
Hari telah berganti siang. Baik Hadya maupun Lean segera menyudahi misi mengungkapkan kebusukan Sania dan antek-anteknya. Satu fakta baru yang terakhir diuangkan oleh Sania sendiri atas paksaan Hadya adalah Cecilia bukanlah putri kandungnya.
Enough! Ini saja sudah cukup memalukan bagi Cecilia dan Nathan. Dua kakak-beradik itu sama-sama merasa dikhianati oleh ibunya sendiri. Baik Nathan maupun Cecilia hanya tahu bahwa mereka saudara tiri mereka adalah Lean saja. Nyatanya, mereka pun tidak satu ayah dan hanya satu ibu.
Posisi Cecilia di sini sama sekali tidak terhitung dan sangat memalukan karena sedikit pun tidak ada darah Sanjaya yang mengalir di tubuhnya. Lalu untuk apa nama belakang Sanjaya yang selalu mengikuti namanya sejak kecil? Sesabar itukah Hadya selama ini? Sebaik itukah hatinya hingga dengan tulus memberikan identitas itu pada Cecilia?
Pertanyaan-pertanyaan itu terlintas di benak Cecilia, tetapi dia tidak juga menemukan jawabannya. Yang dia ingat hanyalah kata-kata dari Lean yang selalu menggema di telinganya.
“Bersyukurlah walaupun papa tidak memberimu sepeser pun. Setidaknya dia sudah menghidupi dirimu sejak kau dalam kandungan ibumu. Dia sudah dengan besar hati memberimu tempat tinggal dan keluarga, bahkan memberimu identitas yang menjadi impian banyak orang. Kau mengerti?”
Ya, ucapan itu masih terus berdengung di telinga Cecilia. Haruskah dia marah pada ibunya? Entahlah, tetapi seperti kata Lean, dia harusnya bersyukur dan mungkin harus berterima kasih pada Sania yang sudah berjuang memberinya kehidupan mewah yang sebenarnya bukan haknya.
Sementara itu, Hadya melarang Lean untuk menghukum ataupun menghakimi mereka jauh lebih berat lagi.
Bagi Hadya, cukup hanya dengan menjauhkan mereka dari kehidupan keluarga Sanjaya. Dia tidak ingin mengotori tangannya yang hanya akan berimbas pada reputasi keluarga. Selain itu, Hadya juga mengingatkan pada Lean jika istrinya sedang hamil jadi jangan berbuat yang aneh-aneh.
Nathan sudah terluka dan Hadya rasa itu cukup, meskipun Lean sendiri belum merasa puas. Begitu juga dengan Sania. Sementara Tamara dan Cecilia, Lean belum memberikan hukuman apa pun pada dua wanita yang juga sering menyakiti dan mencaci-maki istrinya itu.
“Bawa dua orang ini keluar dan obati luka mereka, setelah itu lepaskan mereka,” perintah Lean menunjuk Sania dan Nathan.
__ADS_1
Beberapa orang yang merupakan anak buah Hadya langsung bergerak melakukan seperti yang diperintahkan oleh Lean. Cecilia yang melihat ibu serta kakaknya dibawah pergi, ketakutan lalu menangis dan terus berteriak memanggil-manggil keduanya.
“Ma, jangan tinggalin Cecil! Ma ...! Kak Nathan! Jangan pergi dulu ...!” teriak Cecilia ketakutan.
“Ssssttt!” Lean menaruh telunjuk di mulutnya memberi isyarat agar Cecilia segera diam. “Jangan berisik atau kau kuikat dan ditinggalkan di hutan ini sampai membusuk!” ancam Lean.
Wanita itu semakin ketakutan sambil menggelengkan kepalanya. Sebenarnya Hadya kasihan melihat
Dia berbalik lalu melihat Tamara. “Dan wanita ini bagusnya diapakan, yah?”
Lean mengetuk-ngetuk telunjuk pada dagunya tampak berpikir. Senyum iblis tiba-tiba terukir di bibirnya. Pria berparas tampan itu lalu merogoh ponsel dan menghubungi seseorang. Hampir lima menit dan dia pun menutup teleponnya.
“Kejutan, Ara,” jawab Lean dengan masih tersenyum menyebalkan. “Kejutan yang paling berkesan dalam hidupmu. Kejutan itu akan menyadarkan dirimu bahwa kau adalah wanita paling menjijikan di muka bumi ini. Itu sebagai balasan karena terlalu sering memperkatakan hal buruk pada istriku,” imbuhnya.
Tamara tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu, tetapi mau tidak mau dia harus siap untuk segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Setelah itu, Lean kembali lagi menghadap Cecilia.
“Dan kau adikku yang ... entahlah. Sebenarnya aku tidak tahu apa kesalahanmu, jadi aku juga bingung ingin menghukummu seperti apa. Untuk saat ini, kau aku bebaskan. Hanya untuk saat ini! Tidak tau ke depannya kalau aku tahu kau pernah menyakiti Caitlyn, maka hukuman untukmu akan menyusul.” Peringatan yang membuat Cecilia antara senang dan takut.
Jangan sampai dia mengatakan apapun pada Kakak.
__ADS_1
Sejujurnya, Cecilia belum dapat bernapas lega. Posisinya masih terancam meskipun saat ini dia dinyatakan bebas. Hadya pun mengangkat tangan karena dia sudah tidak ingin berurusan lagi dengan mereka. Dia dia tahu saat ini hanya ingin menceraikan Sania secepatnya.
“Dan kau manusia tidak berguna.” Lean menatap Rendi. “Pergilah sejauh mungkin dari kehidupan kami. Berjanjilah untuk mengusahakan hidup yang lebih baik agar pengorbanan istriku tidak sia-sia. Jangan sampai aku melihatmu mabuk-mabukan dan berjudi lagi, akan kubuat kau langsung menemui ayahmu!” ancam Lean tak main-main.
“Ba-baik, Tuan. Terima kasih untuk pengampunan Anda dan keluarga Anda. Terima kasih juga untuk kebaikan istri Anda, Tuan–”
“Cukup, Kepa*rat! Jangan kau mengungkit lagi kalau tidak ingin aku menghabisimu detik ini! Keluar!” bentak Lean.
Pria malang itu langsung berlari keluar dengan terseok-seok, meskipun masih sangat lemah. Kini yang tersisa dalam ruangan tersebut hanyalah Tamara, Cecilia, dan beberapa anak buah Hadya.
“Lean,” panggil Hadya pelan. “Sepertinya sudah selesai dan papa ingin kembali menemui putri papa. Papa ingin tahu keadaannya sekarang.” Hadya berucap dengan serius.
“Dia baik-baik saja, Pa. Tidak perlu khawatir.” Lean menarik napasnya dalam-dalam. Dia juga ingin segera kembali dan menemui Caitlyn.
“Sisanya kalian yang urus. Jangan sampai wanita iblis itu melarikan diri.” Lean berkata pada beberapa anak buah ayahnya di sana. “Sebentar lagi kejutannya datang,” tambah Lean.
“Ayo, Pa! Caitlyn pasti menunggu kita.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...