Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 103. Sefrekuensi


__ADS_3

Pada hari itu juga, Hadya mendapat hasil laporan dari anak buahnya tentang alamat dan keberadaan Sania. Waktu setempat sudah pukul 10 malam dan kediaman keluarga Sanjaya telah sepi tidak ada aktivitas lagi.


Anggota keluarga terpandang itu kini berada di kamar masing-masing. Begitu juga dengan Lean dan Caitlyn yang saat ini sedang berbagi cerita menjelang tidur.


“Al, kok papa sudah tidak marah lagi kamu nginap di rumah terus. Bukannya masa hukuman kamu belum selesai, yah?” tanya Caitlyn.


Pasalnya dia tidak tahu soal kekhawatiran sang suami dan papa mertuanya sehingga mereka memutuskan untuk menghentikan hukuman pada Lean.


“Kata papa tidak usah diteruskan. Katanya papa kasihan liat kamu yang kesepian dan kangen sama anaknya terus.” Lean menjawab dengan random.


Caitlyn tertawa kecil karena dia tahu Lean sedang bercanda. “Alasan saja kamu. Bilang aja kamu yang gak tahan lalu mohon-mohon sama papa, ‘kan? Pasti nyogok ke papa, nih.” Tuding balik Caitlyn.


“Sumpah, Sayang. Mana ada nyogok? Orang papa mertuamu itu banyak duit.” Lean membela diri dengan kedua jari yang diacungkan pertanda bahwa dirinya tidak sedang berbohong.


Saat ini keduanya tengah duduk pada sofa besar yang terdapat dalam kamar, dengan posisi Lean yang berbaring di pangkuan istrinya. Pria itu berbicara dengan posisi yang terus menengadah, menatap wajah cantik Caitlyn yang tampak selalu cerah.


“Ya ... bukan nyogok pake duit aja. Bisa jadi nyogok pake ... pake ....” Caitlyn tampak berpikir sejenak.


“Pake apa? Jangan aneh-aneh, yah.” Lean menunggu dengan kepala yang sesekali dia miringkan ke arah perut Caitlyn dan memberi kecupan di sana. Tidak lupa tangannya aktif mengelus bagian yang mulai tampak menonjol itu.


“Pake wanita gitu bisa, ‘kan?” Selesai mengucapkan itu Caitlyn langsung menutup mulutnya sendiri.


Lean kaget dengan ucapan istrinya. “Ya, ampun, Sayang. Sejak kapan punya pikiran gitu sama papa? Bener, ‘kan, mulai suka aneh.” Lean menurunkan tangan Caitlyn yang menutupi wajah cantiknya itu. “Kenapa bisa mikir gitu, hm?” tanya Lean dengan lembut.


Caitlyn menggeleng. “Gak tau juga. Tiba-tiba mikir gitu aja. Ya ... ya, mungkin saja papa emang butuh pendamping baru gitu ....” Sengaja menggantung kalimatnya.


Lean menatap istrinya dalam diam selama beberapa detik, hingga sesuatu terlintas di pikirannya. Dia pun bangkit dari tidurnya dan duduk bersila menghadap ke arah Caitlyn.


“Bicarakan soal wanita dan pendamping, nih. Tau gak, tadi siang papa ketemu sama Saskia di Cafe ‘n Resto.

__ADS_1


“Saskia? Ngapain dia sama papa di sana?” tanya Caitlyn penasaran.


Lean lalu menceritakan kronologi saat dia tiba di sana. Mulai dari dia melihat Saskia, adanya si bocah tengil, papanya yang terlihat terhibur dengan tingkah bocah itu, perdebatan Saskia dan si bocah tengil, sampai kepergian mereka. Tidak ada satu pun yang terlewatkan dari cerita Lean, bahkan pendapat sang papa tentang selera Saskia yang dianggap aneh oleh pria yang hampir memasuki usia setengah abad itu.


“Serius? Wah, papa hari ini nongkrong bareng anak muda tapi gak ngajak aku? Wah, wah ... papa bener-bener udah gak sayang lagi sama aku, nih. Mana udah mulai perhatian lagi sama Saskia. Bahaya, Al.” Caitlyn menyipitkan matanya.


“Bahaya apanya, Sayang? Bagus dong kalo papa memilih punya pasangan lagi. Tapi ... tapi jangan Saskia juga. Yang ada otak papa jadi ikutan kayak dia. Gak, ah!” Lean menggeleng kuat.


