
Sore itu Rendi menunggu Caitlyn hingga jam dinding menujukkan pukul 6 sore waktu setempat. Padahal Lean sudah naik dan menemuinya sejak panggilan telepon tadi dua jam lalu.
Namun, entah mengapa wanita hamil itu baru muncul sekarang. Pastinya, dia mandi dan makan terlebih dahulu sebelum menemui Rendi. Tidak mungkin Lean membiarkan Caitlyn langsung bangun dan menemui kakak angkatnya itu dengan perut kosong.
“Hai, Kak. Maaf sudah buat Kak Rendi lama menunggu.“ Caitlyn sangat tidak enak hati.
Wanita cantik itu melirik suaminya dengan wajah cemberut disertai kesal. Kalau bukan karena perbuatannya, Caitlyn sudah bisa menemui Rendi sejak siang tadi. Lean merespon tatapan istrinya dengan satu kedipan yang membuat Caitlyn tidak bisa lagi marah.
“Tidak masalah, Nona. Sampai besok juga saya siap menunggu.” Rendi sedikit berkelakar dan benar saja, itu berhasil membuat Caitlyn tersenyum.
“Bisa aja, Kak.” Dia dan Lean lalu memilih duduk pada sofa yang bersebrangan dengan Rendi. Tapi nih, yah, Kak. Tolong ganti panggilan Kakak tadi, yah. Panggil Caitlyn atau Lily saja. Tidak perlu pake embel-embel nona segala. Formal banget, Kak. Gak asik, ah,” protes Caitlyn tidak suka.
Rendi jadi tidak enak dengan permintaan yang satu ini. Dia masih ingat benar ancaman Lean saat penyekapan minggu lalu. Bagaimana mungkin Rendi berani menyebut nama wanita itu begitu saja? Apalagi di depan suaminya pula? Wah, Caitlyn seolah sedang menjebaknya saja.
Pria itu menggaruk tengkuknya sambil melirik pasangan suami istri itu bergantian. Dia bingung ingin memberikan jawaban apa. Sementara Lean pun hanya diam saja tidak merespon ucapan istrinya.
“Emm, maksudnya, saya ... saya tidak bisa, Nona. Saya tidak pantas untuk memanggil seperti yang Nona minta. Maafkan, saya.” Akhirnya Rendi memberikan alasan yang memang apa adanya.
Caitlyn berdecak. “Memangnya apa yang salah dari permintaanku? Apanya yang tidak pantas? Aku tidak pantas menjadi adikmu? Oh, astaga. Malang sekali nasibku.” Caitlyn memasang wajah sedih. “Entah di mana orang tua kandungku. Ayah angkatku meninggalkan aku, dan sekarang kakak angkat pun tidak ingin mengakuiku adiknya. Kasian sekali hidupku ini.” Caitlyn menunduk sedih. Benar-benar sedih dan itu tidak dibuat-buat.
__ADS_1
Ya, mungkin saja faktor hamil jadi moodnya sensitif sekali dan suka berubah-ubah kapan saja. Sebentar-sebentar dia akan merasa senang, sebentar-sebentar dia akan marah-marah pada Lean, sebentar-sebentar dia merasa bosan, sedih, dan sebagainya.
Rendi dan Lean jadi serba salah. Sebenarnya Lean sangat keberatan karena bagaimanapun Rendi tidak sedekat itu dengan istrinya dan mereka pun baru saling mengenal pasca Lean membongkar semua rahasianya. Akan tetapi, dia harus mengabulkan permintaan wanita cantik yang tengah mengandung itu. Apapun itu akan Lean penuhi asalkan dia selalu dapat melihat senyum manis di wajah cantik sang istri.
“Penuhi permintaannya, Ren. Lakukan yang dia inginkan,” putus Lean pada akhirnya.
Rendi kaget dan sedikit ragu karena melihat wajah Lean yang tanpa ekspresi sama sekali. Wajah pria tampan itu tampak datar saja.
“Ren?” panggil Lean menyadarkannya karena pria itu terlihat sedang melamun.
“Ah, ya. Baiklah! Saya ... saya panggil saja Lily seperti yang diinginkan, Nona,” ucap Rendi sedikit tidak enak.
Lean dan Rendi pun dibuat tertawa karena ucapan serta ekspresi wanita hamil itu.
“Ya, ya. Baiklah, Lily.” Rendi berucap sambil mengangguk.
Caitlyn baru dapat tersenyum sekarang. “Nah, gitu kek dari tadi.” Di lalu sedikit menjeda, setelah itu dia pun melanjutkan permintaan berikutnya. “Em, jadi bagaimana dengan tawaran aku yang waktu di rumah sakit itu, Kak? Sudah Kakak pikirkan, ‘kan?” tanyanya.
Rendi mengangguk. “Sudah, dan saya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah ayah saja,” jawabnya dengan mantap.
__ADS_1
Wajah cantik Caitlyn berubah datar mendengar jawaban itu. Jauh di lubuk hatinya, dia sangat berharap jika Rendi mengiyakan permintaannya. Lean pun sedikit kaget. Dia berpikir yang sama dengan sang istri. Dia pikir Rendi begitu menyukai jika bisa tinggal di rumah mereka yang begitu besar.
“Kenapa, Kak?” tanya Caitlyn dengan nada pelan tak seceria tadi.
“Em, gini, Ly. Saya ingin tetap di sana saja agar saya bisa merasa dekat dengan ayah. Saya juga ingin memperbaiki hidup supaya ayah senang melihatku yang sudah jauh lebih baik. Saya ... saya menyesal jika meninggalkan rumah peninggalan ayah. Meskipun tempat itu kumuh, tapi ... saya dibesarkan di sana, Ly. Saya akan merasa jauh lebih baik jika tetap di sana.” Rendi memberi alasan yang sangat menyentuh Caitlyn dan juga Lean.
Raut Caitlyn mendadak sedih bukan karena penolakan Rendi, tetapi karena alasan pria itu yang mengingatkan Caitlyn akan sosok ayah angkatnya yang begitu sangat menyayanginya.
Dia lalu menatap Lean di sampingnya. “Besok aku ingin ke sana. Boleh, yah, Al.”
Oh, sh*it! Permintaanmu kenapa selalu hal-hal yang tidak aku sukai, sayang ...?
Sementara Rendi merasa lega karena Caitlyn tidak sampai memaksanya.
Akhirnya, saya bisa melakukan permintaan ayah mertuanya ....
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1