Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 9. Morning Chat


__ADS_3

Pertengkaran hebat semalam membuat pasangan suami-istri yang sebentar lagi akan bercerai itu masih terlelap hingga kini. Tidak dipungkiri bahwa menguras emosi memang ikut menguras energi dan pikiran. Apalagi pertengkaran mereka bahkan terjadi pada waktu larut.


Keduanya tertidur setelah lelah bertengkar dengan posisi saling memeluk hingga pagi. Permintaan Lean agar Caitlyn melayaninya semalam, tidak terealisasikan. Dia sendiri pun tidak menginginkan itu. Hanya seperti ini, saling memeluk hingga pagi menjemput.


Caitlyn lebih dulu terbangun dan dia merasakan berat serta pegal karena tertindih dengan begitu eratnya. Lean benar-benar menjadikannya guling semalaman.


Ingin sekali marah, tetapi Caitlyn tidak bisa melakukan itu. Melihat wajah damai Lean yang seperti ini adalah adalah kesukaannya setiap bangun pagi sebelum pria itu terbangun dan memperlihatkan sikap menyebalkannya.


Bukankah tidak lama lagi aku akan kehilangan pemandangan indah ini? Ah, lebih baik biasakan untuk tidak melihatnya mulai sekarang.


Caitlyn memutuskan untuk bangun dan hendak menggeser tubuh Lean, tetapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya, membawa Caitlyn semakin tenggelam dalam dekapannya yang besar dan hangat.


“Ck, apa sih? Katanya mau pergi hari ini,” ucap Caitlyn mencari alasan.


“Hmm.” Hanya itu yang terdengar.


“Sana bangun. Aku harus menyiapkan keperluanmu, ‘kan?” Caitlyn mengingat tugas yang diberikan Lean semalam.


“Biarkan seperti ini sebentar lagi,” sahut Lean pelan dengan suara serak khas bangun tidur.


Caitlyn mengangkat wajahnya dan mengintip wajah Lean. Mata pria itu rupanya masih betah terpejam. Saat hendak menunduk, tangan besar Lean justru menahan dagu Caitlyn agar tetap pada posisi memandangi wajahnya.


“Jika begitu senang menatapnya lebih lama, kenapa malah begitu ingin melepaskan, hm?” Mata Lean terbuka dan menyorot Caitlyn dengan tatapan yang sangat sulit diartikan.


Caitlyn terpaku. Tatapan macam apa ini? Tiga tahun berlalu dan Caitlyn baru pernah melihat tatapan seperti ini yang diberikan Lean padanya. Apa maksudnya?


Masih berkutat dengan pemikirannya, mata Caitlyn tiba-tiba terpejam saat bibir Lean menyatu dengan bibirnya. Lagi-lagi hal berbeda yang Caitlyn rasakan di sana. Ciuman itu terasa lembut dan manis sekali. Caitlyn menyukai ini. Ini berbeda.


Seolah terhanyut, Caitlyn yang biasanya tidak ingin membalas ciuman brutal Lean seperti biasanya, kali ini benar-benar membalas ciuman itu dan sungguh-sungguh menikmatinya. Wanita itu bahkan membalas pelukan suaminya.


Merasakan respon baik sang istri, Lean yang tadinya hanya ingin mencium sebentar, justru semakin memperdalam ciumannya. Entahlah, tetapi baik Lean maupun Caitlyn sama-sama merasakan suasana dalam kamar mereka pagi itu benar-benar berbeda. Caitlyn bahkan kini membawa tangannya berada di belakang kepala Lean, mere*mas lembut rambut suaminya.


Lean tersenyum kecil di sela-sela ciumannya, merasakan reaksi tak biasa dari sang istri. Beberapa detik kemudian Lean mengakhiri dengan begitu indah. Dia pun lalu menyatukan kening mereka dan kembali menatap Caitlyn seperti tadi.


Mata Caitlyn perlahan terbuka dan membalas tatapan suaminya. Dapat dia lihat senyum kecil terukir di wajah tampan sang suami.


“Kenapa aku merasa bahwa sebenarnya kau tidak ingin mengakhiri pernikahan ini? Katakan jika aku salah,” ucap Lean yang detik itu juga menyadarkan Caitlyn.

__ADS_1


Oh, sh*it! Aku tertipu. Bodoh, bodohnya kau, Lily ….


Caitlyn mendorong tubuh Lean dan langsung bangkit berdiri. Lean terkekeh melihat sikap istrinya itu.


“Jadi benar yang aku katakan jika kau sebenarnya tidak–”


“Kau salah.” Potong Caitlyn dengan cepat. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya dengan merapikan rambut dan pakaiannya. “Aku sudah sangat tidak sabar untuk mengakhiri semua ini.”


“Lalu yang tadi itu ….” Sengaja menggantung kalimatnya ingin menggoda Caitlyn.


Caitlyn terlihat salah tingkah, tetapi tetap bersikap normal. “Itu … ya, aku hanya melakukan sedikit dari permintaanmu semalam. Ya seperti itu,” elak Caitlyn.


Lean tergelak dan itu membuat Caitlyn meliriknya dengan wajah kesal.


“Hmm, seperti itu yah?” Lean ingin mendekatinya tetapi Caitlyn segera menghindar.


“Cukup dan diam di tempatmu,” cegah Caitlyn dengan sebelah tangan yang terangkat. “Kita sudah sepakat untuk mengakhiri ini setelah kau kembali dari Jepang. Sekarang aku ingin menyiapkan keperluanmu dan jangan bicara apa-apa lagi!” peringat Caitlyn dengan tegas.


