
Sania terkejut dengan tawaran yang diberikan Lean, tetapi wanita licik itu bersikap tenang agar tidak terintimidasi dengan tatapan-tatapan tajam dari dua pria gagah di depannya.
“Bagaimana, Nyonya Wiguna? Apakah yang aku tawarkan masih kurang? Katakan saja, apapun itu.” Lean berseru menyudahi pertimbangan Sania yang tampak begitu jelas dalam diam.
“Oho, jadi kalian sudah tau kalau aku mengetahui informasi ini?” Sania berpura-pura berdecak kagum. “Harusnya aku tidak perlu terkejut dengan hal-hal seperti ini, bukan?” Wanita itu merubah cara duduknya kembali. “Sejujurnya tawaranmu cukup menggiurkan, Tuan muda. Tapi sayang, itu saja tidak cukup untuk membuatku merasa puas,” ucap Sania tanpa menutupi apapun.
“Sudah aku duga ... kau memang serakah, Nyonya Wiguna.” Lean berdiri dan merapikan jas yang dia kenakan. “Katakan, apalagi yang kau inginkan?” Kedua tangan Lean kini di masukan ke dalam saku celananya.
Sania tersenyum iblis dan ikut berdiri di hadapan Lean. “Tidak banyak yang aku inginkan, Tuan Muda Sanjaya. Dan aku rasa ini terlalu mudah untuk dikabulkan. Aku hanya ingin ....” Sengaja menggantung kalimatnya dan dia pun menundukkan pandangan menatap Hadya yang masih duduk dengan tenang. “Kembali ke kediaman Sanjaya dan pulihkan statusku sebagai Nyonya Sanjaya seperti sebelumnya!” imbuh Sania dengan tegas.
Mendengar itu Hadya geram dan langsung bangkit dari duduknya, kemudian ikut berdiri berhadapan dengan Sania.
“Jangan mimpi, wanita iblis. Kau tidak akan pernah mendapatkan hal itu. Aku membuka kesempatan bagimu untuk mengajukan gugatan atas harta gono-gini. Ayo, lakukan itu! Aku akan mengabulkannya tetapi tidak untuk membawamu kembali!” ucap Hadya tidak kalah tegas.
Sania menghempaskan lembut tubuhnya kembali ke sofa dan duduk dengan gaya angkuh nan menjengkelkan di mata Hadya.
“Sayang sekali. Aku hanya ingin kembali mendapat status sebagai Nyonya Sanjaya. Aku rasa ini permintaan yang begitu mudah. Tapi ....” Sengaja menggantung ucapannya.
“Tapi apa lagi, Nyonya Wiguna?” tanya Lean yang mulai muak dengan pembicaraan ini.
“Tapi ... jika kalian tidak juga mau ... maka aku akan terus menghalangi setiap langkah kalian dan juga ....” Sania menaruh satu kakinya di atas kaki yang lain, lalu menengadah dengan angkuh. “Aku akan terus mengincar anak pungut itu dan membuatnya menderita!” lanjut Sania dengan wajah serius.
Detik itu juga Lean merogoh desert eagle dari dalam jasanya. Dengan cekatan dia langsung menarik pelatuk dalam sekali gerak dan langung mengarahkan moncong senjata itu ke kepala Sania.
“Tidak, Lean!” seru Hadya berusaha menghentikan aksi putranya.
“Jangan menghalangiku kali ini, Papa! Seharusnya dia sudah aku habisi saja sejak hari itu juga. Tapi sekali lagi papa menghalangiku! Tidak, Pa. Jangan kali ini lagi!” Lean siap meledakkan kepala wanita iblis itu.
Berbeda dengan Hadya yang tampak tegang dan panik, Sania justru terlihat santai sekali. Wanita iblis itu bahkan tersenyum samar. What the hell! Nyawanya sedang dipertaruhkan di sini, dan dia tampak tenang-tenang saja? Benar-benar titisan iblis.
__ADS_1
“Lean, dengarkan papa–”
“Tidak, Pa. Wanita tua ini sudah dengan berani dan untuk kesekian kalinya dia menghina istriku. Dan aku Aleandro Vernon Sanjaya, tidak menerima penghinaan sekecil apapun terhadap istriku!” ucap Lean dengan tegas.
“Lakukan saja, Tuan Muda Sanjaya. Lakukanlah ... dan kau akan kehilangan semua informasi mengenai orang tua kandung istri tercintamu itu untuk selamanya!”
...***...
Suara tembakan berturut-turut terdengar menggema di sebuah arena lapangan tembak. Dua orang pria tampan berparas bule, tengah saling beradu melumpuhkan satu terget yang berada di depan sana pada jarak 25 meter.
Beberapa kali mencoba, seorang yang lebih muda di antara satunya lagi yang kemudian berhasil menjatuhkan target di depan sana.
