
Suara lembut yang terdengar saat itu, seketika menyentak Lean dan Caitlyn bersamaan. Dari balik punggung suaminya, Caitlyn dapat melihat sosok anggun yang beberapa jam lalu berdiri dengan binar bahagia sambil menggenggam tangan Cecilia–manusia yang paling Caitlyn benci di dunia ini.
“Mommy?” bisik Caitlyn.
Perlahan Lean menegakan punggungnya lalu membantu sang istri untuk dapat duduk dan bersandar dengan baik. Dua buah bantal telah dia susun untuk dapat menyanggah punggung halus istrinya itu.
Setelah memastikan istrinya nyaman, Lean lalu menghujani wajah cantik itu dengan banyak ciuman. Dimulai dari kening, mata, hidung, pipi, dan terakhir dia memberikan lum*atan kecil di bibir Caitlyn yang tampak sedikit pucat. Sedikitpun dia tidak peduli dengan siapa saja yang ada di dalam ruangan itu dan menyaksikannya. Ya, Lean memang seacuh itu.
“Alu tinggal sebentar, yah. Bicaralah dengan ibumu. Kau merindukannya, ‘kan?” tanya Lean dan Caitlyn mengangguk. “Setelah itu, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Sayang. Tapi bicaralah terlebih dulu dengan ibumu.”
Lean tersenyum dan menjauh dari tubuh istrinya, seraya mempersilahkan Nyonya Vargas agar lebih mendekat ke kepada istrinya. Lean sendiri kemudian beranjak dari sana. Saat baru berbalik, dia sedikit kaget dengan keberadaan sang ayah dan Dokter Vargas.
Dia pun melebarkan langkahnya menuju tempat duduk dua pria di sana, membiarkan wanita dengan urusan mereka.
“Papa? Sejak kapan Papa di sini?” tanya Lean. Sekilas dia menatap pada Dokter Vargas yang duduk di sana. Lean lalu melemparkan senyum kecil. “Halo, Dok.” Langsung menjatuhkan bobot tubuhnya di samping sang ayah.
“Papa tidak perlu untuk menjawab pertanyaanmu. Kamu yang harus jawab pertanyaan papa.” Wajah Hadya tampak serius dan terlihat sedikit marah. “Di mana Jerry? Kenapa ponsel kalian bertiga tidak bisa dihubungi sejak tadi? Kamu sengaja bikin papa khawatir?” cecar Hadya dengan tidak tanggung-tanggung di depan Dokter Vargas.
“Maaf, Pa. Lean tidak mau Papa khawatir, itu saja. Lagian jam segitu kan taunya Papa sudah istirahat. Selagi Lean bisa tangani sendiri kenapa harus ngerepotin Papa lagi gitu, ’kan?” Menjawab santai dan lugas.
“Kamu ... sejak kapan papa tenang kalau kalian tidak di rumah, hah? Kamu yang jalan sendiri saja papa khawatir, ini kamu jalannya bawa mantu papa, Lean. Calon cucu papa juga ikut. Jadi bagaimana papa tidak khawatir coba? Kamu ini ada-ada saja. Papa ingin menghajarmu kalau sampai terjadi apa-apa sama Caitlyn,” geram Hadya.
“Iya, Lean salah. Maaf, Pa.” Memilih mengalah. Tubuhnya sangat lelah dan tidak ingin berdebat dengan sang papa.
Dokter Vargas yang melihat perdebatan kecil di antara ayah dan anak itu jadi senyum-senyum sendiri. Dia seolah melihat gambaran sang daddy yang sedang bertengkar dengan si bungsu di keluarga Vargas.
Dia jadi teringat akan adiknya itu yang mana sejak pagi menolak untuk mengikuti acara keluarga mereka. Entah apa alasannya, lelaki muda yang baru berusia sembilan belas tahun itu memilih pulang ke apartemennya.
__ADS_1
Besok pagi saja aku akan menghubunginya.
“Lalu apa kata dokter?” tanya Hadya lagi.
“Em, dokter bilang dia hanya sedikit syok, stress, dan kelelahan saja, Pa.” Lean menjawab dengan nada pelan.
Hadya langsung meliriknya dengan tajam. “Nah, ‘kan, papa sudah memperingati kamu tadi, Lean. Sekarang benar kan. Kau buat pikiran istrimu kacau dengan memaksanya untuk mengetahui secara spontan begitu. Jelas dia syok, Lean. Ah, jika saja tidak ada Dokter Vargas di sini, papa sudah akan menghajarmu. Tapi papa sayang dengan reputasi pemimpin Sanjaya Grup,” ucap Hadya sembari menepuk pundak putranya.
Decakan kesal pun keluar dari bibir Lean. “Dari tadi papa sudah menghancurkan reputasiku, Pa.” Lean menoleh pada Dokter Vargas. “Anda pasti sedang menertawakan saya, ‘kan, Dok? Ngaku saja, asal jangan menatap iba apalagi menatap remeh.” Bisa diartikan ini peringatan.
