
Jawaban dokter itu menegaskan sekali lagi pada Lean bahwa apa yang dia dengar itu tidak salah dan benar adanya. Pria tampan itu mendadak merasakan pening.
“Caitlyn pernah hamil sebelumnya?” gumam Lean. “Jadi ini bukan kehamilan pertama? Sungguh kah?” desisnya pelan.
Dengan segala rasa penasarannya, Lean menoleh pada sosok sang istri yang masih terbaring dan belum juga sadar. Seperti gerakan slow motion, perlahan dia menjatuhkan tubuhnya pada tempat duduk yang tersedia di samping ranjang pasien.
Bersama perasaan yang campur aduk tak menentu, Lean meraih tangan istrinya.
“Kenapa aku gak tau, Cait? Sejak kapan?” bisik Lean sedikit meringis menahan sakit hati yang tidak bisa diungkapkan.
Dia menundukkan kepalanya lalu bersandar pada pinggiran ranjang, sembari memaksakan otaknya untuk berlari mundur mengulang setiap momen bersama Caitlyn selama tiga tahun lebih ini.
Beberapa detik kemudian, Lean terseret dalam penggalan-penggalan kenangan yang membentuk sebuah labirin. Susah payah dia berusaha melewati satu persatu jalan yang pada akhirnya menghubungkan dirinya pada suatu masa di awal pernikahan mereka.
Ya, Lean ingat sekarang. Dia ingat alasan dirinya sampai bisa menikahi Caitlyn. Jebakan yang dibuat Sania dan memaksa Caitlyn memainkannya hingga berakhir one night stand. Sebulan kemudian wanita itu datang dan mengaku jika dirinya hamil.
Alasan inilah yang membuat Lean dengan terpaksa menikahi Caitlyn. Namun, setelah dua bulan menikah, tiba-tiba saja jejak kehamilan itu menghilang. Lean menuduhnya wanita manipulatif yang hanya berpura-pura hamil agar dapat mengincar harta dan kekayaannya.
Pria itu tersentak lalu mengangkat kepalanya dan memandang Caitlyn sekali lagi.
“Apa kehamilan waktu itu benar? Tapi ... arrrgghh.” Lean merasakan pusing yang teramat melandanya. “Please, Sayang. Bangun dan jelaskan ini semua sama aku. Aku butuh jawaban dari kamu,” ucap Lean sambil meringis.
Detik berikutnya, pria itu pun menjatuhkan kepalanya di dekat kepala Caitlyn, kemudian tertidur dengan tangan yang setia menggenggam jemari istrinya itu.
Tanpa mereka sadari, Nyonya Vargas setia berdiri di depan pintu dan mendengarkan semuanya. Tanpa permisi, air mata wanita cantik di usia yang tak lagi muda itu berlomba luruh tiada penghalang.
“Chris,” panggil wanita itu pelan.
“Yes, Mom?” Dokter Vargas merespon panggilan ibunya dengan cepat. Pria setia mendamping wanita cantik yang telah melahirkannya.
“Mommy seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh istri Tuan Sanjaya. Mommy merasa jika telah banyak kepahitan yang sudah dia lewati selama ini. Mommy merasa ingin selalu dekat dengannya, Chris. Mommy harus apa?” tanya Nyonya Vargas yang berlinang air mata.
Dokter Vargas mengusap air mata ibunya. “Sabar, Mom. Kalau diizinkan suaminya, yah, berarti Mommy boleh dekat. Kalo gak, jangan maksa, Mom.” Beralih mengusap pundak sang ibu.
__ADS_1
Nyonya Vargas mulai merasa tenang dan hendak masuk ke dalam ruangan itu, tetapi dihalangi oleh putra sulungnya.
“Kan, sudah aku aku bilang tunggu izin dari Tuan Sanjaya, Mom. Jadi Mommy pulang saja dulu, nanti biar Chris yang kabarin kalo mereka sudah bangun, yah.” Dokter Vargas memberi pengertian.
“Mommy mau di sini saja, Chris. Mommy rasanya tidak bisa jauh dari wanita itu. Biarkan Mommy di sini, yah, Kak.” Ah, dia malah balik memohon pada putranya.
Pria yang berprofesi sebagai dokter itu mengapa ibunya untuk beberapa saat.
“Apa Mommy tidak merindukan Caitlyn di rumah?” tanya pria itu sedikit ragu.
