Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 35. She’s Still Mine!


__ADS_3

Nathan melangkah dengan pasti sedikit terburu-buru menuju ruang tamu dan langsung membuka pintu. Begitu pintu itu terbuka, betapa kagetnya dia mendapati seseorang yang sangat ingin dia hindari berdiri tegak di sana, dengan ekspresi yang sama-sama kaget.


Sama halnya dengan Nathan, Lean pun terkejut mendapati pria yang sangat dibencinya berada di rumah Caitlyn. Pikiran-pikiran buruk tentu saja menyerangnya secara mendadak saat itu juga. Ingin sekali marah, tetapi dalam hati Lean memikirkan perkataan ayahnya.


Oh, sh*it! Kenapa dia lebih tau kehidupan wanita itu sekarang daripada aku?


Kedua pria itu sama-sama terdiam untuk beberapa saat, sibuk berdiskusi dengan batin masing-masing. Namun, tatapan keduanya yang sama-sama tajam tidak bisa terelakkan sehingga perang dingin lewat tatapan mereka begitu nyata.


Aksi perang via tatapan itu baru berakhir setelah suara seorang wanita cantik menginterupsi keduanya. Caitlyn yang meresa Nathan sudah membuka pintu sejak beberapa saat lalu, tetapi tidak ada tanda-tanda orang yang bertamu di sana, bahkan sunyi sekali karena suara Nathan pun tidak terdengar.


Penasaran akhirnya Caitlyn memilih untuk menyusul dan memastikan apa yang sedang terjadi.


“Siapa, Nath?” tanya Caitlyn dari dalam.


Saat berdiri tepat di belakang Nathan, matanya belum sempurna mengenali sosok pria yang berdiri di depan pintu rumahnya karena tertutupi badan Nathan yang lumayan besar. Ketidak puasan itu membuat Caitlyn ingin bertanya sekali lagi.


“Nath, sia ….”


Ucapannya menggantung begitu Nathan bergeser dari tempatnya berdiri. Untuk sesaat Caitlyn membeku di tempatnya dengan mata yang membola. Jantungnya berdetak cepat dan tak beraturan. Seluruh tubuhnya dibuat mati oleh tatapan dingin Lean yang kini tertuju padanya. Bibirnya bergetar seolah menggigil karena dinginnya tatapan Lean menusuk seluruh tulangnya.


“Ly, are you ok?” Suara Nathan mengagetkan Caitlyn, tetapi tetap saja tidak mampu menggerakkan seluruh tubuh wanita itu yang seolah tertawan oleh tatapan mematikan dari Lean.


“Hah?” Kaget dan hanya memberikan sedikit respon. Matanya tidak bisa lepas dari memandang Lean.


“Are you okay?” Nathan bertanya sekali lagi seraya bergerak hendak menyentuh pundak Caitlyn, tetapi sebuah tangan besar terulur cepat lalu menepisnya.


Lean berdecak. “Bisa gak tahan sedikit?” Menatap Nathan dengan malas, kemudian berbalik menatap Caitlyn. “Dan kamu, tolong yah, jaga nama baik keluargaku dengan tidak menjadi murah mau-maunya disentuh semua pria.” Seperti matanya, mulutnya tak kalah tajam mengeluarkan kata-kata yang kembali menyayat Caitlyn.


Mendengar itu Nathan menggeram kesal. “Dan bisa tidak, Tuan Sanjaya yang terhormat? Anda tidak perlu berkata kasar pada sahabat saya. Saya rasa yang murah di sini itu cara bicara Anda yang tidak terkontrol. Lagi pula masalah Anda apa, Tuan? Saya merasa tidak ada salahnya berdekatan ataupun memegang tangan sahabat saya untuk sekarang ini. Bukankah tidak ada hubungan lagi di antara kalian?” Entah keberanian dari mana, Nathan kini berdiri dengan tegak dan berani menantang seorang Aleandro Sanjaya.

__ADS_1


Oh, sh*it!


Lean ingin sekali menghajar wajah pria di depannya saat itu juga, tetapi perkataan sang ayah selalu saja datang menjadi penghalang yang menahan segala geraknya.


Pria tampan itu terkekeh menanggapi perkataan Nathan yang begitu menyebalkan.


“Jangan kau balut perasaan dan niatmu atas nama sahabat. Omong kosong, tau gak? Caramu jauh lebih murah.” Nathan bergeming melihat tatapan Lean yang berbeda dan memiliki makna tertentu.


Sementara itu, Caitlyn masih setia membisu dan tidak tahu hendak melakukan apa. Kehadiran Lean masih memberikan dampak besar baginya.


“Dan untuk ketahuan kalian berdua terutama kau.” Lean menunjuk Caitlyn. “Kita belum resmi bercerai. Jadi tolong sikapmu lebih dijaga lagi dengan tidak membawa laki-laki masuk ke sini dan berduaan seperti ini.” Ucapan itu sukses menarik Caitlyn dari kebisuannya sedari tadi.


“Ti-tidak seperti itu–” Caitlyn tersadar dan menghentikan ucapannya. Why? Masih teringat jelas dalam pikirannya saat Lean menantang keras dirinya menyebut nama pria itu.


