Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 121. Rahasia Kecil


__ADS_3

Lean tertegun untuk sesaat kala mendengar ucapan Nyonya Vargas. Calon ayah itu tidak menyangka jika ikatan di antara mereka sekuat itu. Jika saja istrinya tidak terbaring tak sadarkan diri saat ini, dia ingin sekali bertepuk tangan dengan keras memberi apresiasi dalam kategori ‘the power of kontak batin’ ibu dan anak.


“Em ... maaf, Nyonya. Tapi saya belum ingin membahas tentang hal ini. Simpan saja dulu apapun itu yang Anda rasakan sampai istri saya sadar,” pinta Lean dengan nada rendah.


Nyonya Vargas mengangguk dengan wajah khawatir. Di sampingnya, ada Dokter Vargas mengusap pundak rapuh wanita itu.


Mobil bergerak cepat meninggalkan area hotel menuju rumah sakit terbesar di ibu kota. Rumah sakit yang diberikan Hadya pada putra keduanya dari hubungannya dengan si iblis–Sania. Namun, rumah sakit itu kini dikelola oleh pemilik sementara yaitu Dokter Andra. Dan jangan lupa jika Dokter Vargas juga bekerja di sana.


Sementara itu, pasca keributan kecil yang ditimbulkan karena Caitlyn yang tiba-tiba tak sadarkan diri, membuat suasana acara tidak lagi berkesan. Satu persatu tamu undangan mulai meninggalkan ruangan tersebut.


Suasana dan atensi dalam ruangan tersebut mulai terpecah. Ada yang mengkhawatirkan Caitlyn dengan beragam tanya, ada yang bingung dengan keberadaan keluarga yang memilik acara malam itu. Tidak seorang pun yang terlihat dalam ruangan tersebut. Semuanya menghilang satu per satu entah ke kemana. Begitu yang terlintas dalam pikiran sebagian tamu undangan yang tersisa.


Mulai dari Tuan Vargas yang telah menghilang sejak awal. Disusul Cecilia yang marah dan ikut menghilang entah ke mana, putra bungsu keluarga Vargas yang sejak acara dimulai tidak terlihat batang hidungnya, and the last Nyonya Vargas dan putra tunggalnya–Chris–yang akrab dipanggil Dokter Vargas.


Acara malam itu mendadak kacau balau. Rencana Lean yang hanya ingin mengagetkan Cecilia dan menunjukkan langsung fakta pada istrinya, mendadak berganti spektakuler hingga mengorbankan istrinya sendiri.


Seharusnya dia senang, bukan? Benar, Lean senang dan puas, tetapi dirinya belum bisa untuk merayakan momen kemenangan itu. Lean menunggu istrinya terbangun dan mendapat hasil pemeriksaan dokter, barulah dia memikirkan langkah selanjutnya.


...***...


Sementara itu di dalam sebuah kamar mandi yang tampak mewah, Cecilia berdiri di depan cermin yang telah retak oleh perbuatannya beberapa saat lalu setelah melarikan diri dari stage.


Wanita itu masuk dan menghancurkan seluruh isi kamar mandi tersebut, tanpa memikirkan berapa kerugian yang akan ditanggungnya nanti.


“Breng*sek! Dasar anak pungut tidak tahu diri!Berani-beraninya dia menghinaku, bahkan ingin membongkar identitasku di depan keluarganya yang bodoh itu? Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan itu semua.” Cecilia menggeleng di depan cermin.

__ADS_1


“Aku belum mendapatkan apa yang aku dan mama inginkan. Tapi anak pungut itu ... arrrgghh ...! Lagi-lagi dia mengalahkan aku, Ma!” Cecilia menjerit tertahan di dalam sana. “Dia selalu dengan mudah mendapatkan hal-hal yang aku inginkan. Pertama Kak Lean, lalu harta keluarga Sanjaya, dan sekarang gaun itu ... arrrgghh ...!” Cecilia melemparkan tas dan segala macam yang ada di hadapannya.


“Jika saja dari dulu aku tahu kalau Kak Lean bukan kakakku, aku pastikan dia akan menjadi milikku bukan anak pungut itu. Ini salah mama. Yah, ini salah mama. Harusnya dulu mama tidak perlu susah-susah menjebak kakak dan anak pungut itu. Harusnya aku saja yang menjadi pilihannya. Lihat, ‘kan, karena kesalahan mama, sekarang dia malah bahagia bersama kakak. Lah, aku? Anak mama sendiri harus terlunta-lunta dan menggunakan identitas si pungut itu.” Cecilia menjatuhkan tubuhnya di bawa wastafel.


Secuil rasa yang dulu pernah dia rasakan untuk kakak tiri yang sebenarnya tidak ada hubungan darah sedikit pun dengannya itu, kembali muncul di permukaan. Sejak diboyong oleh Hadya ke kediaman utama Sanjaya, Cecilia langsung jatuh hati pada sosok yang disangkanya kakak tiri.


Seiring pertumbuhannya di rumah megah dan mewah itu, membuat Cecilia semakin terperosok ke dalam pesona pria tampan yang dipanggilnya kakak. Namun, segila-gilanya dia, masih ada sedikit kewarasan yang dia punya untuk sekedar menyadarkan bahwa pria tampan itu adalah kakaknya.