“Lebih fokus lagi, Kak. Sudah cukup. Aku capek,” ucap pria yang tampak lebih muda.
Dia memilih beristirahat setelah beberapa kali melakukan latihan yang sangat digemari oleh keluarganya. Dia pun begegas meletakkan pistol dan hendak berlalu dari sana. Namun, langkahnya ditahan oleh pria lain yang dia sebut ‘kakak’.
“Sebentar, Callix. Bagaimana dengan permintaan daddy?” tanya pria yang satunya.
“50:50. Kakak tau aku tidak suka diatur. Jadi bukankah sudah sangat adil keputusanku ini?” Bukan bertanya. Dia hanya meminta pendapat yang sebenarnya tidak juga dia butuhkan.
“Tapi daddy butuh kamu untuk meneruskan kepemimpinannya, Callix. Kau tahu jika profesi itu bukanlah bagian dari diri kakak. Hanya kamu satu-satunya harapan daddy. Tolong bantu daddy agar dia bisa fokus mencari Caca.” Callix menatap pria yang adalah kakaknya itu.
“Aku akan tetap memenuhi permintaan daddy tapi aku juga punya pilihan hidup sendiri, Kak. Please, biarkan aku tetap di apartemen itu. Kita bicarakan ini lain waktu lagi, Kak. Aku balik,” ucap Callix dan langsung pergi begitu saja.
Pria yang satunya mengangkat kedua bahunya dengan tangan yang terbuka.
“Susah sekali mengatur anak itu.” Pria itu menggeleng pelan lalu kembali melanjutkan latihannya.
Tidak lama berselang, seorang wanita setengah baya yang masih nampak cantik, datang dan menegurnya.
__ADS_1
“Chris,” panggil wanita itu.
“Yes, Mom!” sahutnya yang mengenali suara ibunya tanpa perlu berbalik dan melihat.
“Pak dokter, kok, latihannya ala mafia.” Ibunya tertawa kecil. “Kamu itu gak cocok pegang yang beginian. Kamu cocoknya pegang stetoskop, jarum suntik. Kalo yang ini bidangnya daddy sama adikmu. Gimana, sih,” tegur wanita cantik di sana.
Pria yang dipanggil Chris berhenti dan meletakkan kembali senjata yang dipegangnya ke tempat semula. Dia lalu melangkah menghampiri ibunya.
“Tidak ada salahnya mencoba, Mom. Ya, buat menambah pengalaman saja. Siapa tau bermanfaat suatu hari,” ucapnya sembari mengedikan kedua bahunya.
Wanita setengah baya itu tersenyum lalu mengangguk. “Mommy bahagia memiliki tiga jagoan tampan yang bisa melindungi mommy. Tapi ... mommy juga sedih karena hanya sendiri yang cantik di sini.” Ia tersenyum masam. “Andai waktu itu mommy gak maksa buat ikut ke sana ... mungkin sekarang mommy punya teman yang bisa diajak ke salon bersama, teman masak, teman berbagi cerita seputar dunia perempuan,” tuturnya penuh sesal.
“Itu bukan salah Mommy. Itu semua pure musibah. Tidak ada yang perlu dipersalahkan dalam hal ini. Dan ... Mommy tenang saja karena daddy sekarang kembali berusaha ingin mencarinya, ‘kan?” Chris berusaha menenangkan dan menyemangati ibunya lagi.
Bertahun-tahun lalu, keluarga mereka berlibur dari Seattle, sekaligus hendak mengunjungi sebuah lokasi yang akan dibangun kantor cabang milik perusahaan keluarga mereka.
Namun, sebuah kejadian naas mengakibatkan keluarga kecil itu kehilangan salah satu anggotanya yang masih kecil. Hal itu membuat mereka akhirnya membatalkan pulang ke Seattle dan memilih tetap di ibu kota ini dengan harapan dapat bertemu dengan dia yang terhilang kala itu.
“Mommy penasaran dengan wanita yang kamu ceritakan waktu itu, Chris. Kamu bilang matanya mirip sekali dengan Caca kecil kita. Di mana dia sekarang? Bolehkah kita menemuinya?” tanya wanita itu.
“Ah, itu ... kayaknya sulit, Mom. Mereka dari keluarga terpandang dan orang penting di kota ini. Sulit untuk bisa menemui dia kalau tidak ada kepentingan.” Jawaban itu membuat sang ibu sedikit kecewa.
“Kamu pasti punya nomor teleponnya, ‘kan?” Tetapi belum juga mau menyerah.
“Mommy, jangan memaksa seperti ini! Dia itu wanita bersuami. Kalau ditelepon laki-laki lain dan suaminya marah gimana, Mom? Tuan Muda Sanjaya itu sangat mengerikan, Mom. Chris tidak berani,” tolak putranya mentah-mentah.
“Tuan Muda Sanjaya? Sepertinya pernah dengar tapi di mana, yah?”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...