Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 15. Pregnant


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dari apartemen hingga tiba di kediaman Sanjaya, perdebatan dan pertengkaran terus saja terjadi di antara Caitlyn dan Aleandro. Baru saja tiba dan mobil belum juga berhenti sempurna, tetapi Caitlyn sudah bergegas membuka pintu untuk segera turun.


Namun, lagi-lagi Lean membuatnya kesal karena berhasil mengunci pintu terlebih dulu. Caitlyn lelah secara fisik dan juga hati. Sangat teramat lelah. Wanita itu memilih untuk menyerah dan mengikuti apa pun yang akan Lean lakukan. Sungguh, Caitlyn benar-benar lelah. Oleh karena itu dia mulai memperbaiki duduknya yang tadi sempat menyamping, lalu menyandarkan punggung dengan nyaman, kemudian menutup mata dan tidur.


“Dengar! Nenek ingin menemui kita. Aku hanya memperingatkan agar kau bisa menjaga ucapanmu. Jangan bahas perceraian di depannya! Kau masih ingat jika nenek punya penyakit jantung, ‘kan? Kau harus lebih bisa menjaga emosimu,” pesan Lean. “Turunlah!” imbuhnya kemudian keluar dari mobil lebih dulu dan pergi begitu saja.


Saat Lean sudah keluar, barulah Caitlyn membuka matanya. Masih dengan posisi yang sama, dia sedikit menoleh melihat Lean yang sudah menjauh. Caitlyn memegang kepalanya yang terasa berat sambil tertawa kecil.


“Kata-kata seperti apa itu? Bukankah itu seharusnya untuk dirinya sendiri?” Caitlyn berdecih. “Manusia yang emosian berpesan supaya orang lain bisa menahan emosi? Lucu sekali kau, Al.” Caitlyn menundukan kepalanya dan bersandar pada dashboard. “Hah, semoga ke depannya kau dapatkan wanita yang bisa memahami dirimu dan keluargamu jauh melebihi aku.”


Tiba-tiba saja sebutir cairan bening luruh dari matanya dan jatuh tepat mengenai kakinya. Bukannya bergegas turun, Caitlyn malah menutup mata dan semakin menangis.


Lima menit berlalu dan Caitlyn belum juga menampakkan batang hidungnya di dalam rumah. Sementara itu, Lean menunggunya sedari tadi di ruangan tamu untuk sama-sama ke kamar Nenek Sanju.


“Mana, sih, orangnya? Turun dari mobil aja lama banget ngalahin keong,” gerutu Lean.


Dua menit berlalu dan Caitlyn belum juga muncul. Tidak ingin membuang waktu, Lean melangkah kembali ke mobil ingin mengecek di sana. Pria itu membuka pintu dan kaget mendapati Caitlyn yang ternyata sudah tertidur.


Lean menepuk lembut pundak Caitlyn tetapi wanita itu tidak juga terbangun. Sepertinya dia benar-benar terlelap. Lean kemudian membenarkan posisi duduk wanita yang masih berstatus istrinya itu yang tadinya menunduk menjadi bersandar. Posisi itu membuat Lean bisa menatap wajah cantik Caitlyn sepuasnya.


Gurat lelah terlihat sangat jelas di wajah ayu itu, bahkan Lean kaget mendapati jejak basah di pipinya. Tadinya Lean tidak ingin percaya jika Caitlyn baru saja menangis, tetapi melihat mata sembab dan hidung yang memerah, Lean menjadi yakin jika wanita itu benar-benar telah menangis.


Lean terdiam menatap wajah cantik itu begitu lama dan dalam. Banyak rasa yang berkecamuk dalam benaknya. Salah satunya adalah rasa ingin terus memiliki wanita itu, tetapi ucapan seseorang kembali terngiang di telinganya membuat Lean menepis perasaan ingin memiliki itu secepatnya.


“Tidak. Melepaskanmu adalah keputusan yang sudah benar,” ucap Lean begitu pelan.


Dia lalu berinisiatif untuk membawa Caitlyn masuk ke dalam. Lean pun melakukannya dengan sangat hati-hati, kemudian dia menutup pintu mobil menggunakan kakinya. Hadya yang hendak keluar saat itu, terkejut melihat pemandangan yang tidak biasa itu.


“Lean, ada apa dengan istrimu? Apa yang sudah terjadi?” tanya Hadya khawatir.


“Tidak ada, Pa. Dia hanya kelelahan dan tertidur di mobil tadi,” jawab Lean dengan begitu tenang.


Hadya tidak lantas percaya begitu saja. Pria paruh baya yang tampak berwibawa itu menatap sang putra dengan tatapan penuh selidik.


“Lean bawa Caitlyn ke atas dulu, Pa.” Tanpa harus menunggu jawaban dari ayahnya, Lean pun kembali melanjutkan langkah menuju ke lantai 2.


“Sebentar, Lean!” seru sang ayah. “Bukankah seharusnya kalian ada di kamar tadi? Dari mana kalian?” tanya Hadya selanjutnya.

__ADS_1


“Oh, itu dari … dari jemput Caitlyn tadi lagi di jalan, Pa. Yodah Lean ke atas dulu. Kasian Caitlyn gak nyaman gini terus.” Lean beralasan, padahal yang sebenarnya dia hanya ingin menghindari pertanyaan sang ayah yang semakin ke mana-mana.


Hadya belum beranjak dan masih menatap langkah putranya hingga menghilang dari sana.


“Apa yang salah dengan mereka? Mereka terlihat serasi dan bahagia. Kenapa malah ingin bercerai?” Hadya tidak habis pikir dengan keputusan anak-anaknya itu. “Semoga hubungan kalian tetap baik seperti ini,” ucapnya penuh harap.


