
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lean, seketika pikiran Rendi berlari mundur pada beberapa waktu yang telah terlewati. Dia mengumpulkan semua ingatan tentang Sania dan segala usahanya.
Tentang Sania yang datang menawarkan dia untuk menemui Caitlyn pada saat dirinya dipukuli hingga hampir tewas waktu itu. Kala itu bertepatan dengan kemunculan kembali orang-orang dari perusahaan asing itu ke lokasi sengketa.
“Jadi waktu itu dia tahu kalau mereka datang mencari anak kecil yang hilang dan dia sengaja menyuruhku lari dan menemui Lily supaya saya tidak mengetahui akan hal ini?” gumam Rendi tidak percaya jika Sania selicik itu.
Lagi dia masih terus mengingat beberapa kejadian yang membuat Sania selalu muncul tiba-tiba di hadapannya dan itu selalu menyangkut Caitlyn. Sebut saja waktu Lean dan Caitlyn berkunjung ke rumahnya, setelah kepergian mereka, Sania muncul dan mengancamnya.
“Apakah dia mulai takut jika Lily akan sering mengunjungi tempat itu?” tanyanya pada diri sendiri, tetapi Lean dapet mendengarnya, bahkan merespon.
“Ya, telat sekali, Ren. Karena itulah kamu harus berhati-hati jangan sampai tantemu itu melakukan hal nekat padamu. Dia, ‘kan, wanita iblis setengah waras. Keselamatanmu juga penting, Ren.” Lean memperingati.
Rendi masih terdiam dan mengingat kejadian terakhir seminggu lalu di restoran waktu itu. Di mana Sania yang menghalanginya untuk tidak mengikuti Lean dan kliennya.
“Tante Sani benar-benar keterlaluan. Jika dia memang tahu, kenapa dia ingin menyembunyikan kebenarannya?” geram Rendi.
Lean membuang napasnya dengan kasar. “Apa lagi memangnya selain agar dia bisa terus menghina dan menyiksa istriku. Dia tidak ingin melihat Caitlyn bahagia, Ren. Entah punya dendam apa dia sebenarnya.” Lean mere*mas bulpen di tangannya. “Harusnya sudah kuhabisi saja wanita itu,” ucap Lean geram.
“Tapi ... tapi bagaimana dia bisa tahu semuanya? Ayah ...? Jika dia tahu ... kenapa tidak dengan ayah?” Rendi tampak berusaha keras berpikir memecahkan masalah adik angkatnya yang seperti kepingan-kepingan puzzle. “Atau bisa jadi ayah tau dan Tante Sani ....” Rendi tidak sanggup meneruskan ucapannya.
Sedikit demi sedikit kepingin puzzle itu mulai tersusun dan terlihat.
“Aku pun berpikir hal yang sama, Ren.” Lean meletakkan kedua tangannya ke atas meja lalu bersandar di sana. “Aku harus apa sekarang? Memaksanya secara langsung dengan cara kekerasan, atau ... membuat kesepakatan dengannya? Ataukah kita perlu menjebaknya?” Lean menundukkan kepalanya.
“Sebaiknya Tuan membicarakan lagi dengan Tuan besar. Saya ... saya tidak bisa memberikan pendapat. Saya hanya akan bersedia jika dibutuhkan kapan pun itu, Tuan.” Rendi menjawab dengan sungkan.
Lean mengangguk. “Yang pastinya aku tidak ingin membiarkan hal ini terus berlarut-larut. Aku tidak ingin istriku terus ada dalam bahaya. Sania harus dihentikan dan dihancurkan secepat mungkin.”
__ADS_1
Pria muda yang tidak lama lagi akan mendapat gelas seorang ayah itu, lalu meraih ponselnya dan menghubungi Papa Hadya.
📲 “Halo, Pa. Papa lagi di mana?”
📲 “Iya, nak. Papa lagi di luar.”
📲 “Apa papa sibuk?”
📲 “Em, tidak terlalu. Ada yang ingin kamu bicarakan?”
📲 “Iya, Pa. Kirimkan alamatnya dan aku akan ke sana.”
📲 “Ok, kebetulan juga papa ingin mengatakan sesuatu buat kamu.”
Panggilan telepon itu berakhir dan detik berikutnya sebuah notifikasi masuk ke ponsel Lean yang menyertakan alamat keberadaan Hadya saat ini. Lean pun bergegas keluar diikuti Jerry dan juga Rendi.
Di tempat Hadya, pria itu baru saja mengirimkan sebuah alamat untuk putranya. Setelah menyimpan kembali ponselnya, dia pun mengakhiri pembicaraan dengan pengacaranya terkait perceraian dengan Sania.
“Baiklah, Tuan Sanjaya. Saya akan mengusahakan untuk mengirimkan suratnya hari ini juga pada, Nyonya Sania,” kata sang pengacara.
“Baiklah, Pak. Terima kasih.”
Kedua pria itu bangkit dari duduk masing-masing dan saling berjabat tangan, kemudian sang pengacara segera pergi dari sana meninggalkan kliennya. Hadya masih setia duduk di kafe tersebut sembari menunggu anaknya.
Tiba-tiba seorang pemuda dengan tampang sedikit tengil, datang dan duduk di hadapannya. Kening Hadya mengerut melihatnya.
“Hai, Om. Saya permisi duduk di sini, yah. Tempat di sini lebih nyaman soalnya.” Pemuda itu berbicara dengan tidak malu-malu sama sekali.
__ADS_1
“Oh, yah. Silahkan,” sahut Hadya dengan senyum.
“Om sendirian?” tanya pemuda itu lagi.
“Ah, saya sedang menunggu putra saya. Kamu?” jawab Hadya sekaligus balik bertanya.
“Lagi nunggu mbak pacar, Om.” Jawaban itu sukses membuat Hadya terkekeh. Kejenuhan beberapa saat lalu yang Hadya rasakan, sedikit terhibur dengan kehadiran pemuda tengil itu.
Tidak lama kemudian, seorang wanita cantik muncul di sana dan langsung dipanggil oleh pemuda tadi.
“Hai, Mbak! Aku di sini!” panggil pemuda itu.
Hadya tidak langsung menoleh dan mengabaikan siapa yang datang. Dia lebih senang melihat tingkah laku pemuda yang sepertinya belum genap dua puluh tahun di hadapannya itu.
“Mau apa lu, Bocah? Pake dateng bawa-bawa temen segala. Cepetan ngomong, gue sibuk!” seru seorang wanita yang kini telah berdiri di samping pemuda tadi dan Hadya.
Suara dengan nada ketus itu seolah tidak asing di telinga Hadya. Dia pun langsung mendongak dan secara kebetulan wanita itu juga menoleh padanya. Keduanya refleks sama-sama kaget.
“Kamu?”
“Eh, Om?”
Pemuda itu ikut kaget melihat reaksi keduanya. “Kalian saling kenal?”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1