
Mobil yang ditumpangi Lean dan Hadya melaju membelah jalanan ibu kota, menuju ke kediaman utama Sanjaya. Seharusnya Lean masih harus ke kantor, tetapi pikiran yang kacau membuatnya memutuskan kembali ke rumah.
Kesepakatan yang berakhir dengan rentan waktu yang diberikan Sania, membuat Lean murka dan sangat marah dengan ayahnya.
Sepanjang perjalanan ke ruma, pria berparas tampan itu hanya diam dan tidak ingin berbicara sedikit pun dengan ayahnya. Dia bahkan enggan menoleh pada sang ayah.
Sementara Hadya sendiri, dia pun tidak ingin mengusik putranya. Dia tahu betul bahwa saat ini anaknya itu sedang marah. Hadya juga bingung harus mengambil tindakan seperti apa? Yang pasti, dia tidak ingin sampai Lean mengotori tangannya dengan darah Sania.
“Jangan lakukan itu, Lean! Istrimu sedang hamil, ingat Caitlyn, Lean. Hentikan ini, biar papa akan pikirkan lagi permintaannya.” Hadya memilih mengalah.
“Tidak! Silahkan Papa pikirkan itu, tapi aku akan tetap membunuhnya.” Lean kekeh.
“Kita butuh dia, Lean. Kita butuh informasi darinya.” Kata-kata ini membuat kerasnya hati Lean mulai sedikit mencair.
Ada marah untuk Sania, tetapi ada cinta untuk istrinya membuat Lean sangat dilema. Pria itu menutup matanya dan menggeram kesal. Saat hendak menurunkan pistol yang sedari tadi melekat di kepala Sania, bersamaan dengan itu pula tubuh Sania tiba-tiba terjerembab ke belakang dan jatuh terkulai.
“Lean! Itu sakit, Sayang!” sentak Hadya.
“Kenapa Papa masih saja peduli padanya? Dia pantas mendapatkan itu. Masih bagus tidak aku bunuh sekalian.” Lean teramat kesal dengan ayahnya.
Tidak ingin membebaskan Sania begitu saja, Lean yang begitu marah saat itu langsung menendangnya. Wanita tua itu terjatuh bahkan punggungnya terbentur meja di belakangnya. Lean tidak peduli sama sekali. Hatinya tidak selembut hati sang papa.
“Ingat, keselamatanmu hari ini tidak cuma-cuma, Wanita tua. Camkan bahwa aku bukan papaku yang mudah untuk kau luluhkan. Aku bisa berubah kapan saja jadi berhati-hatilah dalam langkahmu. Sekali lagi kau mengusik istriku, omongan papa dan siapapun tidak akan aku dengar lagi.” Ucapan tegas itu cukup menyadarkan Sania.
Entah dia akan langsung berubah ataukah masih akan berulah lagi. Lihat saja ke depannya. Sementara itu, Lean langung berjalan keluar meninggalkan sang ayah dan Sania di dalam sana. Dia sungguh tidak tahan melihat wajah iblis wanita tua itu.
“Beri aku waktu untuk memikirkan ini lagi! Tapi aku minta, selama itu jangan mencoba meneror putriku seperti kemarin. Kau tidak akan tau seberapa berbahaya jika Lean marah. Tunggulah dan berhati-hatilah!” peringat Hadya dan langsung keluar menyusul Lean.
Namun, baru saja di depan pintu, suara Sania menahannya sejenak.
__ADS_1
“Jangan mengulur-ulur waktu untuk mencari peluang lain dengan rencana yang lain lagi. Karena aku pun sama seperti putramu yang bisa berubah kapan saja!” ancam balik Sania.
Selesai mendengar itu Hadya tidak berkomentar apapun lagi dan langsung pergi begitu saja.
Hadya membuang napasnya kasar kala mengingat kejadian beberapa saat lalu di rumah Sania. Tidak lama setelah itu, mobil pun tiba di kediaman Sanjaya.
Lean langsung bergegas membuka pintu dan keluar begitu saja. Dia bahkan berlari cepat ke dalam. Tujuan pertamanya adalah Caitlyn. Dia butuh wanitanya itu untuk menenangkannya.
Lean berlari ke kamar dan sosok cantik itu tidak dia temukan. Cepat-cepat dia merogoh ponsel dan melakukan panggilan ke nomor yang bertuliskan ‘My Wife’ dilengkapi dengan emoticon hari berwarna merah.
