
“Selamat pagi, semuanya,” sapa Lean pada semua mereka yang sudah ada di kamar.
Pria tampan itu terbangun karena terusik dengan keributan di depan pintu ruang rawat istrinya. Saat baru membuka mata, bertepatan dengan ketukan pada pintu dan disusul dokter dan seorang perawat yang masuk ke dalam.
Setalah sang dokter selesai memeriksa keadaan Caitlyn dan mengizinkannya untuk pulang, keluarga besar yang sudah menunggu sedari tadi pun menyerbu masuk setelah kepergian sang dokter.
“Kenapa? Kenapa menatap kami seperti itu?” tanya Lean bingung. Dia menoleh pada Caitlyn seolah meminta penjelasan dan istrinya itu hanya mengedikan bahu tanda tidak jua mengerti.
“Saya rasa mereka masih mengantuk dan belum sepenuhnya sadar, Tuan Sanjaya.” Nyonya Vargas berbicara pada Hadya sambil menahan senyum.
Pria paruh baya itu membuang napasnya kasar lalu berjalan menghampiri ranjang pasien di mana pasangan Lean dan Caitlyn masih duduk manis di sana.
“Lain kali jika ada kejadian yang berujung harus menginap lagi di rumah sakit seperti ini, papa sarankan untuk memakai hotel saja. Nanti segala perlengkapan medis kita minta pindahkan ke sana juga,” ucap Hadya pada menantunya.
Alis Caitlyn berkerut. “Loh, kok, gitu? Memangnya kenapa kalo di rumah sakit seperti ini?” tanyanya bingung.
“Biar suami kamu bebas berekspresi saja. Masalahnya dia suka lupa diri kalau sudah tidur. Apalagi tidur sama kamu, Sayang. Kasihan kami yang tiba-tiba ingin masuk.” Hadya berbicara sambil melirik sinis putranya.
Seperti sudah memahami, Lean berdecak sementara Caitlyn tersenyum malu. “Maaf, Pa,” cicit Caitlyn.
“Ck, tidak usah minta maaf, Sayang. Salah mereka gak ketuk pintu dulu main masuk aja,” ucap Lean yang tidak terima disalahkan.
Hadya melotot pada putranya. “Kau menyalahkan mertuamu juga, Lean?” tanyanya tidak percaya.
“Tentu saja tidak.” Lean beranjak dari duduknya dan mendekat kepada sang ayah. “Padahal iya. Tapi takut bilang ntar dia marah dan ambil putrinya dari Lean, ‘kan, kacau hidup Lean, Pa. Makanya Papa gak usah bahasa-bahasa yang tadi lagi,” bisik Lean di telinga Hadya.
Pria paruh baya itu hampir saja tertawa jika tidak mengingat di depannya ada sang besan. “Ya, sudah. Kita siap-siap dan kembali ke rumah karena nenek sudah menunggu sejak tadi. Dia sangat mengkhawatirkan kalian berdua,” ucap Hadya menatap Lean dan Caitlyn bergantian.
__ADS_1
Nyonya Vargas lalu membantu putrinya untuk menggantikan pakaian dan mengurus segala keperluan Caitlyn yang lainnya. Begitu segala keperluan sudah siap dan baru saja akan keluar, pintu kamar rawat Caitlyn sudah lebih dulu dibuka dari luar. Detik berikutnya dua orang manusia berbeda genre muncul di sana.
“Hai, selamat–”
“Caitlyn?”
“Tuan, Idola?”
Dua orang itu terkejut karena di dalam ruangan tersebut ada orang-orang yang mereka kenali. Sementara itu, Caitlyn, Lean, dan Hadya pun sama terkejutnya melihat keberadaan dua orang tersebut.
“Saskia? Lu ngapain di sini?” tanya Caitlyn dengan raut bingung setengah mati. Perasaan dia tidak memberitahukan soal dirinya yang dirawat di rumah sakit. Ya, dua orang yang muncul itu adalah Saskia dan si bocah setan yang membuat tensinya naik pagi-pagi.
“Gue? Gue ... gue–”
“Kamu pasti pacarnya, Callix. Iya, ‘kan, Nak?” Nyonya Vargas tahu-tahu sudah berdiri di dekat Saskia dan menahan lengan Kia.
Saskia terkejut dan semakin bingung. Belum habis keterkejutannya, dia kembali dikejutkan dengan panggilan Caitlyn kepada wanita yang tengah berdiri di sampingnya.