...***...


Lean membaringkan Caitlyn dengan sangat pelan dan hati-hati seolah wanita itu adalah seorang bayi yang harus diperlakukan selembut mungkin. Sejenak dia memandangi wajah Caitlyn dan lagi-lagi menemukan gurat lelah di sana. Lean jadi teringat dengan perkataan Nathan tadi yang mengatakan jika istrinya itu sedang sakit.


Pria tampan itu mengulurkan tangannya dan meletakan pada kening Caitlyn.


“Tidak panas jadi sakit apa coba?” tanyanya pada diri sendiri.


Lean berpikir untuk memanggil dokter tetapi kemudian dia mengingat mungkin saja doker keluarga sedang memeriksa kondisi Nenek Sanju saat itu. Dia pun berpikir untuk ke kamar Nenek Sanju sebentar.


Namun, sebelum pergi, Lean menyempatkan diri untuk mengecup kening Caitlyn sejenak. “Tunggu sebentar, yah.”


Dia lantas segera berlalu dari sana dan menuju ke kamar sang nenek. Rupanya wanita lansia itu baru saja selesai diperiksa oleh Dokter Andra–dokter keluarga Sanjaya.


“Bagaimana kondisi nenek saya, Dokter?” tanya Lean yang baru saja masuk.


“Mana istrimu, Lean?” tanya Nenek Sanju langsung pada intinya.


Lean tersenyum melihat wajah masam neneknya. “Orangnya lagi tidur, Nek,” ucap Lean dengan lembut.


“Kalau begitu pergilah! Nenek juga mau tidur,” usir Nenek Sanju.


Lean dan Dokter Andra tersenyum memaklumi. Begitulah orang tua, apalagi orang tua seperti Nenek Sanju.


“Padahal Lean mau jagain Nenek, loh. Tapi … gak, ah. Udah diusir juga, mending jagain istri yang lagi sakit,” ucap Lean menggoda sang nenek.


Benar saja, Nenek Sanju tampak terkejut. “Cucu mantuku sakit? Caitlyn sakit apa? Bawa nenek ke sana sekarang, Lean, cepat!” titah Nenek Sanju mode memaksa.


Lean langsung merapat ke samping tempat tidur sang nenek dan menahan pergerakannya.


“Astaga, Nenek. Ntar Lean marah, loh, yah. Caitlyn gak papah, dia cuman kecapean aja. Sementara Nenek itu sakitnya bisa bahaya, loh.” Wajah Lean dipertegas dengan sangat terpaksa demi kebaikan neneknya.

__ADS_1


“Tapi nenek mau liat caitlyn.” Wajah Nenek Sanju terlihat mengiba.


Lean menggeleng tegas. “Ntar kalo Caitlyn udah bangun, Lean langsung bawa dia ke sini, yah. Sekarang nenek tidur dulu karena Lean mau minta Dokter Andra untuk memeriksa Caitlyn juga.” Lean langsung menarik selimut dan menyelimuti neneknya. Tidak lupa dia meminta seorang pelayan untuk menjaga sang nenek.


Pria itu memastikan semuanya sudah aman, akhirnya dia pun meminta Dokter Andra untuk mengikutinya ke kamar miliknya dan Caitlyn. Tiba di kamar, Lean kaget karena melihat Caitlyn sudah terbangun dan duduk bersandar pada headboard.


“Udah bangun?” tanyanya basa-basi.


Caitlyn menoleh dan melihat seseorang yang mengikut suaminya dari belakang.


“Dokter?” Entah itu sapaan ataukah pertanyaan yang jelasnya Caitlyn sedikit heran.


“Selamat siang, Nona Caitlyn.” Dokter Andra menyapa nyonya muda rumah itu dengan sopan.


Caitlyn tersenyum kikuk pada dokter itu karena masih merasa aneh. Tanpa membalas sapaan sang dokter, dia justru menatap Lean dengan tatapan penuh tanya.


“Tadi kata siapa itu kamu lagi sakit, ‘kan? Ya udah kebetulan ada Dokter Andra di sini, sekalian saja kamu diperiksa.” Lean menjelaskan.


Caitlyn lalu mengangguk mengerti. Detik berikutnya Dokter Andra mulai melakukan pemeriksaan umum seperti biasanya. Sama seperti yang dilakukan Nathan tadi, Dokter Andra melakukan hal yang sama.


Dokter itu menyudahi pemeriksaannya dan menatap Caitlyn dengan senyum yang mengembang.


“Jadi istri saya sakit apa, Dok? Oh, sebentar, saya jawab telepon dulu.” Bersamaan dengan itu ponsel Lean berdering dan dia berpamitan menjawab telepon di balkon.


Kesempatan itu tidak dibuang-buang oleh Caitlyn. Dia meminta dokter melanjutkan penjelasannya.


“Ini hanya dugaan sementara saja tapi saya sangat yakin jika saat ini Anda sedang mengandung, Nona.” Dokter berkata dengan yakin.


“A-apa, Dokter? Katakan sekali lagi?” tanya Caitlyn terbata.


“Menurut diagnosa sementara saya, saat ini Anda sedang hamil, Nona. Karena itu saya sarankan untuk melakukan pengecekan lebih mendetail ke dokter kandungan.”


Tubuh Caitlyn bergetar dengan kaki dan tangan yang tiba-tiba terasa dingin. Berbagai rasa yang tak menentu tiba-tiba berkecamuk menyerangnya membuat Caitlyn tidak mampu untuk berucap sepatah kata pun.


Hamil …?


...TBC...

__ADS_1


...🌻🌻 🌻...


__ADS_2