
Seorang wanita cantik sedang mematut dirinya di depan kaca. Kegiatan itu sudah dia lakukan berulang-ulang kali. Terhitung sudah dua jam lebih dia bersiap dan berdandan, sembari menunggu seseorang yang akan menjemputnya.
“Ih, sudah hampir jam 8, kok, papa belum datang juga,” omel seorang wanita cantik, sambil melihat jam yang melingkar di pergelangannya.
Wanita cantik itu adalah Caitlyn. Dia tengah bersiap untuk dijemput sang ayah mertua. Keduanya berencana ke rumah sakit malam nanti.
Namun, hingga dua jam berlalu, satu-satunya pria yang selalu ada untuknya itu belum juga menampakkan batang hidungnya. Caitlyn jenuh lalu melangkah keluar kamar. Dia memilih berdiri di depan kaca jendela besar di ruang tamu, menikmati keindahan saat malam di ibu kota sembari menunggu ayah mertuanya.
Suasana sepi serta pemandangan pekat yang dibaluti kelap-kelip lampu dan juga bintang, mengingatkan Caitlyn pada hubungannya dan Lean. Sepi tanpa komunikasi, gelap dan tidak jelas bagaikan malam, tetapi ada peran serta usaha ayah mertuanya yang diibaratkan seperti kelap-kelip bintang yang memberi Caitlyn secercah harapan.
Wanita cantik itu tersenyum hambar membayangkan wajah angkuh Lean yang selalu menatapnya dengan hina.
“Apa mungkin penjelasan papa bisa mengubah segalanya nanti menjadi lebih indah? Aku terlalu takut untuk sekedar berandai, bahkan menyapa fatamorgana saja aku ragu melakukannya. Bagaimana jika kenyataan tak seindah harapku? Aku pengecut dan belum siap untuk jatuh kedua kalinya,” aku Caitlyn.
Caitlyn menengadah agar perih di matanya tidak berpotensi menggugurkan bulir-bulir kekecewaan.
“Apapun jawaban papa nanti, harus siap mendengarnya.” Menghembuskan napasnya dengan kasar.
Dalam posisi masih tetap berdiri, terdengar bunyi bell yang langsung menarik Caitlyn dari nelangsanya saat itu. Cepat-cepat dia melangkah untuk membukakan pintu dengan perasaan yang mendadak jauh lebih baik. Senyum lebar yang terlukis di wajah cantiknya.
“Akhirnya datang ju ….” Ucapannya terjeda saat membuka pintu dan ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.
Caitlyn melongok keluar dan menengok ke samping kiri-kanan, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana.
“Masak ada hantu di sini?” Berpikir sejenak yang tidak-tidak. “Ih, serem.”
Baru saja dia berbalik dan hendak masuk untuk menutup pintu kembali, seseorang entah dari mana datangnya langsung mengagetkan Caitlyn.
“Kyaaaaaaaa!”
Teriakan wanita itu dengan mata tertutup memenuhi seluruh penthouse-nya, sedangkan dia yang datang sibuk terbahak melihat kekagetan Caitlyn. Mendengar suara tawa itu, Caitlyn lantas membuka mata dan mendapati Saskia di sana.
“Saskia? Ih, vuangke lu ngagetin aja!” marah Caitlyn dan langsung melayangkan satu tinju di lengan sahabatnya.
__ADS_1
“Lu, sih, pake acara takut segala.” Saskia mengelus bekas tinju Caitlyn tadi.
“Takutlah, Beb. Orang sendirian, sepi gini lagi, serem tau,” protes Caitlyn.
Sebelah alis Saskia terangkat. “Emang ada yang lebih menyeramkan dari mantan suamimu itu?”
Caitlyn melirik kesal pada sahabatnya, tetapi dalam hati dia membenarkan ucapan Saskia itu.
Marahnya dia emang paling serem, sih. Apalagi tatapannya ….
Caitlyn membatin sembari tersenyum. Dia tidak menyadari jika saat ini Saskia menatapnya dengan heran. Detik berikutnya, dia baru tersadar dan langsung memeluk Saskia dengan erat sambil tertawa.
“Kenapa lu? Jangan gila dulu, Beb. Ponakan gue belum lahir. Tahan, yah, tahan.” Ucapan itu membuat Caitlyn semakin tertawa dan melepaskan pelukannya.
“Gue kangen, Anjirrr. Mana pelukan buat gue?” tanya Caitlyn dan langsung disambut pelukan hangat dari Saskia. “Btw, kenapa lu bisa ada di sini, Beb? Tau gue di sini dari–”
“Dari siapa lagi memangnya? Dari Om Hady lah,” jawab Saskia.