“Oh, yah, Sayang.” Nyonya Vargas menarik tangan Callix mendekat kepada Caitlyn. “Ini dia adikmu yang keras kepala dan tidak bisa diatur,” imbuhnya memperkenalkan Callix pada Caitlyn.
Caitlyn tersenyum pada pria yang tampak lebih muda darinya itu. “Hai, Boy. Aku ... Caitlyn, kakakmu.” Caitlyn sedikit kaku dan belum terbiasa.
Bukannya menjawab ucapan Caitlyn, Callix justru bertanya pada ibunya. “Jadi, gadis cantik ini kakakku, Mom? Dia ... Kak Caca-nya kita?” Wajah Callix tampak berbinar tak percaya.
“Benar sekali, Sayang. Tapi ... dia bukan lagi seorang gadis, tetapi seorang wanita bersuami,” jawab Nyonya Vargas.
Callix terbelalak. “What? Really? Aku tidak percaya jika dia seorang wanita bersuami.” Lelaki muda itu mendapat satu pukulan kecil dari ibunya. “Mana suamimu, Kak? Apa aku boleh memelukmu? Apa dia tidak akan marah?” tanya bertubi-tubi.
__ADS_1
“Tentu saja boleh. Kemarilah, aku juga ingin memelukmu,” ucap Caitlyn yang langsung merentangkan tangan. Tidak membuang-buang waktu, Callix pun langsung melakukan hal yang sama dan langsung memeluk kakaknya itu.
“Wait, wait. Ly, gue beneran butuh penjelasan.” Saskia segera menginterupsi moment bahagia tersebut.
Caitlyn dan Callix segera melepas pelukan mereka dengan Caitlyn yang langsung menjelaskan semuanya pada sahabatnya itu. Saskia sangat terkejut tetapi tentu saja dia ikut bahagia.
Pelukan bahagia tak lupa Saskia berikan pada sahabat baiknya itu. Namun, suara Lean yang memecah tiba-tiba saja membuyarkan semua keharuan tersebut.
“Bisa hentikan drama berpelukan ini? Ini tidak boleh terjadi karena tidak mendapat izin dariku!” ucap Lean tegas sambil menarik tubuh istrinya. Kecemburuan pria itu dalam mode on.
“Jangan aneh, deh, Al. Mereka adikku dan sahabatku. Kamu yang harusnya hentikan drama cemburumu itu, Sayang.” Caitlyn menegur Lean dengan lembut. Sama sekali tidak ada nada marah atau kesal di sana. Bumil cantik itu bahkan tersenyum sambil berbicara pada suaminya.
“Jadi, Tuan idola ini suaminya Kak Caca?” tanya Callix dengan mata yang membola senang.
“Iya benar. Saya suami kakakmu–”
“Aku senang sekali, Tuan idola.” Callix tiba-tiba memeluk Lean dan menghentikan ucapannya. “Tidak hanya mengidolakan Anda, sekarang bahkan Anda menjadi kakak iparku. Kita sudah menjadi keluarga. Ah, ini kebahagiaan plus buat aku.” Dia berbicara tanpa henti dan dengan suara yang terdengar riang sekali.
Nyonya dan Tuan Vargas melongo melihat tingkah putra bungsu mereka yang terlihat begitu aneh. Sejak kapan anak keras kepala itu mengidolakan seseorang dan begitu senang pada orang baru? Begitu yang terlintas dalam pikiran pasangan paruh baya tersebut.
“Ehem.” Papa Hadya berdehem menginterupsi. Sesungguhnya dia bisa melihat ketidaknyamanan di wajah tampan putranya jadi dia sengaja menghetikan tingkah anak muda yang sempat ia temui beberapa hari lalu. “Bisa kita pulang sekarang? Kamu bisa bertemu idolamu ini kapan saja, anak muda.” Hadya menepuk pundak Callix beberapa kali.
Mereka pun setuju dan bersegera keluar dari ruang rawat itu. Baru saja berjalan melewati koridor menuju lift, semua orang terkejut dengan tingkah Saskia yang tiba-tiba saja memutar tubuh dan berlari dengan arah yang berlawanan.
Caitlyn baru ingin bertanya tetapi sepertinya ia sudah menemukan jawaban, kenapa sampai sahabatnya itu berlari kocar-kacir berbalik arah.
Ah, pasti gara-gara kakak ....
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...