
Lean tidak terima dengan apa yang dikatakan ayahnya. Pria itu berdiri dan menggebrak meja saking emosinya, hingga dia tidak ingat lagi dengan penyakit jantung yang diderita Nenek Sanju.
“Al, jangan seperti itu! Nenek kaget, loh, ini. Kamu mau bikin sakit jantung Nenek kumat?” tegur Caitlyn sedikit marah. Wanita itu tidak suka dengan sikap Lean yang selalu menghadapi segala hal dengan emosi.
“Maaf, Nek. Tapi aku tidak suka dan sama sekali tidak setuju dengan perkataan Papa. Kenapa aku harus pisah sementara sama Caitlyn? Toh, papa sendiri bilang kita tidak pernah berpisah karena berkas-berkas perceraiannya tidak pernah masuk ke pengadilan, ‘kan? Lalu apa lagi yang papa inginkan?” geram Lean.
“Kamu bisa tenang dan dengar penjelasan papa kamu terlebih dulu, Lean?” sanggah Nenek Sanju sekaligus memberi masukan.
Lean menarik napasnya dalam-dalam lalu kembali duduk di tempatnya dengan gaya tak acuh. Pria itu enggan sekali menatap ke arah Hadya. Hadya sendiri hanya tersenyum melihat kelakuan putranya.
Tidak semudah yang kau bayangkan dan yang selalu kamu dapatkan, Lean. Papa terlalu memanjakanmu selama ini hingga kau tidak pernah tau menghargai sebuah hubungan yang baik.
Hadya membatin sambil terus menatap sang putra yang terlihat mulai frustasi. Sebenarnya Hadya pun tidak sampai hari untuk memisahkan mereka lagi, tetapi dia mengeraskan hatinya untuk tetap bisa melakukan hal setega ini.
“Dari semua yang sudah kamu lakukan pada istrimu selama ini, Papa tidak pernah melihat usaha ataupun pengorbanan yang kamu lakukan untuk bisa menebus banyaknya kesalahanmu. Kebersamaan kalian saat ini pun, papa yang paling banyak mengusahakannya. Iya, ‘kan?” Hadya menatap Lean dan Caitlyn secara bergantian.
__ADS_1
“Aku sudah meminta maaf dan berterima kasih sama Papa. Apa itu semua belum cukup?” sembur Lean lagi.
“Tentu saja, Nak. Tidak semudah itu untuk mendapatkan kembali apa yang pernah kau sia-siakan. Terlalu mudah jika saat ini kamu menikmati kebersamaan kalian.” Hadya kini berbicara dengan wajah serius.
Lean meradang dan semakin emosi, sedangkan Caitlyn seperti biasanya. Memilih diam dan tetap tenang sembari mendengarkan apa yang disampaikan oleh ayah mertuanya.
“Papa bilang terlalu mudah? 2 bulan kami berpisah dan itu juga karena campur tangan papa yang menyembunyikan keberadaan dia.” Lean menujukkan ke arah Caitlyn. “Papa dengan sengaja membuat Lean kesusahan sampai hampir gila nyariin keberadaan dia sana sini. Papa juga yang kemarin sengaja membuat aku ke tempatnya yang lama, padahal papa sendiri tau jika dia sudah ada di sini, di kota ini. Aku bolak-balik dalam sehari dengan jarak tidak dekat, apa itu bukan pengorbanan namanya? Dan gara-gara keisengan Papa, aku terlambat datang untuk menolong istri dan anakku. Apa lagi itu namanya, Pa? Apa itu hanya omong kosong?” berang Lean.
Hadya tergelak dan menggeleng. “Kamu mencarinya bukan karena kamu ingin, Lean. Kamu mencarinya hanya karena permintaan nenek kamu. Dan setelah kamu menemukan dia, kamu hanya menyakitinya lagi dan lagi. Yang papa butuh itu kesadaran dan usaha kamu untuk membawanya kembali. Bukan malah membuat masalah seperti kemarin. Semua yang kamu lakukan belum bisa dikatakan berkorban, Lean.” Hadya terus menggeleng.
“Kenapa aku merasa kalau papa tidak senang melihat kami bersatu kembali. Kenapa ... aku jadi merasa kalau bukan orang lain yang menjadi penyebab keretakan rumah tangga kami tapi papa sendiri?” Lean memicingkan matanya. “Aku jadi berpikir jika musuhku yang sesungguhnya itu adalah papa?” cibir Lean.
“Lean?” tegur Nenek Sanju.
Beliau tidak habis pikir jika otak cucunya yang selalu hebat dalam menangani Sanjaya Grup beberapa tahun terkahir ini, jadi berpikir tidak rasional seperti itu.
__ADS_1
“Iya, Nek. Apa lagi yang mau Nenek sampaikan? Apa Nenek juga sependapat sama Papa?” tanya Lean
“Jangan ngaco kamu, Al. Apa gak gila kamu bisa mikir kayak gitu?” Caitlyn berdecak sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku memang selalu gila jika apa pun itu yang ada kaitannya sama kamu," jawab Lean apa adanya dan dia dia sama sekali tidak peduli dengan apa pun.
Lean kembali bangkit berdiri dan kali ini dia menarik tangan Caitlyn agar ikut berdiri dengannya. Pria itu terkesan muak dengan omong kosong sang ayah. Dengan menggenggam erat tangan Caitlyn, Lean menatap tajam pada ayahnya penuh tantang.
“Maaf, Pa. Tapi kami tidak akan berpisah lagi kali ini!” ucap Lean dengan tegas.
Hadya ikut berdiri dan melakukan hal yang sama dengan putranya.
“Dan kamu akan melihat perpisahan itu akan tetap terjadi!”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...