
Setiap detik bagi Lean saat ini adalah penyesalan. Entah di persimpangan mana yang sedang dia lalui saat ini. Hancur, kalut, khawatir, bahkan ketakutan berbondong-bondong datang menyerang dan menyiksanya tanpa ampun.
Tubuhnya terasa lemas dan tak berdaya, tetapi dia tetap memaksakan diri mencengkram kemudi sekuat yang dia mampu, lalu menginjak pedal gas dan kembali melesat dari sana menuju ibu kota.
Pria itu menggigit bibirnya kuat-kuat menahan sakit hati dan amarah yang tidak dapat dia salurkan saat itu. Lean ingin marah pada dirinya sendiri yang selalu keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan perkataan Caitlyn sedikit pun.
“Maafkan aku,” gumamnya lirih. “Sumpahmu itu benar-benar sudah aku terima sekarang. Aku hancur, Caitlyn. Tidak ada yang lebih menyakitkan jika jauh darimu, dan tidak ada yang lebih menakutkan dari kehilanganmu,” ucapnya lirih dan semakin menaikkan kecepatan mobil.
Baru teringat jelas di ingatannya tentang sumpah Caitlyn, pada hari di mana mereka bertengkar hebat. Wanita itu dengan segala sakit hati dan kekecewaannya, bersumpah jika hari ini akan terjadi dalam hidup Lean. Hari di mana Lean akan menyesal dan merasa hancur, melebihi yang pernah dia torehkan untuk Caitlyn.
“Maafkan aku,” gumam Lean lagi dan lagi. Detik berikutnya, wajah sesal dan cemas itu berubah murka kala mengingat satu nama. “Sania.” Lean menyebut nama itu dengan geram. Manik pekatnya berkilat penuh amarah. “Tunggu, Sania. Aku yang akan datang menghampirimu.”
Dia semakin menaikkan kecepatan mengemudi, membelah jalanan sepi pada waktu hampir larut malam.
Sementara itu, Hadya masih sibuk menunggu kabar dari anak buahnya yang mencari tahu keberadaan Caitlyn. Sudah dua jam berlalu dan belum bisa menemukan jejak mereka. Hadya tidak dapat menahan saking khawatir akan kondisi sang menantu dan calon cucunya.
__ADS_1
Saat ini Hadya dalam perjalanan menuju kediaman utama Sanjaya. Tujuannya ingin mencari petunjuk apapun yang mungkin saja terselip di antara banyaknya benda-benda di dalam kamarnya.
Hadya tiba di rumah sudah hampir pukul 12 malam. Dia langsung menuju kamar miliknya dan Sania. Barang-barang milik Sania saja yang menjadi incarannya. Sementara menunggu laporan anak buahnya, Hadya juga berusaha mencari kemungkinan lain. Dia tidak ingin mati dalam menunggu yang penuh kecemasan.
“Cari, Hady … cari apapun itu sampai ketemu. Kau harus menemukannya untuk menyelamatkan Caitlyn dan calon cucumu,” ucap pria paruh baya itu sambil membongkar seisi kamar mereka.
Hampir tiga puluh menit, Hadya menggeledah seisi kamarnya tetapi tidak ada satu apapun yang bisa dijadikan petunjuk. Dia berhenti sejenak, lalu mengatur napas karena lumayan lelah. Pria itu pun mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan tersebut. Pandangan itu kemudian jatuh pada nakas.
“Ah, di sana belum dijangkau tadi.” Hadya langsung cepat-cepat menuju nakas dan membuka satu per satu laci di sana. “Tidak ada.” Dia pun kesal dan menendang nakas.
Hadya semakin khawatir pada sang menantu yang entah di mana keberadaannya, sementara malam kian larut. Ayah dari Aleandro Sanjaya itu mengusap wajahnya kasar, kemudian menatap hambar pada dinding di depannya.
Tidak sengaja, matanya melihat sebuah lukisan lama yang sudah terpampang di dalam kamar itu berpuluh-puluh tahun lalu. Kening Hadya mengerut melihat posisi lukisan yang miring dan tidak tertata rapi.
“Kenapa miring? Perasaan sejak dulu tidak pernah ada yang memindahkan ataupun menyentuh barang itu,” kata Hadya dan langsung bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Dia menghampiri lukisan itu dan hendak membetulkannya, tetapi sebuah benda tiba-tiba terjatuh dari balik lukisan tersebut. Hadya terkejut dan hampir saja menjatuhkan lukisan besar yang sudah dipegangnya.
“Apa itu?” tanya Hadya dengan kening mengkerut.
Hadya pun membenarkan posisi lukisannya dengan benar, sesudah itu dia menunduk lalu memungut benda tipis di bawah sana.
“Sertifikat rumah dan tanah?”
Pria paruh baya itu menggeleng kepalanya membaca dua lembaran kertas yang beratasnamakan Sania. Hadya tidak percaya jika Sania menyembunyikan hal ini darinya. Akan tetapi, Hadya tidak peduli dan lebih tertarik dengan alamat yang tercantum di sana.
“Semoga ini adalah jalannya.”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1