Lean menghembuskan nafasnya dengan berat lalu berbalik duduk di bibir ranjang sembari melihat Caitlyn yang berjalan ke sana-kemari menyiapkan keperluannya.


Hal yang sangat sulit aku pahami sejak dulu adalah memahami perempuan.


Tenanglah, dia sudah pergi.


Setelah menyiapkan koper, dia juga menyiapkan baju yang akan dikenakan Lean hari ini. Selanjutnya dia keluar dari kamar dan turun ke dapur hendak membuatkan sarapan untuk suaminya.


“Pagi, Pa, Ma.” Caitlyn menyapa mertuanya yang hendak meninggalkan meja makan. Matanya sempat melirik Sania dengan sinis.


“Pagi! Baru bangun, Nak? Mana Lean?” tanya Hadya.


“Enggak kok, Pa. Udah bangun dari tadi cuman baru mau turun aja.” Caitlyn tersenyum pada ayah mertuanya. Hanya ayah mertua. “Kalo Lean lagi siap-siap mau ke kantor. Aku mau sarapan dulu, ya, Pa!” Caitlyn berucap santun terhadap pria paruh baya yang selalu memperlakukan dirinya dengan baik.


“Ya, sudah. Papa sama mama duluan kalau begitu, yah.” Hadya menyempatkan mengusap kepala menantunya sebelum pergi dari sana.


Sementara itu, Sania tidak menggubris keberadaan Caitlyn sama sekali. Wanita paruh baya itu bersikap acuh seolah tak ada siapapun di sana selain dirinya dan sang suami. Pasangan tua itu kemudian melangkah pergi meninggalkan Caitlyn.


Caitlyn melanjutkan langkahnya ke arah meja tetapi dia masih sempat menengok ke belakang ingin melihat ibu mertuanya. Caitlyn merasa aneh dengan sikap acuh wanita itu. Dia selalu mencari cela di setiap pertemuan untuk menghina dan menjatuhkan Caitlyn, tetapi tidak dengan pagi ini.

__ADS_1


“Kenapa dia? Aneh banget,” gumam Caitlyn. Sepersekian detik dia teringat ucapan Sania pada malam itu tentang dia yang sering mendatangi apartemen luxury landing. “Semoga Dokter Vargas sudah memindahkan pria itu dengan aman,” imbuhnya penuh harap.


Wanita itu kemudian memilih duduk dan menunggu Lean untuk sarapan bersama. Dia menatap setiap menu di atas meja itu dengan tidak berselera sama sekali.


“Ck, kenapa gak selera ngeliatnya, yah? Jus ah.” Caitlyn lantas hendak bangkit dari duduknya untuk membuatkan jus tetapi Lean tiba-tiba datang menahannya.


“Mau ke mana? Temani aku sarapan!” titahnya tegas.


“Ck, duluan aja. Aku mau bikinin jus.” Caitlyn menepis tangan Lean dari lengannya.


“Jadi dari tadi kau di sini tapi belum makan apa-apa dan sekarang mau malah mau bikin jus? Jus apa dan untuk siapa?” cecar Lean kembali meraih pergelangan tangan istrinya.


“Buat aku lah. Jus mangga, gak selera makan aku. Udah sana sarapan duluan.” Caitlyn langsung melangkah pergi hingga Lean mau tak mau pun melepaskan tangannya.


Lean tidak langsung duduk. Pria itu masih berdiri menatap istrinya dengan kening yang mengerut. Beberapa menit berlalu dia masih terus berdiri hingga Caitlyn kembali dengan segelas jus mangga yang justru membuat Lean menyipitkan matanya.


“Apa kau gila meminum itu sepagi ini? Kau bisa sakit perut nanti!” seru Lean protes.


Caitlyn hanya mendengus lalu duduk dan mulai menikmati jus mangga yang entah sejak kapan menjadi kesukaannya. Keduanya mulai menikmati sarapan masing-masing.


Tidak lama setelah itu ponsel Caitlyn berdering. Dia segera merogoh benda pipih itu dari dalam saku dan menempelkan ke telinganya tanpa mihat siapa yang menelpon.


📲 “Halo, selamat pagi!”


📲 “Pagi, Ly. Manis banget sih suaranya.”


Caitlyn mengernyit sambil mencoba mengenali suara siapa di ujung sana, sedangkan Lean menatap sang istri dengan tajam. Caitlyn menurunkan ponsel dari telinga dan melihat nama yang tertera di sana. Detik berikutnya wanita itu tertawa lepas dan melanjutkan pembicaraannya.


📲 “Hei, Nath? Ke mana aja lu–”


Mendengar nama yang disebutkan istrinya, Lean langsung merebut ponsel Caitlyn dan mematikannya.


“Jangan sekali-kali berbicara atau bertemu dengannya, kalau kau masih ingin dia tetap hidup!” ancam Lean.


Pria itu lantas bangkit dan pergi setelah membanting ponsel sang istri, sedangkan Caitlyn menganga tidak percaya.


“What? Dia … kenapa dengannya? Perasaan dari dulu sensitif banget tiap dengar nama Nathan atau melihat orangnya. Perasaan Nathan gak pernah punya masalah sama dia, deh. Aneh aj … oh astaga ponselku!” Caitlyn baru sadar dan histeris melihat nasib ponselnya yang kini mengenaskan.

__ADS_1


...TBC...


...🌻🌻🌻...


__ADS_2