“Nah, itu dia, Sayang. Saskia itu baik tapi agak miring otaknya. Kalau misal mereka jadi pasangan nih, yang ada papa bisa ikutan miring kayak tuh anak.” Caitlyn mendukung opini suaminya.


Pasangan suami-istri itu tiba-tiba saja saling menatap dan detik berikutnya pecah suara tawa di antara mereka. Benar-benar pasangan serasi. Mereka merasa lucu karena tiba-tiba menjadikan papa Hadya sebagai bahan obrolan dengan mengandai-andaikan kehidupan percintaan pria luar biasa satu itu.


“Kamu yang mulai, yah, Al. Aku hanya ikutan, loh. Kalo ketahuan sama papa dan dia marah, kamu yang tanggung jawab, yah. Aku gak.” Caitlyn berucap di sisa-sisa tawanya.


“Ok, aku–”


“Panjang umur orangnya, Sayang. Sebentar, yah, aku jawab telepon papa dulu.” Lean berdiri dari duduknya setelah memberikan satu kecupan di bibir Caitlyn.


Kenapa gak dijawab di sini aja, sih? Perkejaan atau urusan apa yang tidak boleh aku tau?


Caitlyn membatin karena merasa tersinggung dengan cara suaminya menerima telepon dengan harus berjarak darinya. Padahal itu hanya telepon dari papa mertua.


Tidak sampai berapa lama kemudian Lean yang tadinya berjalan ke arah balkon, kini telah kembali dengan wajah berbeda tak seceria tadi.


“Sayang, aku mau ke ruang kerja papa sebentar. Kamu tidur duluan saja, yah. Gak usah tungguin aku. Ayo, sekarang tidur!” Lean hendak meraih tangannya dan menuntunnya ke tempat tidur, tetapi Caitlyn menolak.


“Ada apa, Al? Apa ada masalah di kantor?” tanya Caitlyn karena melihat wajah suaminya yang begitu serius sekarang.


“Hm, tidak juga. Hanya ada masalah kecil. Tidak perlu khawatir, Sayang. Itu bukan tugasmu. Ada aku dan papa yang akan memikirkan segalanya. Tugas kamu hanya banyak istirahat dan jaga anak kita dengan baik. Okay? Sekarang waktunya tidur. Papa nungguin aku di bawah,” ucap pria berparas tampan itu dengan tegas.

__ADS_1


Lean lantas membawa wanita hamil itu menuju tempat tidur, tanpa menunggu persetujuan darinya lagi. Setelah membaringkannya di sana, tidak lupa dia menyelimuti tubuh sang istri. Lean beranjak kembali menuju pintu balkon dan menguncinya rapat, lalu menutup semua tirai yang ada di sana.


Kembali lagi dia ke arah ranjang dan mematikan lampu utama, lalu menyisakan lampu tidur. And the last, Lean mendekati ranjang dan memberi ciuman selamat tidur untuk wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi ibu dari anaknya.


“Aku tidak akan lama, Sayang. Good night!”


Lean lalu segera keluar menuju ruang kerja ayahnya. Sampai di sana, Hadya langsung memberikan alamat tempat tinggal Sania yang dia dapat dari anak buahnya.


“Jadi dia tidak tinggal bersama Nathan dan Cecilia?” tanya Lean dan Hadya pun mengangguk.


“Awalnya mereka tinggal bersama tetapi dia lalu memilih kembali ke kota ini meninggalkan Nathan dan Cecilia di kota kecil itu,” jelas Hadya. “Dia terlalu terobsesi dengan keluarga kita, Lean. Dan coba lihat tempat tinggalnya itu. Dia mencari lokasi strategis yang bisa menjangkau kantor dan rumah ini sekaligus dengan cepat. Licik,” ucap Hadya geram.


“Oke. Besok kita harus ke sana. Minta orang-orang papa untuk memantau pergerakannya supaya kita langsung mendatanginya tanpa perlu pemberitahuan," ucap Lean.


“Itu sudah pasti. Dan saat kita ke sana, papa sudah siapkan penjagaan super ketat untuk Caitlyn,” tambah Hadya.


Lean mengangguk setuju dengan wajah serius. Akan tetapi, detik berikutnya dia menatap sang ayah dengan senyum jahil.


“Apa aku perlu panggil Saskia ke sini untuk menemani Caitlyn, Pa?” Sengaja bertanya dengan wajah menggoda.


“Itu urusanmu. Papa mau tidur. Selamat malam!”


Hadya langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang kerja, meninggalkan Lean yang sedang tergelak karena berhasil menggoda ayahnya.


“Papa, papa ....”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2