
Tiga puluh menit berlalu dan Caitlyn masih betah berdiri di depan mobil Lean yang terparkir di depan rumahnya. Dia masih setia memandangi wajah tampan yang samar terhalang oleh kaca mobil. Sang fajar sudah mulai menggeser gelap dengan hangat sinarnya, tetapi Caitlyn belum juga beranjak.
Bumil cantik itu dilema antara ingin membangunkan seseorang di dalam sana ataukah membiarkannya begitu saja. Di samping itu, Caitlyn sungguh dibuat penasaran sejak kapan Lean ada di sana. Apakah baru pagi ini atau sudah sejak semalam?
“Ck, bangunin gak yah? Tapi … beneran tidur gak sih dia? Jangan-jangan cuman pura-pura lagi.” Caitlyn bingung dan gemas sendiri.
Tidak dapat untuk bersabar lagi, Caitlyn membuang semua keraguan serta pemikiran-pemikiran konyol lalu memutuskan untuk mengetuk kaca mobil. Beberapa kali dia mencobanya dan berhasil membangunkan dia yang berada di dalam sana.
Ternyata beneran tertidur dia.
Di dalam mobil, Lean terbangun lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Pria itu lalu mengedarkan pandangannya di sekitar dan menyadari sosok Caitlyn yang kini tengah berdiri di dekat pintu mobil. Lean sedikit terkejut, kemudian membenarkan posisi duduknya sedikit lebih baik. Dia juga menurunkan kaca mobilnya agar dapat melihat wajah Caitlyn dengan jelas.
“Hai,” sapa Caitlyn dengan senyum kikuk.
Dia terlalu gemas melihat wajah bangun tidur Lean seperti saat ini. Pemandangan itu sudah menghilang darinya selama sebulan dan baru dia jumpai lagi pagi ini.
Lean tidak membalas sapaan itu. Dia justru memilih merebahkan kepalanya pada setir mobil beralaskan kedua tangannya, dengan wajah yang menghadap ke arah Caitlyn.
“Ngapain di sini?” Suara serak khas bangun tidur membuat tubuh Caitlyn panas dingin. Meskipun terkesan sedikit ketus, tetapi Caitlyn menyukainya. Tidak hanya itu, dia bahkan sangat rindu mendengarnya.
Keningnya mengkerut sambil tersenyum kecil. “Bukankah seharusnya aku yang bertanya demikian?”
Lean mendengus lalu menegakan kembali punggungnya, kemudian melongokan kepalanya sedikit keluar. Dia memindai penampilan Caitlyn dari atas hingga ke bawah, lalu kembali menatap wajah cantik Caitlyn.
“Mau ke mana?” tanyanya.
Caitlyn tidak menjawab tetapi hanya memberitahu tujuannya menggunakan telunjuk. Lean mengikuti arah yang ditunjuk wanita itu. Dia lalu membuka pintu mobil sebelah tempat duduk penumpang.
“Masuk,” titahnya tanpa meminta pendapat Caitlyn.
“Ngapain? Aku cuman mau beli di situ doang.” Caitlyn menolak.
“Makanya itu aku anterin,” sahut Lean dengan wajah datar.
__ADS_1
Caitlyn menggeleng. “Gosah. Aku mau sekalian jalan pagi. Makasih.”
Setelah mengucapkan itu, Caitlyn langsung hendak beranjak dari sana tetapi ditahan oleh Lean. Caitlyn menunduk dan menatap tangannya yang dipegang erat oleh Lean.
“Tunggu sebentar,” ucap Lean dan langsung menarik tangannya.
Pria itu bergegas menutup pintu sebelah yang tadi dibukanya, lalu bergegas keluar dari mobil setelah mengambil kunci dan juga ponselnya.
“Ayo!” ajak Lean begitu memastikan mobilnya sudah terkunci baik.
“Hah” Caitlyn terkejut sekaligus bingung.
“Ck, lama. Ayo, jalan!” Dia langsung menarik lembut tangan Caitlyn dan melangkah pergi dari sana.
Caitlyn membisu dan mengikuti Lean begitu saja. Sepanjang perjalanan keduanya, tidak ada pembicaraan sama sekali dan tangan besar Lean tidak juga melepaskan genggamannya. Caitlyn ingin sekali protes karena sebenarnya sentuhan itu tidak baik untuk kerja jantungnya pagi ini. Namun, dia tidak mampu melakukannya karena sejujurnya dia pun ingin terus seperti itu.
