
Hadya berjalan mondar-mandir di dalam ruangan yang masih sama–yang digunakan untuk menyekap Saskia. Pria paruh baya itu belum juga kembali dari sana, setelah membebaskan Saskia dari perbuatan putranya.
Berulang kali dia menghubungi Lean, tetapi panggilannya belum juga terjawab. Tidak menyerah, Hadya masih terus mencobanya hingga hari senja pun berlalu dan gelap berangsur-angsur menguasai bumi. Hadya khawatir putranya itu menyakiti menantunya. Apalagi dia jelas tahu bahwa saat ini ada Nathan bersama bumil cantik satu itu.
Membayangkan kemarahan Lean melihat keberadaan pria lain di sana, sungguh membuat Hadya begitu khawatir. Sekali lagi, Hadya menyentuh layar yang menampilkan nama serta nomor ponsel Lean, lalu menghubunginya kembali sembari terus mondar-mandir.
Langkah dan pergerakan Hadya baru berhenti begitu Lean menjawab teleponnya.
📲 “Di mana kamu sekarang, Lean?”
To the point begitu panggilan itu tersambung. Sama seperti putranya, Hadya pun tak pandai berbasa-basi.
📲 “Lean yakin papa sudah tau di mana Lean sekarang.”
Terdengar santai tanpa dosa nada bicaranya.
📲 “Lean, papa hanya ingin peringatkan sama kamu. Jangan sekali-kali kamu menyakiti Caitlyn, apalagi berbuat kasar padanya!”
Terdengar helaan napas berat Lean di telinga Hadya.
📲 “Baiklah, pa. Tapi kalau dia tidak mau ikut Lean buat liat nenek, ya–”
📲 “Jangan sampai memaksanya, Lean! Apa pun tujuan kamu ke sana, jangan pernah memaksa atau pun melakukan tindakan yang hanya akan menyakitinya! Jangan buat papa marah, Lean!”
__ADS_1
Decakan kesal lolos dari mulut Lean mendengar berbagai ancaman dan peringatan keras dari ayahnya.
📲 “Papa kenapa, sih, pa? Perasaan protektif sekali dengan wanita itu. Memangnya dia siapanya papa? Lean, loh, anak papa gak dipikirin perasaan Lean sama sekali.”
Hadya mengusap wajahnya sejenak lalu mengontrol emosinya. Dia sadar terlalu keras pada putranya itu akhir-akhir ini.
📲 “Dia juga putri papa sama seperti kamu, Nak. Percayalah, tidak lama lagi kamu akan mengerti dengan sikap papa ini, Lean.”
Hadya melembut pada putranya dan itu membuat Lean terdiam. Begitulah Lean, jika dihadapi dengan kemarahan dan kekerasan, dia pun akan memberikan hal yang sama. Sebaliknya jika menghadapi dirinya dengan lembut, dia pun akan melembut.
📲 “Temuilah dia, tapi ingat pesan papa tadi.”
Hadya pun menutup panggilan teleponnya, lalu bergegas meninggalkan tempat itu yang ternyata merupakan rumah mewah lainnya milik keluarga Sanjaya.
Sementara itu di tempat Caitlyn, waktu setempat menunjukkan pukul 07.30 pm alias pukul setengah delapan malam. Seharian ini Caitlyn begitu senang dan tidak merasa kesepian karena ada Nathan yang menemaninya.
Banyak hal mereka lakukan bersama di hari itu. Mulai dari sarapan bersama, bercerita banyak hal sambil Nathan membuatkan makan siang sesuai request dari yang mulai wanita hamil. Nonton sembari tertawa bersama, membuatkan cake kesukaan Caitlyn, sampai kini mereka tengah makan malam bersama. Nathan sungguh membuat Caitlyn tampak bahagia sepanjang hari ini.
“Besok datang lagi, gak?” tanya Caitlyn di sela-sela kegiatan makannya.
“Hmm, wait.” Nathan tampak berpikir. “Kalo gitu gue resign aja dari rumah sakit dan ngelamar kerja sama lu jadi koki aja gimana?” cetusnya begitu serius tetapi sungguh terdengar konyol.
Caitlyn tergelak mendengarnya. “Oh, helow … Bapak dokter yang terhormat mau resign cuman buat jadi koki gue? Gue, sih, mau banget tapi gak ah,” ucap Caitlyn sambil menggeleng kemudian. Senyum di wajah cantik itu tidak pernah pudar seharian ini.
__ADS_1
“Loh, kenapa, Nyonya? Apa masakan saya tidak memenuhi standarisasi lidah Anda? Saya akan bekerja lebih keras lagi,” ucap Nathan penuh canda dan itu lagi-lagi membuat Caitlyn tergelak.
“Tidak juga, Dok. Tapi tangan Anda lebih cocok memegang stetoskop dari pada pegang spatula. Jadi, Anda tidak perlu resign dari rumah sakit karena jelas Anda saya tolak jadi koki.” Caitlyn ikut bercanda.
Nathan mengangguk sambil memasukan suapan terakhir ke mulutnya. “Begitu, ya, Nyonya? Kalau begitu gitu … saya mau ngelamar Nyonya saja, deh.”
Ini mungkin terdengar sebagai sebuah candaan di telinga Caitlyn, tetapi wajah Nathan menjelaskan jika dia serius dengan ucapan barusan.
Caitlyn masih tersenyum dan meneguk habis air dalam gelasnya. “Lamaran ditolak.” Tertawa kecil setelah selesai meminum air. “Hentikan candaan lu dan sana pulang. Pipi gue udah kram dari tadi.” Memegang kedua pipinya yang lelah tertawa.
“Tapi aku ser–”
Ucapan Nathan terhenti dan keduanya saling pandang begitu mendengar bunyi ketukan di pintu depan.
“Siapa?” tanya Nathan pada Caitlyn dengan suara sangat pelan.
Caitlyn mengedikan bahunya. “Gak tau. N‘tar gue liat dulu.”
Baru saja hendak berdiri dan melangkah, tetapi Nathan mencegahnya.
“Biar gue aja, yah. Lu tunggu di sini.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...