
Seribu cara yang Hadya lakukan dan dengan sedikit paksaan, akhirnya Lean menurut untuk diperiksakan hari itu juga. Sejak kehadiran Jerry, pria tampan itu kembali merasa mual dan muntah beberapa kali, hingga badannya benar-benar lemas.
Hadya mengantarkan Lean ke rumah sakit menggunakan mobil yang berbeda dengan Jerry. Asisten setianya Lean itu mendadak jadi musuh atasannya sendiri hanya karena perkara bau tak sedap. Jerry bingung dengan kelakuan tuannya yang menyuruhnya mengganti merek parfum, padahal dia tidak pernah mengganti parfum apapun sebelumnya.
Kedatangan mereka di rumah sakit langsung disambut oleh beberapa dokter dan perawat sekaligus. Tidak perlu heran, rumah sakit tersebut adalah milik keluarga Sanjaya. Sudah pasti saat mengetahui kedatangan pemilik rumah sakit tersebut, mereka akan menyambut dengan penuh hormat.
“Selamat datang, Tuan. Mari saya antarkan,” ucap Dokter Andra yang menjabat sebagai wakarumkit–wakil kepala rumah sakit tersebut.
Lean dan Hadya diantarkan ke sebuah ruangan pemeriksaan khusus untuk keluarga pemilik rumah sakit, sedangkan Jerry menunggu di luar ruangan. Di sana sudah ada beberapa dokter sekaligus. Di antaranya dokter umum, dokter spesialis gastroentero, dan juga dokter spesialis THT, sesuai permintaan Hadya.
Pemeriksaan langsung dimulai karena Lean yang tidak suka menunda dan ingin segera tidur. Sejak hari pertama mengalami masalah muka dan muntah, pria tampan dan berkharisma itu hanya ingin tidur dan tidur. Tubuh tegap dan atletis itu tidak cukup mampu untuk banyak beraktivitas.
Dimulai dari dokter umum yang kini melakukan serangkaian pemeriksaan dari melakukan tensi, memeriksa kelopak mata, mengecek gula darah, kolesterol dan sebagainya yang bersifat umum,
“Hasilnya, semuanya normal, Tuan. Tidak ada gangguan kesehatan.” Jawaban dari dokter umum.
“Kan, Pa. Lean gak papah. Cuman pusing dan mau tidur. Kita pulang aja, Pa.” Ucapan yang terdengar seperti rengekan itu membuat semua dokter dan perawat yang ada di sana menatap heran dan tak percaya pada putra pemilik rumah sakit tersebut.
“Tidak, tidak. Tidak bisa. Periksa lagi, ayo! Dokter, lanjutkan!” perintah Hadya dan kali ini giliran dokter spesialis gastroentero.
Serangkaian pemeriksaan lebih khususnya pada bagian pencernaan kembali dilakukan dan hasilnya tetap sama yaitu normal dan aman.
“Hentikan ini, Pa. Lean itu sehat, cuman butuh istirahat.” Lagi-lagi Lean memprotes.
“Terakhir, Lean. Ini terakhir dan kalau memang tidak ada gangguan penyakit lagi, papa tidak akan memaksakan lagi.”
Pria itu menurut lagi dan pemeriksaan terakhir iyalah dengan dokter ahli THT. Dokter itu lalu memeriksa khusus pada bagian hidung dan jawaban dari hasil pemeriksaannya sama dengan kedua dokter sebelumnya.
“Jadi sebenarnya kenapa dia sampai muntah berkali-kali dan mual sepanjang hari kalau tidak ada penyakit apapun, Dokter?” tanya Hadya yang tidak ada puas-puasnya sama sekali.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam karena tidak memiliki jawaban sama sekali. Hadya berdecak kesal dan kembali menatap putranya. Wajahnya tiba-tiba berubah dengan mata yang memicing.
__ADS_1
“Apa kau kena santet, Lean?” tanya Hadya dengan suara begitu rendah.
“Astaga, Papa. Kek masyarakat primitif saja. Jangan aneh-aneh deh. Ayo, kita pulang!” Membantah tebakan ayahnya.
Lean sudah bergerak untuk bangkit, tetapi Dokter Andra tiba-tiba membuka suara dan menahan gerakan Lean.
“Sebentar, Tuan Muda.” Maju selangkah dari barisan pada dokter agar sedikit lebih mendekat ke arah Lean.
“Apa lagi? Kau juga ingin mengatakan seperti Papa jika saya kena santet juga begitu? Jabatanmu saya copot nanti,” ancam Lean.
Dokter Anda seketika ketar-ketir sementara yang lainnya antara takut dan ingin tertawa.
“Bu-bukan, Tuan. Saya hanya ingin menanyakan satu hal mengenai Nona Caitlyn.” Ucapan itu berhasil membuat Lean terdiam dengan mata yang memicing menatap dokter itu penuh tanya.
Ekspresi yang sama juga ditunjukkan oleh Hadya. Like daddy, like son.
“Apakah Anda sudah tau jika Nona Caitlyn sedang mengandung saat ini?” pertanyaan itu serta-merta membuat Lean mendadak emosi.
