
Kehidupan Sania dan kedua anaknya kini tampak biasa saja dan jauh berbeda, tidak se-glamour sebelumnya. Kini mereka tinggal di sebuah kota kecil yang jauh dari ibu kota. Kota di mana salah satu perusahaan anak cabang Sanjaya Grup berada. Di sinilah, Nathan memulai semua yang baru.
Dengan sisa uang yang dia miliki, Nathan membeli sebuah rumah mewah berlantai dua yang tidak terlalu besar. Namun, cukup untuk mereka bertiga tempati. Yang dia utamakan adalah kenyamanan dan ketenangan.
Terhitung sudah seminggu sejak kejadian penyekapan kala itu. Luka yang didapatkan Nathan di lengannya pun perlahan mulai membaik dan dia mulai bisa beraktivitas. Nathan mulai menjalankan kembali pekerjaannya tetapi dengan profesi yang berbeda.
Sejujurnya Nathan lebih senang menjadi dokter ketimbang menjadi seorang pemimpin perusahaan. Namun, entah kenapa dia dulunya begitu menggilai dan mengincar posisi kakak tirinya sebagai pemimpin perusahaan raksasa seperti Sanjaya Grup.
Nathan bahkan melakukan segalanya dengan mencuri beberapa dokumen penting Sanjaya Grup dan ingin mengganti nama kepemilikan. Dia juga pernah melakukan cara licik dengan mendoktrin para dewan direksi pemegang saham Sanjaya Grup untuk menjatuhkan kakak tirinya.
Untung saja Hadya selalu bekerja keras di balik kesuksesan putranya. Dialah orang yang paling berjuang untuk melindungi Lean dari berbagai serangan musuh baik dari luar, maupun dari dalam.
Hadya marah dan mengusir Nathan serta mengasingkan dirinya kala itu. Dan kini dia kembali didepak dari jabatan sebagai direktur utama rumah sakit terbesar yang diberikan Hadya atas namanya karena kesalahan dia sendiri.
Nathan kini bertekad untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik. Dia tidak ingin terus dibawa kendali Sania. Oleh karena itu, pagi ini Nathan mulai bersiap mengunjungi perusahaan meski luka tembaknya belum benar-benar sembuh total.
“Kau ingin pergi, Nath? Tapi tanganmu belum sembuh total.” Sania baru keluar dari kamar dan mendapati Nathan yang hendak menuruni tangga.
__ADS_1
“Iya, Ma. Bosan di rumah terus seminggu full. Tangan juga sudah tidak terlalu sakit. Aku bisa mengobatinya sendiri, jadi tidak perlu khawatir," jawab Nathan.
Pria dengan paras yang tidak kalah tampan dari kakaknya itu berjalan terus menuju dapur. Sampai di sana, dia sendiri menyiapkan sarapannya. Nathan sangat memahami jika ibu dan adiknya tidak bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
Dia yang sudah terbiasa tinggal sendiri dan selalu menyiapkan keperluannya sendiri selama ini, tidak lagi kaku dengan hal-hal seperti itu.
“Memangnya kamu sudah menghubungi orang di perusahaan?” tanya Sania lagi.
“Mereka yang menghubungi aku, Ma. Soalnya suami mama yang sudah lebih dulu menghubungi pihak perusahaan.” Lagi Lean menjawab.
“Hah, ternyata dia masih cukup peduli juga. Apa itu artinya mama bisa kembali lagi? Sekalipun tidak, mama akan memungkinkan semua itu.” Sania mulai lagi memikirkan rancangan dan siasat licik di otaknya.
“Diam kamu, Nathan! Mama tidak akan pernah berhenti sampai kehidupan mereka hancur. Jangan harap mama akan mengalah! Tidak dulu, tidak juga sekarang. Mama akan terus memperjuangkan hak kamu. Enak saja dia memberikan hanya 5 persen dari banyaknya harta Sanjaya untuk kamu. Mama tidak akan terima ini sampai kapan pun!” ujar Sania dengan ketus.
Nathan sangat kesal mendengar hal itu. Dia lalu segera bangkit dari duduknya dan hendak pergi.
“Terserah mama mau ngapain, tapi jangan bawa-bawa nama aku lagi! Mama itu gak sadar, karena mama seperti ini, hidup Nathan dan Cecilia ikut hancur, Ma. Jadi Nathan minta sama mama, silahkan lakukan apapun itu, tapi jangan seret Nathan dan Cecilia dalam hal apa pun lagi. Nathan bisa kerja untuk menghidupi diri Nathan dan Cecilia. Terserah mama mau ngapain, terserah ....” Nathan kehabisan kata.
__ADS_1
Selama seminggu ini Sania memang tidak berubah. Dia masih terus merasa tersakiti oleh tindakan Hadya padanya dan kedua anaknya. Sania merasa keputusan Hadya sangat merugikan dirinya dan tidak ada keuntungan sama sekali dalam hal ini, bahkan terkesan tidak berhati. Dia tidak terima, sangat tidak terima.
Oleh karena itu, Sania masih saja merencanakan hal-hal jahat untuk keluarga Sanjaya. Selama hasratnya belum terbalaskan, Sania akan terus berupaya mengusik kehidupan Hadya dan putranya.
“Kalau Cecilia sudah bangun, katakan padanya untuk menyusul aku di perusahaan, ya, Ma. Aku mau tunjukkan banyak hal sama dia,” ucap Nathan sebelum benar-benar pergi.
“Heh, kalau Cecilia ikut sama kamu, nanti mama sama siapa di rumah? Mama kesepian, Nath!” teriak Sania yang masih betah di ruang makan.
“Terserah, Mama. Mulai sekarang, kita beda jalan, Ma!” seru Nathan dan segera menghilang dari pandangan sang mama.
“Anak itu ... baru sekarang bisa hidup sendiri juga belagu. Gak ingat dia apa-apa, mama. Dikit-dikit, mama. Dia pikir yang aku lakukan ini untuk siapa lagi kalau bukan untuk dia? Heran punya anak tidak ada yang penurut,” omel Sania.
Dia lalu bangkit dan berjalan menuju kamar Cecilia Hendak menyampaikan pesan Nathan tadi. Namun Sania berhenti sejenak kala memikirkan sesuatu.
“Tidak, ah. Lebih baik dia tidak usah pergi dan aku akan membujuknya untuk mengikuti rencanaku sebelum Nathan mempengaruhinya.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...