“Apa? Kau juga ingin bilang kalau kalian hanya berteman?” Lean tergelak lalu mendorong pelipis Caitlyn menggunakan telunjuknya. “Otak licikmu itu kenapa tidak berfungsi saat bersamanya, hah? Oh, yah. Aku tau licikmu itu masih kalah jauh dengan kelicikannya, tapi jangan terlalu naif menyalahartikan perhatian dari sahabatmu juga, Bo*doh,” ucap Lean dengan geram.


“Kau dengar tidak?” bentak Lean dan otomatis membuat Caitlyn terperanjat dengan tubuh bergetar.


Nathan lantas menggeser tubuhnya dan berdiri di depan Caitlyn, menjadi perisai yang melindunginya dari amarah Lean.


“Aku tidak pernah berniat membalas perbuatanmu sama sekali, Bang. Tapi kali ini, aku mungkin akan menghilangkan sedikit rasa hormatku padamu, Tuan Sanjaya yang terhormat, jika saja kau berani menyakitinya lagi.” Nathan mengatakan itu dengan tegas.


Lean berdecih. “Memangnya sejak kapan kau menghargaiku, hah? Oh, sungguh kau pernah melakukan itu?” Tertawa iblis. “Dengar, aku tidak pernah mengharapkan rasa hormat darimu. Aku tidak butuh. Yang aku butuhkan, kau menjauh darinya jika saja kau punya sedikit rasa malu dan rasa hormat yang kau bilang tadi.” Ucapan Lean tak kalah tegas bahkan mampu mengintimidasi lawan bicaranya.


Caitlyn yang berdiam diri di belakang Nathan, tiba-tiba berbicara keras saat membaca bahasa tubuh Nathan yang hendak membalas ucapan Lean.


“Please, stop it. Aku minta sama kalian berdua untuk meninggalkan rumahku sekarang juga! Aku mau istirahat!” ucap Caitlyn dengan nada tegas tetapi sedikit bergetar.


Getaran itu hadir karena dia yang tidak sanggup melepas tatapannya dari sosok seorang Lean. Sebanyak apapun pria itu menyakitinya, sebanyak itu pula Caitlyn tidak bisa melupakan bahkan tidak mampu berlari darinya. Usaha yang dia lakukan sebulan ini, tidak jua menghasilkan apa-apa. Melepaskan Lean dari hati dan ingatannya adalah salah satu hal paling mustahil di dunia ini.

__ADS_1


“No! Gue gak bakal ninggalin lu selagi ada dia di sini,” ucap Nathan yang langsung berbalik menghadap Caitlyn saat itu juga.


Caitlyn mengangkat tangannya dengan mata terpejam. “Tolong, pergilah. Pergi dari rumahku sekarang juga. Bukan salah satu dari kalian, tapi dua-duanya. Jadi tidak perlu berdebat. Keluar!”


“Gak, Ly. Gue mau tetap di sini dan akan tetap di sini sampai dia yang pergi.” Nathan kekeh.


“Lu bisa kembali besok, Nath. Gue mau istirahat. Selamat malam,” jawab Caitlyn yang mulai merasa pusing.


Wanita itu lantas mendorong tubuh Nathan agar keluar dari rumahnya dan hendak menutup pintu, tetapi Nathan menahannya.


“Ly, lu sadar gak sih? Bisa bahaya kalo gue ninggalin lu sendirian sementara ada manusia yang ingin nyakitin lu. Kita gak tau motif dia datang kemari untuk apa?” ucap Nathan dengan suara rendah hampir berbisik.


Caitlyn tidak menggubris dan tetap mendorong pintu agar tertutup. Sementara Lean memilih diam dan melihat interaksi kedua manusia yang selalu mengagungkan persahabatan itu. Jika Caitlyn menolak malam ini bertemu dengannya, dia akan kembali besok. Perkataan Hadya untuk tidak memaksa wanita itu masih dia ingat dengan jelas. Jauh di dalam hatinya, dia merasa sudah cukup melihat wajah cantik itu baik-baik saja. Namun, anehnya perasaan ingin memiliki sekaligus menyakiti itu selalu datang bersamaan setiap bertemu Caitlyn sejak sebulan lalu.


“Lepasin pintunya, Nath,” ucap Caitlyn terdengar lembut tetapi juga malas. Mungkin saja dia sudah sangat lelah.


Bukannya mendengar perkataan Caitlyn, Nathan justru kini balik mendorong pintu itu lebih kuat sehingga tubuh Caitlyn menjadi tidak seimbang dan terdorong ke belakang. Namun, dengan gerakan cepat pula Nathan menyelip masuk dan menahannya sehingga Caitlyn tidak sampai terjatuh.


Melihat itu, Lean yang tadinya tidak ingin memaksa Caitlyn dengan menahan emosi mati-matian, kini menjadi sangat emosi dan marah. Dia segera masuk dan menarik kerah Nathan, lalu memberinya sebuah pukulan mengenai rahangnya.


“Sudah kuperingatkan untuk tidak menyentuhnya tadi, ‘kan? Kau tuli?” ucap Lean dengan nada rendah tetapi penuh intimidasi.


“Apa masalahmu, Bang? Sebentar juga kalian bakal cerai,” protes Nathan dengan suara meninggi.


Lean mendengus. “She‘s still mine!”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2