
Seseorang yang memanggil Caitlyn saat itu, tiba-tiba saja terdiam dan menghentikan ucapannya dengan tak wajar. Caitlyn mantap orang yang memanggilnya tersebut adalah Dokter Vargas. Namun, detik berikutnya dia terbelalak melihat dokter itu mendadak diam karena aksi nekat nan konyol sahabatnya.
“Saskia, lu gi*la, yah? Badassss bener. Sadar ih.” Ucapan itu seketika menyadarkan Saskia.
Saskia langsung melepaskan bibirnya yang menempel di bibir sang dokter. Takut jika suara dokter itu didengar oleh Sania dan Nathan, Saskia langsung menariknya dan membungkam mulutnya. Wanita bertubuh semok itu mendadak canggung, tetapi berusaha untuk terlihat tetap slayyyy.
“Oh, itu. Maafkan saya, ya, Dok. Tadi itu saya refleks karena kita berdua lagi jadi detektif dadakan. Hehe,” jelas Saskia sambil terkekeh. “Suara dokter agak besar tadi makanya saya takut keberadaan kami ketahuan dan akhirnya … itu saya nekat jalan ninja saja, Dok . Maafkan saya,ya, Dok. Kalau mau minta tanggung jawab juga saya oke-oke saja,” lanjut Saskia yang membuat Caitlyn hanya bisa geleng-geleng.
Sementara itu, Dokter Vargas tidak memberi respon apapun dan hanya menatap diam sambil mengangguk kecil.
Shock ya, dok?
Saskia membatin dan tertawa dalam hati.
“Hm, maafkan sahabat saya, ya, Dok.” Caitlyn ikut meminta maaf. “Bagaimana dengan pasien itu, Dok? Sudah 2 bulan ini saya tidak mendapat laporan apa-apa, Dok. Katanya sudah lumayan membaik. Apa belum sadar juga?” tanya Caitlyn penasaran.
__ADS_1
“Itu yang mau saya sampaikan untuk Anda tadi.” Melirik Saskia dengan datar. “Pasien yang bersangkutan dua hari kemarin sudah sadar–”
Tiba-tiba terdengar suara benda yang jatuh dengan keras dari arah Nathan dan Sania. Caitlyn dan Saskia refleks saling menatap. Hanya dengan tatapan saja, mereka jadi tahu isi pikiran masing-masing. Saskia langsung mengintip ke arah benda jatuh tadi, tetapi dua orang di sana sudah tak lagi ada.
“Sh*it! Mereka ngilang, Ly.” Saskia mengumpat tanpa peduli dengan keberadaan orang lain di antara mereka. Gadis bertubuh semok itu memang tidak ada jaim-jaimnya.
Caitlyn terbelalak dan langsung berbalik manarik tangan Dokter Vargas, lalu segera berlari meninggalkan tempat tersebut. Saskia yang cukup mengerti akan hal itu, refleks ikut berlari. Panik mendadak dan kalang kabut membuat Caitlyn lupa jika dirinya sedang mengandung. Begitu juga dengan Saskia yang lupa menyadarkan sahabatnya.
Pikiran keduanya hanya tertuju pada satu orang yaitu pasien yang ditangani oleh Dokter Vargas. Menyadari bahwa Sania dan Nathan telah mendengar pembicaraan mereka tadi, Caitlyn langsung bergerak ingin melindungi pesien yang memegang kunci indentitas dirinya.
Dokter Vargas yang bingung dan tidak mengerti apa-apa, ikut berlari mengikuti langkah dua wanita itu. Dia bahkan tidak sadar jika Caitlyn masih menggenggam tangannya. Namun, dari kejauhan Jerry yang sedang mencari Caitlyn saat itu, melihat dan mendadak menghetikan langkah mereka.
Ketiganya berhenti dan mendapati asisten pribadi Lean di sana. Pria itu berlari kacil beberapa langkah agar mendekat cepat, sedangkan Caitlyn langsung melepaskan tangan dokter Vargas.
“Apa yang anda lakukan, Nona? Anda lupa jika sedang mengandung?” tanya Jerry yang langsung menyadarkan Caitlyn akan kecerobohannya. Pria yang sama datar dan sama mengesalkan seperti tuannya itu beralih menatap Dokter Vargas. “Anda tahu kesalahan apa yang sudah Anda lakukan, Dokter? Jika saja terjadi sesuatu dengan Nona dan calon penerus Sanjaya, Anda akan terima resiko yang tidak pernah Anda bayangkan.” Selesai mengancam sang dokter, Jerry berbalik pada Saskia. “Dan Anda, bukankah Anda dipercayakan Tuan Besar untuk menjaga Nona? Anda sedang membahayakan kami semua malam ini, Nona Saskia.”
__ADS_1
Jerry berucap dengan wajah datar dan nada yang normal, tetapi mereka tahu ada peringatan, ancaman, serta kekesalan yang tersirat di setiap ucapannya.
“Gara-gara dia, sih.” Saskia kesal sambil menunjuk Dokter Vargas dengan dagunya.
“Husss, sembarangan kalo ngomong.” Caitlyn langsung memukul lelangan sahabatnya. “Maafkan sahabat saya, ya, Dok.” Dia lalu menatap asisten mantan suaminya. “Jangan marah pada mereka berdua! Ini semua salah aku dan aku mohon jangan kasih tau sama papa, ya. Please.” Caitlyn memohon dengan kedua tangan terkatup di depan wajah sang asisten.
“Kita lihat saja nanti, Nona.” Ucapan yang sangat datar.
“Kan, sama menyebalkan dengan tuannya,” gumam Saskia tak acuh dan mendapat pelototan dari Caitlyn.
Mengabaikan sindiran sahabat dari mantan istri atasannya, Jerry lalu manyampaikan tujuannya mencari wanita itu. “Mari, Nona. Tuan sudah menunggu di ruang pemeriksaan.”
“Dokter, kita bertemu lagi nanti. Tolong jaga dia baik-baik. Siapapun yang ingin masuk ke sana, tolong jangan izinkan,” pesan Caitlyn pada Dokter Vargas. “Ayo, Kia!”
Mereka berpisah dengan perasaan Caitlyn yang tak menentu dan pikiran yang terbagi.
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...