
Masih dengan penuturan pria yang diselamatkan oleh Caitlyn. Tidak peduli dengan caci maki Sania, dia tetap mengatakan yang sebenarnya. Perihal Sania dengan kemarahannya, dia tidak peduli. Rupanya dia lebih takut ditembak mati oleh Lean daripada disiksa oleh bibinya itu.
Dengan mengatakan kebenaran ini pun, pria itu berharap dia bisa mendapat sedikit pengampunan dari Lean. Apalagi Caitlyn. Dia tahu persis bahwa wanita cantik itu adalah seorang yang baik hati dan susah tentu akan memaafkannya.
“Saya mengatakan yang sebenarnya, Tuan,” aku pria itu.
“Ya, aku percaya padamu karena itu lanjutkan!” perintah Lean.
“Baik, Tuan … Hari itu bukan karena kebetulan istri Anda keluar dan menemui saya yang sedang sekarat di luar. Tapi Tante Sani sudah menyewa seseorang untuk menghubungi istri Anda dan meminta ketemu di cafe. Karena alasan penting, istri Anda keluar pada sore itu dan menemukan saya, Tuan. Semua itu sudah diatur oleh Tante Sani. Tante Sani meminta saya untuk berbohong jika saya tahu orang tua kandung istri Anda, tapi yang sebenarnya saya tidak tahu, Tuan,” tutur pria itu lagi.
Lean bergerak ingin menghajarnya tetapi Hadya menghalangi.
“Mau apa kamu? Dia itu baru sembuh dari koma dan belum benar-benar pulih. Kau mau dia koma lagi? Sabar sedikit, Lean,” cegah Hadya.
“Biar saja, Pa. Biar dia mati sekalian.” Lean menatapnya tajam kemudian menendang bagian pangkal paha pria malang itu, hingga membuatnya memekik dan mengerang kesakitan. “Kau mau mati dan dihidupkan oleh kepolosan serta kebaikan Istriku. Kenapa tidak jujur saja kalau butuh pertolongan, hah? Kenapa harus memberinya harapan palsu, Breng*sek!” Lean mengamuk tetapi Hadya meminta beberapa anak buah mereka menahannya.
Kini giliran Hadya yang berdiri di depan pria malang itu.
__ADS_1
“Siapa namamu?” tanya Hadya.
“Re-Rendi, Tuan,” jawabnya.
“Rendi … kau tahu seberapa berjuangnya putriku untuk menyelamatkan hidupmu? Kau pikir hidupmu ini hanya dengan jumlah uang yang sedikit? Kau tahu seberapa mahalnya dana yang harus dia habiskan untuk kesembuhanmu setiap bulan selama setahun lebih ini?”
Hadya menjeda menarik napasnya panjang. Dia menatap wajah Rendi dengan seksama, apakah ada penyesalan di sana? Dan sepertinya Hadya menemukan itu.
“Membayar dokter spesialis dengan bayaran yang fantastis, membayar jasa 2 perawat yang setia setiap saat, membayar biaya obat dan pemeriksaan. Bahkan dia harus menyewa satu unit apartemen mewah luxury landing untuk keamananmu. Kau tahu karena apa? Karena dia takut wanita itu,” tunjuknya pada Sania. “Dia takut wanita itu menemukan dan mengetahui tentangmu, maka harapannya untuk mengetahui tentang orang tuanya hilang.” Suara Hadya melemah.
“Dan kini harapannya sudah hilang dan hancur. Kau pikir dengan begitu hidupmu, kesembuhanmu yang diperjuangkan mati-matian oleh putriku akan berguna? Itu akan menjadi doaku untukmu. Semoga hidupmu yang sudah diperjuangkan putriku ini manjadi lebih baik dari sebelumnya.” Hadya berbalik dan mengusap ujung matanya.
“Sudahi ini, Lean. Jangan buang-buang waktu untuk manusia tidak berguna seperti mereka! Kita harus pulang dan temui Caitlyn. Dia lebih butuh kita,” putus Hadya.
“Tapi, Pa. Ini belum selesai,” sanggah Lean dengan cepat.
Hadya kini berdiri menghadap putranya. “Apalagi yang kamalu inginkan, Nak? Untuk Sania, detik ini juga dia bukan lagi istri papa. Surat cerai akan menyusul nanti. Setelah dari sini, jangan injakan kakimu lagi di kediaman Sanjaya. Begitu juga dirimu Cecilia!” ucap Hadya dengan tegas.
__ADS_1
“Tidak, Hadya! Kau tidak bisa melakukan ini padaku. Aku tidak akan pernah mau bercerai darimu!” terbuka Sania kesetanan.
“Keputusanku sudah bulat. Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, kita akan bertemu di pengadilan.” Hadya kini mengarah pada Nathan. “Dan kau, Nathan. Posisimu sebagai direktur rumah sakit dan juga gak kepemilikannya, papa cabut. Yang kau miliki hanya anak cabang dari Sanjaya Grup yang berada di luar kota. Pergilah jauh dari kota ini dan usahakan hidupmu sendiri.” Hadya mengakhiri ucapannya.
“Kau kejam Hadya! Dia itu darah dagingmu! Tega kau membeda-bedakan dia dan anak dari wanita penyakitan yang sudah tiada itu?” sembur Sania semakin gi*la.
“Sania!”
Hadya mendekat dan langsung memberikan satu tamparan keras di wajah Sania. Semua terkejut melihat hal itu. Tetapi tidak dengan Lean. Pria tampan itu menyaksikan dengan ekspresi datar. Dai tidak mengerti dengan yang terjadi. Dia tidak tahu alasan Hadya melakukan semua itu.
“Papa! Memang apa yang salah dari ucapan mama? Papa memang jahat. Selalu menomorsatukan Kakak daripada aku dan Kak Nathan. Memang itu kenyataannya. Papa jahat!” bentak Cecilia yang tidak suka dengan tindakan Hadya menyakiti Sania.
“Pelankan suaramu, Cecilia. Bukan papa yang membeda-bedakan kalian, tapi mamamu sendiri yang membuat perbedaan itu. Dan satu lagi, kenapa sampai papa tidak memberikan apa-apa padamu?” Hadya menatap sinis ke arah Sania. “Tanyakan jawabannya pada mamamu, kenapa papa tidak memberikan sepeser pun dari harta keluarga Sanjaya untukmu?”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1