Seketika Dokter Vargas ketar-ketir. Pria berwajah blasteran itu menelan ludahnya kasar. Wajah datarnya Lean mampu membuat seseorang terintimidasi, apalagi jika dia melayangkan tatapan tajam. Dokter Vargas sudah sering melihat itu dan dia tidak berani.
“Ah, kalau begitu saya permisi keluar saja, Tuan. Maaf–”
“Tidak, tidak. Bukan masalah, Dokter. Tetaplah di sini karena ada yang mau saya sampaikan.” Lean menahan Dokter Vargas. Dia lalu menatap ayahnya. “Apa ini waktu yang tepat menurut Papa?” tanyanya pada sang ayah.
“Papa pikir begitu, Nak.” Hadya menyahut setuju.
“Apa yang Anda lakukan, Nyonya Vargas?” sentak Lean langsung menjauhkan tangan wanita itu dari tubuh istrinya.
Dengan sigap pria itu menghalangi tubuh Caitlyn dari pandangan Nyonya Vargas. Raut wajahnya menunjukkan ketidak sukaan. Melihat wanita setengah baya itu yang hampir saja melepas baju pasien yang sementara dikenakan istrinya, seketika Lean menjadi marah.
“Maaf, tapi siapapun Anda, saya tidak mengizinkan Anda untuk melepas pakaian istri saya. Saya rasa itu tidak sopan, Nyonya. Apalagi di sini masih ada pria lain selain saya suaminya!” ucap Lean tegas dan terkesan ketus.
Nyonya Vargas berdiri dengan wajah bingung serta kaget. “Em, maaf tapi ini tidak–”
“Tidak seperti yang aku pikirkan, begitu? Anda hampir saja melepaskan pakaian istri saya,” sergah Lean.
__ADS_1
“Al, apa yang kamu lakukan? Kamu kasar sama Mommy, Sayang.” keluh Caitlyn sambil menarik baju belakang suaminya.
Lean berbalik dan melihat istrinya. “Maafkan aku, Sayang. Tapi aku gak suka liat dia bukain baju kamu. Kamu mau papa sama dokter itu liatin tubuh kamu?” bisik Lean dengan geram.
“Ini bukan kayak yang kamu pikirkan, Al. Mommy cuman mau mastiin sesuatu. Di bagian sini tuh ada tanda lahir aku, ‘kan?” Caitlyn mengangkat sedikit tangannya dan menunjuk pada salah satu bagian tubuh beberapa centi di bawah ketiak.
Lean menggeleng dengan nafas tercekat.“No, Baby. Itu privasi aku banget. Gak mau pokoknya!” tolak Lean dengan tegas.
Bagaimana tidak, bagian tubuh yang ditunjukkan sang istri hampir mendekati bagian favorit Lean. Untuk dapat melihatnya jelas harus melepas bra terlebih dahulu. Ah, Lean sudah melihatnya bahkan setiap hari. Memikirkan orang lain untuk melihat, sama sekali tidak akan dia izinkan.
“Sayang, memangnya itu siapa? Itu mommy aku, hei.” Caitlyn tidak habis pikir dengan suaminya.
Lean mengembuskan napas lelahnya. “Iya, Sayang. I know, tapi di sini gak cuman ada kita. Noh, ada dua pria lain di sini. Please, jangan maksa aku buat izinin, yah.” Memasang tampang memohon.
Caitlyn melirik kesal, tetapi Nyonya Vargas langsung menengahi perdebatan kecil pasangan itu.
“Em, begini saja, Tuan Vargas. Apa Anda sudah pernah melihat tanda itu?” tanyanya hati-hati.
Lean mendengus. “Tentu saja, Nyonya. Dia istriku. Setiap jengkal tubuhnya aku tahu karena setiap hari aku menelanjanginya–aaarrrgggh, iya, Sayang. Aku gak ngomong lagi.” Pria itu meringis karena cubitan keras dari Caitlyn mendarat di perutnya.
Nyonya Vargas tidak jadi berbicara dan malah tersenyum melihat tingkah Lean dan Caitlyn. Bisa dia lihat dengan jelas akan besarnya cinta Tuan Muda Sanjaya itu pada putrinya. Hal yang sama dilakukan Hadya dan Dokter Vargas. Mereka pun sedari tadi menonton adegan perdebatan itu dengan senyum dan gelengan kecil. Apalagi Hadya, dia sudah sangat paham dengan sifat cemburu putranya yang berlebihan.
“Intinya tanda itu ada padanya, Nyonya.Tidak perlu diragukan. Saya menjamin seratus persen. Jika Anda tidak percaya, kebetulan sekali kita berada di rumah sakit, jadi silahkan lakukan tes DNA saja untuk lebih membuktikan jika istri saya adalah putri Anda.” Lean memberi saran.
“Tidak perlu, karena memang dia putriku!”
Semua orang tersentak karena suara itu tidak hanya berasal dari Nyonya Vargas saja, tetapi juga dari seseorang yang baru saja masuk dan berdiri di depan pintu ruang rawat itu.
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...