Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 18. Don't Call My Name!


__ADS_3

Lean menggigit pipinya dari dalam. Pipi mulus itu kini terlihat merah dengan stempel tanda tangan yang diberikan Caitlyn. Tangan Lean terangkat bukan untuk mengelus pipinya melainkan memainkan bibirnya.


“Wah, apa aku harus mengapresiasi keberanianmu ini? Karena hanya demi membela laki-laki yang kau cintai itu, kau dengan begitu berani nampar aku? Pria naif yang pernah kau bodohi, kau jebak, kemudian kau manfaatkan ini? Sempurna, terlalu sempurna semua caramu. Bahkan kau diam-diam sering ke Luxury Landing tanpa aku ketahui.” Lean membalikkan tubuhnya lalu tertawa kecil. “Sepertinya aku terlalu naif untuk kamu yang terlalu pandai. Pandai mendramatisir dan menyembunyikan segalanya.” Lean hendak melangkah pergi tetapi Caitlyn menahannya.


“Tidak seperti itu, Lean! Sungguh, kau terlalu jauh menilaiku,” ucap Caitlyn dengan suara yang bergetar.


“Ya, aku salah menilaimu. Kau tidak pernah berhubungan dengan Nathan, kau tidak pernah ke Luxury Landing. Aku saja yang terlalu berlebihan dan mengada-ada,” sahut Nathan dengan muak.


“Lean, please. Dengerin aku dulu.” Caitlyn memohon.


“Apa lagi yang harus aku dengar? Percintaanmu dengan pria lain selain Nathan dan lelaki di luxury landing itu?” sentak Lean kembali.


“Lean! Kau benar-benar keterlaluan! Aku tidak seperti itu,” balas Caitlyn dengan nada meninggi lagi.


Sepertinya perdebatan panjang dan sengit tadi belum juga berakhir dan akan ada babak baru setelah ini. Kepala Caitlyn terasa mulai pening kembali.


Lean berdecih. “Tidak seperti itu apa maksudnya, hah? Tidak berselingkuh tapi jual diri aja begitu?” Menatap hina pada Caitlyn. “Tidak cukup dengan uang dariku dan mencari lagi di luar sana? Memangnya harta keluarga Sanjaya kurang bagimu? Keserakahan yang hakiki.” Lean langsung melangkah pergi.


“Lean–”

__ADS_1


“Jangan berani-beraninya menyebut namaku lagi. Aku tidak sudi wanita hina dan murahan sepertimu menyebut namaku. Mulutmu sampahmu itu tidak pantas memanggil namaku,” maki Lean lengkap dibayar tunai tanpa tersisa satu pun.


Caitlyn tergugu dan membeku di tempatnya. Seperti kaca pintu balkon yang tidak lagi utuh karena berhasil dipecahkan oleh Lean, seperti itulah gambaran hati Caitlyn saat ini. Hancur berkeping-keping.


Namun, sebelum Lean benar-benar menghilang dari sana, Caitlyn mengumpulkan semua tenaganya yang tersisa dan melepaskan satu kalimat sumpah yang akan diingat dirinya bahkan Lean sendiri. Kalimat yang mewakili seluruh isi hati dan perasaannya saat itu.


“Aku bersumpah suatu hari nanti kau akan menyesali perkataanmu itu, Aleandro. Aku bersumpah jika hari itu tiba, hidupmu akan hancur melebihi kehancuran yang aku rasakan saat ini!”


Lean tidak menggubris dan akhirnya berlalu, sedangkan Caitlyn yang seolah kehabisan energi karena habis terkuras oleh emosi, lantas menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang lalu menangis sekencang-kencangnya.


Hanya itu yang bisa dilakukan Caitlyn saat ini. Jika mulut tidak bisa untuk berkata-kata, maka ungkapan itu lewat tangis agar dapat mengurangi sedikit beban. Menangis bukanlah tanda kelemahan, tetapi cara hati mengeksplorasikan kepahitan sehingga rasa sakit itu tahu apa yang akan ia putuskan setelah puas berekspresi dalam isakan.


Sama seperti Caitlyn, setelah puas menangis, dia pun memutuskan untuk tidak akan lagi peduli dengan kehidupan Lean. Beberapa jam lalu sebelum ke pengadilan agama dia telah berjanji untuk tidak kembali ke rumah itu lagi. Nyatanya dia masih di sana. Dan kali ini Caitlyn tidak akan mengalah lagi pada keinginan dan kekuasaan Aleandro.


Semuanya sudah dia tinggalkan, bukan? Tinggal membawa dirinya saja dan mengangkat kaki dari kerajaan neraka itu.


Harus kuat dan lakukan itu sekarang juga! Jangan menunggu penghinaan ataupun makian yang lebih sadis lagi! Ayo, hargai dirimu sendiri, Lily!


Caitlyn bangkit dan menghapus air matanya setelah membatin. Wanita itu lalu meraih tas dan ponsel. Dia berjalan keluar kamar, lalu menuju ke kamar Nenek Sanju.

__ADS_1


Dia tahu bahwa Lean tidak mungkin berada di sana dalam keadaan marah. Pria itu terlalu mementingkan kesehatan neneknya hingga dia tidak akan mungkin menebarkan aura buruk di sana.


Caitlyn membuka pintu dan masuk. Benar dugaannya, tidak tampak wajah menyebalkan Lean di sana. Caitlyn kembali menutup pintu dengan sangat pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan Nenek Sanju yang sedang tertidur.


Seorang pelayan yang sedang bertugas menjaga Nenek Sanju saat itu, terkejut lalu menunduk begitu melihat Caitlyn.


“Selamat siang, Nona.”


Caitlyn tidak menjawab sapaan itu melainkan meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberi isyarat agar pelayan itu tidak perlu bersuara. Masih menggunakan tangan, Caitlyn pun meminta wanita itu lekas keluar meninggalkan dirinya yang akan menemani Nenek Sanju.


Setelah sang pelayan pergi, Caitlyn lalu duduk pada kursi kosong yang berada di dekat ranjang Nenek Sanju. Diraihnya tangan keriput itu dan menggenggamnya dengan lembut.


“Nenek, maafin Caitlyn, yah. Caitlyn gak ada maksud buat Nenek sakit kayak gini. Caitlyn sendiri gak mau Nenek sakit. ‘kan, Caitlyn nanti gak jadi pergi kalo Nenek sakit.” Si cantik itu menangis lagi. “Makanya itu Nenek jangan sakit lagi, ini Caitlyn mau pergi … please, jangan halangin Caitlyn kalo memang Nenek sayang sama Caitlyn.” Suara Caitlyn begitu pelan bahkan hampir berbisik. Sesekali sebelah tangannya terangkat untuk menghapus lelehan bening di wajah cantiknya. “Caitlyn juga sakit, Nek, kalo terus-terusan di sini.” Si cantik itu memejamkan matanya sambil menempelkan telapak tangan Nenek Sanju di pipinya. “Walaupun Caitlyn udah gak jadi istri Lean, tapi Nenek akan selalu jadi neneknya Caitlyn. Nenek harus jaga kesehatan dan jangan keras kepala, nanti gada yang ngertiin Nenek kalo lagi ngambek.” Dia tertawa kecil sambil menangis. “Maafin Caitlyn, yah, Nek. Caitlyn harus pergi sekarang. Caitlyn sayang sama Nenek,” cicitnya dengan suara pilu.


Seseorang yang berdiri di balik pintu kamar Nenek Sanju dan mendengar itu, ikut meneteskan air mata.


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2