Cecilia menyimpan perasaannya karena jika dia nekat dan mengesampingkan ikatan darah di antara mereka sekalipun, sudah pasti Lean tidak akan meliriknya sedikitpun. Pria tampan itu sungguh tidak tersentuh oleh hawa manapun. Satu-satunya wanita beruntung yang pernah dekat dengannya adalah Tamara. Dan kini yang lebih beruntung lagi karena bisa memilikinya ialah Caitlyn. Nama yang sangat dibenci oleh Cecilia.


“Caitlyn, apa aku harus melakukan hal dulu lagi padanya? Kebetulan sekali waktunya tepat.” Cecilia menyeringai.


Dia merogoh ponselnya dan medial berapa nomor yang sudah berada di luar kepalanya. Panggilan pertama tidak tersambung. Begitu terus yang dia lakukan hingga beberapa kali, tetapi tetap saja jawaban sama yang dia terima.


“Mama ke mana, sih? Dalam keadaan genting kayak gini pake acara ngilang? Oh, gosh. Please, angkat, ma! Cecilia butuh mama sekarang.” Meracau dengan frustasi karena sosok yang dia butuhkan untuk menopangnya tidak bisa dihubungi.


“Huh, tenang, Cecil. Mereka hanya sekelompok orang bodoh yang gampang untuk diperdai. Ayo, Cecilia, gunakan otakmu! Kau tidak akan menyerah dan tidak boleh kalah lagi kali ini. Anak pungut itu hanya iri padamu. Ayo, Cecil. Tunjukkan padanya jika kau bisa dan tidak gagal kali ini!” ucapnya tegas menyemangati diri.


Beberapa kali mengatur napasnya agar lebih tenang, Cecilia lantas berjalan keluar setelah dirasanya jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia berjalan cepat hendak melihat reaksi keluarga barunya setelah mendengar sederet omong kosong dari Caitlyn.


“Semoga saja mereka tidak memahami yang dimaksud anak pungut itu. Yah, semoga saja,” gumam Cecilia sembari lebih mempercepat langkahnya.


Begitu tiba di sana, Cecilia tampak kebingungan mendapati ruangan itu sudah kosong tak ada seorangpun. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu kini menujukkan pukul 11 malam.


“Ah, pantas saja. Tapi ... di mana yang lain? Apa mereka juga langsung pulang dan meninggalkan aku sendirian karena termakan perkataan racun anak pungut itu? Oh, sh*it!” umpat Cecilia.

__ADS_1


“Siapa yang kau sebut anak pungut?”


Sebuah suara bariton dari arah belakang sontak mengagetkan wanita itu. Secepat kilat dia berbalik dan mendapati Tuan Vargas berdiri di sana. Jantung Cecilia yang sudah susah payah dia kendalikan sejak tadi, kembali berdegup kencang bahkan hampir berpindah dari tempatnya.


“Ah, Dad-Daddy di sini?” Jelas dia salah tingkah.


“Saya sedang bertanya. Siapa yang kau sebut-sebut anak pungut itu?”


Cecilia mati kutu dengan pertanyaan skakmat yang dibarengi dengan tatapan tajam menghunus. Sialnya lagi, tatapan itu mirip sekali dengan yang dilemparkan oleh Caitlyn tadi.


...***...


Sementara itu di rumah sakit, Lean digegerkan dengan fakta baru oleh dokter kandungan yang menangani istrinya. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, Lean serta menanyakan kondisi sang istri tercinta.


“Istri, Anda baik-baik saja, Tuan. Dia hanya mengalami syok, juga kelelahan serta banyak pikiran. Tolong istrinya dijaga dengan baik, Tuan. Seringnya stress dan banyak pikiran akan mempengaruhi tubuh kembang janin serta dapat berdampak buruk. Karena itu mohon untuk selalu menciptakan suasana rileks dan usahakan agar istrinya selalu bahagia, Tuan,” pesan dokter.


“Terima kasih, Dokter.” Lean baru saja akan berbalik melihat istrinya, sang dokter kembali menahan.


“Oh, ya. Satu lagi, Tuan Sanjaya. Saya hampir saja melupakan satu hal penting.” Kening Lean mengerut. “Mengingat kondisi istri Anda yang pernah keguguran, rentan membuatnya mengalami keguguran kembali di kehamilan kedua saat ini. Jadi tolong dijaga dan diperhatikan masa-masa kehamilan istrinya, Tuan.”


Telinga Lean rasanya berdengung memantulkan bunyi panjang yang mengusik pikiran serta pendengarannya. Pada posisi yang sudah berdiri saat itu, tubuh tegap Lean hampir saja limbung jika tidak berpegang pada sandaran kursi di sana.


Untuk sesaat pria berparas tampan itu tertegun sebelum akhirnya melontarkan satu pernyataan yang ingin dia dengar sekali lagi.


“Apa, Dok? Keguguran? Ma-maksudnya istri saya pernah hamil sebelumnya dan ini kehamilan kedua?”

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2