Lean menyugar rambutnya kasar karena Caitlyn yang belum juga menjawab teleponnya. Dia tahu jika wanitanya itu sedang di kamar Nenek Sanju dan Lean tidak ingin mencari ke sana. Dia butuh Caitlyn di sini, berdua saja tanpa siapapun.
📲 “Halo, Al?”
📲 “Kemarilah, aku sedang di kamar!”
Hanya itu. Cukup kata itu saja dia yakin bahwa Caitlyn sudah bisa memahami perasaannya saat ini. Lean pun mematikan ponselnya dan menunggu kedatangan istrinya.
“Kenapa, Sayang?” tanya Nenek Sanju. Beliau bingung melihat Caitlyn yang tiba-tiba terlihat seolah panik.
“Aku ke kamar dulu, Nek. Lean nelpon, katanya di lagi nungguin di kamar. Sepertinya terjadi sesuatu. Aku ke atas dulu, yah, Nek.” Caitlyn berpamitan dan langsung keluar menuju kamarnya dan Lean yang berada di lantai dua.
“Apa yang telah terjadi?” gumam sang nenek.
Sementara itu Caitlyn berjalan cepat menuju kamar, tetapi dia sangat berhati-hati dengan langkahnya. Bagi bumil cantik itu baik Lean maupun anak dalam kandungannya, keduanya sama-sama berarti.
Begitu Caitlyn tiba dan masuk, Lean langung berlari saat mendengar gagang pintu yang berbunyi. Pria itu serta-merta langsung manarik tubuh Caitlyn dan memeluknya dengan sangat erat.
Caitlyn sendiri sampai kaget dibuatnya, bahkan pintu kamar pun belum sempat di tutup.
__ADS_1
“Al?” panggil Caitlyn dengan begitu lembut.
Namun, tidak ada sahutan. Yang dia rasakan hanya pelukan Lean yang semakin erat di tubuhnya.
“Ada apa, Sayang? Mau cerita?” tanyanya lagi.
Lean menggeleng dan Caitlyn dapat merasakan itu. “Please, jangan tanyakan apapun. Aku hanya ingin seperti ini,” ucap Lean dengan nada rendah hampir berbisik. “Aku sedang sangat marah, Sayang. Dan aku hanya butuh pelukanmu untuk menenangkan hatiku,” imbuh Lean benar-benar berbisik kali ini.
Caitlyn tidak lagi bertanya. Tangannya perlahan terangkat dan membalas pelukan pria yang tengah kacau itu. Usapan lembutnya di punggung lebar Lean sungguh menenangkan.
Dengan pintu yang terbuka saat itu, Hadya bisa menyaksikan pemandangan manis yang tersaji. Lean benar-benar hanya akan tenang bersama Caitlyn. Hati pria itu ikut tenang melihatnya. Dia pun lalu bergegas kembali turun. Setidaknya dia tahu bahwa Lean sudah bisa lebih tenang.
Hadya menuju ke ruang kerjanya. Pria itu lalu memanggil Jerry untuk melaporkan yang terjadi selama dia dan Lean tidak ada di sana.
“Semuanya baik-baik saja?” tanya Hadya langsung saat Jerry baru saja masuk.
“Untuk sementara bisa dikatakan seperti itu, Tuan,” jawab Jerry.
Sebelah alis Hadya terangkat. “Kenapa? Ada yang mencurigakan?” tebaknya.
“Benar, Tuan. Pelayan wanita itu benar-benar mencurigakan.” Lagi Jerry menjawab dengan kepala yang sedikit ditundukkan.
“Apa yang dia lakukan?” Hadya mulai penasaran. Pria yang masih gagah di usia setengah bayanya itu mengubah posisi duduknya jadi condong ke depan dengan dada yang bersandar pada meja, dan kedua tangan diletakkan di sana pula.
“Tadi dia diam-diam keluar lewat pintu belakang dan menemui seseorang. Menurut penjaga yang ada di sana, pelayan itu menerima sesuatu dan langsung dia sembunyikan ke dalam bajunya, Tuan.” Jerry mejelaskan sesuai yang disampaikan oleh orang-orang yang telah tersebar di seluruh wilayah kediaman Sanjaya.
“Kau tetap di sini dan terus pantau setiap gerak-geriknya. Jangan sampai putriku kenapa-napa, Jerry!” peringat Hadya dengan tegas.
“Siap, Tuan!”
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...