Namun, beberapa menit kemudian, Caitlyn menghentikan langkahnya dan itu membuat Lean otomatis ikut berhenti.
“Kenapa?” tanya Lean dengan sebelah alis yang terangkat.
Mau ngapain dia ke sini? Tidak ada swalayan atau mini market di sekitar sini.
Lean masih sibuk bertanya dalam hati, Caitlyn sudah hendak melangkah masuk ke dalam warung makan. Namun, dengan cepat Lean menahannya kembali.
“Apa lagi, sih?” tanyanya mulai kesal.
“Mau ngapain di sini?” Lean balik bertanya.
“Mau beli makan,” jawab Caitlyn dengan polos.
Lean sedikit shock. “What? Beli makan? Di tempat kayak gini?” Ekspresinya sungguh membuat Caitlyn gemas dan ingin tertawa.
Dia menyadari satu hal bahwa pria yang sedang bersamanya saat ini adalah Aleandro Sanjaya. Pria kaya raya yang mewarisi semua harta kekayaan Sanjaya Grup, satu-satunya perusahaan raksasa yang memiliki ribuan anak cabang di mana-mana.
__ADS_1
Dalam hidupnya yang bergelimang harta, tentu tidak pernah merasakan makan di tempat seperti ini, bahkan di rumah pun makanan mereka sudah teruji higienis dan steril serta dimasak oleh koki khusus. Tidak heran jika Lean merasa asing dan jijik dengan tempat-tempat makan seperti ini.
“Memangnya kenapa?” Caitlyn sengaja bertanya ingin melihat ekspresi lucu yang ditunjukkan Lean. “Aku sudah sering makan di sini, kok. Awas sana, aku sudah lapar.” Menepis tangan pria itu dan ingin masuk, tetapi lagi-lagi Lean menghalangi.
“Wait, wait. Kamu bisa sakit perut nanti, Caitlyn. Ayo, kita pulang biar aku ambilkan mobil dan kita bisa cari makan di tempat lain!” Berbalik lalu menarik tangan Caitlyn, tetapi ditolak dengan keras.
“Yodah, kamu aja yang pergi. Aku mau makan di sini karena sudah biasa makan di tempat ini. Gak pernah tuh sakit perut. Sudah sana, bye!” Caitlyn melambaikan tangannya dan langsung melangkah masuk.
Dalam hati dia berharap Lean tetap di sana dan menyusulnya, meskipun dia sadar hal itu terlalu mustahil. Sedikit mengesampingkan perasaannya pada Lean, Caitlyn pun duduk dan memesan makanan yang dia inginkan pagi itu.
Sejenak dia menoleh ke belakang hendak melihat Lean di luar sana, tetapi sayangnya sosok itu sudah tak lagi ada. Caitlyn sedikit merasa sedih.
Ck, baru gitu doang udah ninggalin aja. Lagian … apa, sih, yang kamu harapkan, Caitlyn?
Dia membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan dengan pandangan yang terus menunduk.
“Sudah pesan belum?”
Suara berat itu serta-merta membuat Caitlyn mengangkat wajahnya. Wajah sedihnya langsung lenyap berganti senyum yang mengembang, begitu melihat sosok tampan itu kini duduk di hadapannya dan hanya terhalang meja.
Caitlyn mengangguk senang. “Sudah. Kamu mau pesan juga?” tanyanya.
Lean menggeleng. “Gak. Cuman mau temani kamu,” jawab Lean dengan tak acuh.
Itu saja sudah mampu membuat Caitlyn tersenyum bahagia. Entahlah, tetapi Caitlyn merasa pagi ini adalah pagi terbaik sepanjang dia berada di kota kecil ini.
Aku sedang tidak bermimpi, ‘kan?
Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di kediaman Sanjaya, Hadya pun merasakan bahagia yang sama dengan yang dirasakan oleh menantunya–Caitlyn. Begitu bangun pagi dan mendapati laporan dari anak buah yang dia tempatkan di kota kecil tempat tinggal Caitlyn untuk menjaga wanita itu, Hadya tampak merasa senang dan juga tenang.
Orang-orangnya yang memantau dari kejauhan, memberi laporan dilengkapi dengan beberapa foto yang tertangkap bidikan kamera dari jarak yang aman. Hadya bahkan tidak percaya Caitlyn bisa membawa putranya itu duduk dalam rumah makan kecil yang tidak pernah dia kunjungi seumur hidupnya.
“Ketika gengsi akan ditaklukkan oleh rasa cinta … yah, seperti ini.” Tertawa bahagia.
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...