Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 68. Shameless Family


__ADS_3

Pria bo*doh yang juga merupakan korban di bawah tekanan Sania itu, mengangguk membenarkan pertanyaan dari Hadya.


“Maafkan saya, Tuan. Saya yang tidak bisa pulang ke rumah sendiri saat itu dan melihat ayah malah merawat anak orang lain, membuat saya menjadi benci pada menantu Anda, Tuan. Maafkan saya, Tuan,” aku pria itu.


Hadya menarik dan menghembuskan napasnya kasar. Pria paruh baya itu bukkasihan pada pria di depannya tetapi kasihan pada menantunya yang selalu saja diperbudak dan diperdaya oleh orang lain.


Hadya menunduk dan mengusap wajahnya penuh sesal.


“Apa salah putriku pada kalian semua, hah? Kejahatan apa yang sudah dia lakukan sehingga dengan tega kalian selalu ingin menyakitinya?” Hadya menolehkan pandangannya pada Sania. “Apa kau bisa menjawab pertanyaanku ini, Sania?”


“Anak pungut itu pantas untuk dibenci, Hady. Kau jangan termakan wajah polosnya! Dia–”


“Lean!” sentak Hadya.


Pria dengan tingkat kesabaran setipis tissue toilet itu kembali berulah. Tiba-tiba saja dia menunduk dan dengan cepat mencekik leher Sania tak main-main. Wanita iblis itu pun tidak mampu untuk meneruskan kata-katanya lagi.


“Jangan menghalangiku, Papa!” sahut Lean dengan suara rendah.


“Dia bisa mati, Lean. Kau mau hidup di penjara dan tidak melihatnya istri dan anakmu?” Hal inilah yang paling tidak disukai Hadya dari putranya yaitu ketidaksabaran.


“Apa peduliku, Pa? Biarkan saja, aku bisa membeli kebebasan jika aku mau. Tapi yang aku mau saat ini adalah melihatnya tiada di tanganku. Aku selalu bersikap baik padanya tetapi dia? Dia selalu menyakiti istriku, memerasnya, menghina, bahkan memanfaatkanya.” Lean semakin marah dan semakin menguatkan cengkramannya.

__ADS_1


“Lean, cukup! Apa kau tidak ingin melihatnya menderita saja? Jika kau membunuhnya, itu hanya persoalan mudah. Lepaskan dia dan buat dia menderita seperti yang dirasakan istrimu.” Hadya membari saran.


Sepertinya kata-kata itu mampu menyadarkan Lean. Perlahan dia pun melepaskan Sania. Nathan yang terluka dan dalam keadaan terikat, tidak dapat berbuat apa-apa. Sama seperti Cecilia.


Lean berjongkok dengan sebalah lutut yang ditekuk sambil mencengkram dagu Sania.


“Jangan lagi aku dengar kau menyebutnya seperti tadi. Wanita yang kau hina itu adalah istriku. Aku tidak peduli dengan statusmu sebagai isrit Papa. Aku bahkan tidak peduli dengan kedua saudara tiriku ini. Jadi jangan merasa besar untuk menghina Caitlyn lagi. Ingat, dia adalah istriku dan ….”


Lean menjeda lalu menatap Nathan. “Dan sebentar lagi dia akan menjadi ibu dari anakku. Jadi mulai detik ini, menjauhlah dari hidupnya. Jangan berpikir untuk menjalin hubungan apa pun dengannya lagi.” Tatapan tajam itu seolah menegaskan semuanya ucapannya.


Mata Lean lalu bergerak melihat pisau lipat yang tergeletak di dekat kaki Nathan. Dia pun mengambilnya dan langsung memberi sebuah goresan cukup besar di telapak tangan Sania.


“Bang!”


“Kakak!”


Nathan dan Cecilia kompak memanggilnya karena terkejut melihat perbuatan Lean pada ibu mereka.


“Kakak, jahat banget, sih,” kesal Cecilia.


Lean tergelak. “Apa kau bilang? Aku jahat? Lalu yang mamamu lakukan pada kakak iparmu itu apa namanya, hm? Dia berani melukai isrirku tadi, apa kau buta? Aku hanya membalas apa yang dia berikan. Bukankah pemberian itu harus dibalas?” Lean berucap tanpa beban.

__ADS_1


Kembali dia menatap Nathan. “Dan kau … apa kau tidak malu memanggilku seperti itu? Jika benar kau menganggap aku ini abangmu, kau tidak akan sekurangajar itu untuk mendekati istriku, Breng*sek!” Satu tinju mengenai wajah tampan Nathan.


“Kakak cukup!” Cecilia berteriak sambil menangis.


“Apa? Kenapa kau menangis? Aku pikir wanita-wanita gila harta, licik, dan tidak tau malu seperti kalian ini tidak kenal dengan air mata. Atau mungkin saja bisa tapi air mata palsu.” Lean menggeleng.


“Kau sama tidak tahu malunya dengan mama dan kakakmu. Semua hanya mengejar harta keluargaku dan menjadikan istriku sebagai alat kalian. Keluarga tidak tau malu sepanjang abad ini yaitu kalian!” ucapnya Lean dengan penuh penekanan.


Dia lalu bangkit berdiri sambil menjatuhkan pisau tadi dan menepuk-nepuk tangannya seolah meminimalisir debu yang menempel di sana. Lean kemudian berbalik dan menatap pada pria dengan balutan baju pasien.


“Kau … lanjutkan!”


“Waktu itu saya dihajar para penagih hutang sampai babak belur dan hampir mati, Tuan. Lalu Tante Sani datang dan mengatakan padaku untuk mencari istri Anda dengan alasan jika saya mengetahui keberadaan orang tua kandungnya. Tante Sani memberikan alamat rumah Anda lalu saya ke sana dan ditolong istri Anda–”


“Tidak! Kau jangan mengada-ada anak, Sia*lan!” teriak Sania yang tidak terima.


“Tutup mulutmu, Sania! Sudah tidak ada kepercayaan 1 persen pun untukmu!” tekan Hadya.


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2