“Lean, sudah. Dengarkan penjelasan Dokter Andra dulu.” Hadya menenangkan putranya yang mulai tersulut emosi. “Silahkan lanjutkan, Dokter!” titah Hadya, sedangkan Lean belum bisa tenang sama sekali.
“Saya minta maaf, Tuan. Waktu itu Nona meminta saya untuk tidak mengatakannya. Saya tidak tau untuk alasan apa jadi saya menurut saja, Tuan. Sekali lagi maafkan saya,” ucap sang dokter penuh sesal.
“Tutup mulutmu, sia*lan!” Lean tidak suka mendengarnya apalagi berkaitan dengan anak Caitlyn.
“Lean, tenang dan diamlah!” ucap Hadya pada putranya dengan tegas. Dia lalu kembali beralih pada sang dokter. “Terus sangkut pautnya dengan semua ini apa, Dokter Andra?” lanjut Hadya.
“Jadi begini, Tuan. Dari gejala-gejala yang dikeluhkan oleh Tuan Muda, sepertinya Tuan mengalami couvade syndrome atau yang sering dikenal dengan kehamilan simpatik–”
“Breng*sek! Waktu itu kau menyembunyikan tentang kehamilannya dan sekarang kau mengatakan jika aku yang hamil? Benar-benar dokter si*alan kau ini,” sembur Lean saat Dokter Andra belum menyelesaikan perkataannya.
Pria tampan itu tidak terima dan ingin menghajar dokter muda di hadapannya saat itu juga, tetapi Hadya selalu menahannya.
__ADS_1
“Lean, jangan buat papa pusing! Tolong dengarkan penjelasan dia dulu, Nak. Kamu seperti ini papa jadi pusing sekali.” Hadya menatap wajah putranya itu dengan datar.
“Dia mengatakan Lean hamil, Pa! Apa itu tidak kurang ajar? Sejak kapan Lean jadi transgender?” sungut Lean pada ayahnya.
Hadya langsung saja tergelak begitu mendengar sungutan anaknya yang terdengar lucu. Dia pun menepuk-nepuk punggung Lean memintanya untuk tenang dan mempersilahkan Dokter Andra melanjutkan penjelasannya.
“Lanjutkan, Dok!” Lagi perintah Hadya.
Dokter Andra dengan takut-takut kembali melanjutkan penjelasannya. “Couvade syndrome atau kehamilan simpatik adalah masalah yang terjadi pada pasangan suami-istri di mana pada saat sang istri tengah hamil. Dalam hal ini, istri yang sementara hamil tidak mengalami yang namanya masa ngidam atau gejala-gejala kehamilan. Namun, justru sebaliknya gejala-gejala itu dirasakan oleh suami seperti yang sekarang dirasakan oleh Tuan Muda,” jelas sang dokter.
Hadya mengangguk sedikit paham dengan penjelasan di atas.
“Jadi, menantu saya yang mengandung tetapi putra saya yang ngidam saat ini? Begitukah, Dok?” tanya Hadya dan diiyakan oleh para dokter di sana. “Kenapa bisa terjadi seperti itu, Dokter? Dan sampai kapan anak saya merasakan seperti ini terus?” tanyanya lagi.
“Couvade syndrome bisa terjadi karena hormon dalam pasangan pria atau suami juga ikut meningkat. Biasanya suami-istri yang memiliki ikatan batin yang kuat atau suami yang sangat mencintai istrinya akan mengalami hal seperti ini. Mungkin itu juga yang sedang terjadi dengan Tuan Muda dan Nona Caitlyn.”
Dokter Andra menjeda sebentar lalu melirik pada Lean yang tampak datar sekali wajahnya. Dalam hati dia bertanya-tanya kenapa wajah itu terlihat tidak senang. Berbeda dengan Hadya yang jelas sekali tampak bahagia.
“Syndrome ini hanya terjadi pada trimester pertama dan trimester ketiga selama sang istri hamil. Nantinya dapat sembuh sendiri seiring masa kehamilan. Cara mengobatinya sama dengan wanita hamil yang mengatasi morning sickness. Hal yang paling utama dilakukan adalah dengan manjauhi semua hal yang dapat memicu mual dan muntah, serta menjaga asupan makan yang teratur. Dan … masalah couvade syndrome ini bisa dijadikan motivasi Tuan Muda dan Nona Caitlyn dalam menjalani masa kehamilan Nona. Hal ini juga dapat menguatkan hubungan suami-istri karena suami dapat maresakan apa yang dirasakan oleh istrinya.” Dokter Andra menyudahi penjelasannya.
“Terima kasih, Dok. Saya mengerti sekarang,” ucap Hadya dengan raut bahagia.
“Sama-sama, Tuan. Saya akan berikan beberapa resep untuk mengatasi mual dan muntah Tuan Muda,” sahut Dokter Andra.
Sekali lagi Hadya berterima kasih. Namun, Hadya mengernyit melihat ekspresi Lean yang sangat berbeda.
“Lean, Lean! Kamu kenapa, Nak?”
“Pa, Lean ….”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...