, Hadya menganggap jika itu sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri. Sebenarnya hanya lebih menghargai status di antara mereka serta nama baiknya sendiri. Bukan tentang Sania semata.

__ADS_1


Sementara itu Caitlyn yang mendengar nama Tamara, membuat hatinya seolah tersentil. Raut wajah yang tadinya khawatir akan sikap Lean, kini berubah sendu.


“Tamara?” Menggumankan nama itu dengan lirih. “Caitlyn rasa … bukan Tamara yang mau menjebak Lean. Tapi … Lean ke sana karena mereka … ya, mereka saling mencintai. Dia pasti butuh Tamara di saat lagi kacau. Mereka pantas untuk bersama, mereka pasangan yang sepadan, mereka–”


“Tidak, Sayang!” Hadya langsung turun dari dari tempat duduknya dan berlutut di depan menantunya sambil menahan tangan wanita itu.


Caitlyn sungguh terkejut dengan tindakan sang mertua. “Papa! Papa ngapain, sih? Ayo, kembali ke tempat Papa! Caitlyn gak suka liat papa kaya gini.” Marah dan minta ayah mertuanya untuk bangkit, tetapi pria paruh itu menolak.


“Biarkan papa tetap seperti ini. Papa mau melakukan ini demi anak dan juga cucu papa. Papa mohon untuk jangan berkata seperti itu lagi, Caitlyn. Tidak ada satupun wanita di luar sana yang pantas mendampingi Lean selain kamu. Tidak ada wanita yang mampu menjadi menantu terbaik di keluarga Sanjaya seperti kamu. Dan yang paling penting, tidak ada wanita mana pun yang lebih pantas untuk melahirkan keturunan Sanjaya berikutnya kecuali kamu. Percaya sama papa, Sayang. Lean sangat mencintai kamu. Dia hanya menutupinya dengan gengsi. Kamu tahu kenapa dia begitu marah saat mengetahui kehamilan kamu? Karena dia begitu mencintai kamu. Dia ingin memiliki kamu maka dari itu dia kecewa tanpa tahu yang sebenarnya,” ucap Hadya panjang lebar dan Caitlyn mendendangkan dengan baik.


“Kalau memang seperti itu, kenapa dia gak tanya dulu sama Caitlyn, pa. Dia pergi ninggalin Caitlyn gitu aja tanpa denger penjelasan apa pun. Gak … dia gak cinta sama Caitlyn. Dia lebih nyaman dan cintanya sama–”


“Caitlyn, dengerin papa. Satu hal yang mungkin kamu tidak tau selama berada di sisinya, dia tidak akan pernah mau menyentuh wanita lain tanpa ada rasa cinta. Papa minta maaf mengatakan ini, tapi dia melakukan itu sama kamu, sudah jelas karena dia sangat mencintai kamu. Dia anak papa dan papa kenal dia seperti apa, Nak.”


Bumil cantik itu menundukkan wajahnya dan menggigit bibir bagian bawah dengan begitu kuat menahan tangis yang hampir meluap di pelupuk matanya. Caitlyn ingat betul saat dia berada di bawah kendali Sania dan menjebak Lean hingga mereka tidur bersama, pria itu sangat marah. Dia mengamuk karena sudah melakukan hal tabu itu bersama wanita asing sepertinya, bahkan dia sempat berkata jika hanya Caitlyn satu-satunya wanita yang berani menidurinya. Oh, hai! Harusnya terbalik, meskipun Caitlyn yang menjebak, bukan? Lean memang seaneh itu.


Harus pula Caitlyn akui jika selama bersama pria itu, tidak pernah Lean kedapatan bermesraan dengan wanita lain kecuali Tamara–mantan kekasihnya. Itu pun biasa saja, tidak ada interaksi yang berlebihan, tetapi tetap saja Caitlyn cemburu.


“Lean akan sangat menyesal jika dia tau yang sebenarnya. Dia akan memohon seperti yang papa lakukan saat ini. Percaya sama papa, Nak!” Hadya melanjutkan ucapannya. “Jangan pernah berpikir jika Lean mencintai orang lain dan itu membuat kamu ingin menyerah dan pergi dari kehidupan dia dan juga dari papa dan nenek! Jangan, Sayang! Lean, papa, dan nenek, bukan saja menyayangi kamu, tapi kamu juga membutuhkan kamu untuk menghidupkan kembali kebahagiaan di dalam keluarga kami.”


Mendengar itu, Caitlyn pun menangis. “Papa ….”


“Kamu mau bersabar, ‘kan? Jika bukan demi Lean atau kami, lakukanlah itu demi calon penerus keluarga Sanjaya.”

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2