Entah untuk apa, dia merasa jika ibunya akan menolak ini dan memilih tetap di rumah sakit, agar selalu dekat dengan Caitlyn ini–istri dari pemimpin Sanjaya Grup.
Sejenak Nyonya Vargas terdiam hingga beberapa detik berikutnya gelengan kecil terlihat.
“Tidak, Kak. Seharian ini di dekatnya terus, tapi mommy tidak bisa merasakan hal yang mommy rasakan pada istri Tuan Sanjaya. Di dekat dia rasanya hambar, Kak. Apa kita salah orang?” tanya wanita setengah baya itu. Herannya, dia sangat berharap akan kalimat terkahir yang baru saja dia ucap.
...***...
“Ke mana mereka? Kenapa belum pulang di jam seperti ini?” Hadya bolak balik di dalam kamar.
Merasa tidak puas, dia bergegas melangkah ke ruang tamu seraya ingin menyambut kedua anaknya jika pulang nanti. Namun, beberapa menit terlewati, Hadya tidak lagi menahan.
Dia kemudian menghubungi anak buahnya untuk melacak keberadaan putra dan putrinya saat ini. Beberapa kali, Hadya pun telah mencoba menghubungi nomor pasangan suami-istri itu, tetapi tidak bisa. Begitupun dengan Jerry.
“Anak-anak ini pada ke mana? Kenapa semua kompak tidak bisa dihubungi?” omel Hadya.
Namun, tidak lama kemudian, ponsel Hadya berdering. Dilihatnya nama salah satu anak buah yang dia tugaskan tadi. Secepat kilat dia pun mengangkatnya.
Tubuh Hadya seketika menegang kala mendengar laporan dari anak buahnya. Detik berikutnya pria paruh baya itu berlari kembali ke kamarnya menyambar long coat dan kunci mobil.
Dengan langkah terburu-buru, pria itu berlari masuk ke mobil dan secepat kilat melesat dari kediaman mewah Sanjaya menuju rumah sakit tempat Caitlyn dirawat saat itu.
“Lean, kau tidak menjaga putriku dengan baik. Apa papa harus benar-benar menghajarmu kali ini? Dasar keras kepala,” geram Hadya di sela-sela aktifitas mengemudi.
__ADS_1
...***...
Suasana tegang yang sama, kini dirasakan oleh Cecilia yang masih setia berdiri di dalam ballroom yang tengah kosong. Tatapan tajam Tuan Vargas membuat sekujur tubuhnya terasa dikuliti. Baru kali ini Cecilia merasa terancam.
Dalam hati wanita itu berteriak memanggil-manggil mamanya. Dia berharap ada keajaiban yang menghadirkan sosok Sania di hadapannya saat ini juga.
“Daddy di sini?” tanya Cecilia begitu kikuk tak seringan dan sehangat seperti pagi tadi.
“Saya sedang bertanya padamu.”
Need to be underlined bahwa William tidak lagi menyebutnya sebagai ‘daddy’ seperti yang terus dia ungkapkan sepanjang hari ini. Kali ini Cecilia ingin memberikan predikat wanita penghancur keluarga orang lain pada Caitlyn. What the hell. Sungguh sangat sopan dan tahu diri.
“Em ... itu, Dad. Istri dari tamu kehormatan Daddy tadi.” Cecilia memasang wajah cemberutnya meskipun sebenarnya dia tengah ketakutan.
“Siapa namanya?” tanya Tuan Vargas lagi.
“Namanya ... Caitlyn, Dad. Sama seperti aku, ‘kan? Sangat kebetulan se–”
“Kenapa kau menyebutnya seperti tadi?” Untuk kesekian kalinya pria itu bertanya dan kali ini nadanya sedikit ditinggikan.
Bosan terus dibombardir oleh pertanyaan, Cecilia menarik napas dalam-dalam lalu melepaskan dengan kasar. Dia pun lalu menjawab dengan segala kekesalan yang ada.
“Karena memang dia anak pungut, Dad!” teriak Cecilia dan ....
Plakkk!
Satu tamparan keras serta-merta mengenai pipi Cecilia membuat wanita itu sampai bergeser mundur.
“Dia adalah putriku yang sesungguhnya. Dan penipu sepertimu tidak pantas merendahkannya seperti itu."
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1