Dia lalu menceritakan jika Hadya menghubunginya dan mengirimkan alamat baru Caitlyn, serta meminta dia untuk menjemput Caitlyn dan mengantarkannya ke rumah sakit. Hadya masih harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum menyusul nanti.
“Jadi kita mau pergi sekarang atau ….?”
“Sekarang! Gue udah cape nunggu berjam-jam,” sahut Caitlyn dengan kesal.
“Siap yang mulia, Bumil. Ayo, jalan! Marahnya nanti sama Tuan Sanjaya saja, jangan sama, ya, Bu!” goda Saskia dan keduanya pun tertawa.
Caitlyn menutup pintu lalu segera beranjak pergi bersama sahabatnya. Keduanya menggunakan lift khusus yang tersedia hanya untuk pengguna penthouse yang di tempat Caitlyn saat ini.
“Ly,” panggil Saskia saat keduanya sudah berada dalam mobil.
“Ya?” Menjawab dengan mata yang memandang ke luar jendela mobil.
“Lu mau baikan dan rujuk lagi sama dia?” Pertanyaan itu membuat Caitlyn langsung menoleh pada sahabatnya dengan wajah penuh tanya. “Gue bisa liat seberapa gigihnya Om Hady untuk menyatukan kalian lagi.” Menjawab kebingungan Caitlyn lewat tatapannya.
__ADS_1
Caitlyn tersenyum dan menatap lurus ke depan. “Jika takdir membawa gue ke sana, maka gue akan akan ke sana. Kalaupun tidak, lu tau bahwa hati gue akan selalu tetap ke sana, meski tidak dengan raga ini.”
Masih dengan senyum, Caitlyn kembali menoleh pada sahabatnya.
“Gue bukan saja menghargai usaha papa, tapi gue menginginkan ini, Kia. Bukan untuk diri gue sendiri, tapi ini juga untuk keluarga Sanjaya, dan paling penting untuk anak gue.” Caitlyn menyudahi perkataannya.
Saskia mendengarkannya dan hanya mengangguk dan tidak bertanya apa-apa lagi. Dia tahu betul seberapa besar Caitlyn mencintai pria menyebalkan itu.
Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarai Saskia memasuki area rumah sakit. Keduanya bergegas turun dan Caitlyn sudah disambut oleh dokter obgyn, dokter Andra, dan beberapa suster lainnya.
“Selamat malam, Nona Caitlyn,” sapa dokter Andra. Dokter yang satunya dan beberapa suster, hanya sedikit menunduk memberi hormat.
“Selamat malam juga, Dokter Andra.” Dia menatap pada dokter kandungan dan suster yang lain. “Malam, Dok, Suter.” Ikut menyapa orang-orang itu.
Mereka pun mengantarkan Caitlyn dan Saskia menuju ruang pemeriksaan. Namun, belum juga tiba di ruangan tersebut, mata Caitlyn tidak sengaja menangkap sosok Sania dan seorang laki-laki yang tidak asing.
Bukannya itu Nathan? Urusan apa dia sama Tante Sani?
Caitlyn dibuat penasaran. Sampai tiba di depan ruangan, Dokter Andra dan suster yang lainnya berpamitan pergi menyisakan Dokter Reno selaku dokter kandungan dan dua orang suster di sana.
“Silahkan duduk dulu, Nona.” Sang dokter membuka percakapan di antara mereka. “Kita mulai pemeriksaannya langsung saja atau menunggu Tuan Sanjaya dulu, Nona?” lanjut dokter bertanya.
“Tunggu papa saja, Dok,” jawab Caitlyn cepat. “Hm, maaf, tapi aku mau keluar sebentar nungguin papa di luar saja, Dok. Tidak apa-apa, ‘kan?” imbuhnya.
Saskia menatap sahabatnya dengan bingung. Akan tetapi saat dokter mengizinkan, dia ikut keluar bersama Caitlyn.
“Lu ngapain tunggu Om Hady di luar? Di dalam aja biar lu gak kecapean.” Saskia merasa aneh.
Caitlyn menempelkan telunjuk pada bibirnya, memberi kode agar Saskia memelankan suaranya.
“Gue tadi liat si Nathan sama Tante Sani. Penasaran banget gue, kok, mereka bisa saling kenal dan … tadi sempat berpelukan juga, Ki.” Ucapan itu membuat Saskia mengernyit.
“Nathan dan istrinya Om Hady?”
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...