Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 102. Sania Mengamuk


__ADS_3

Hadya merasa lega karena hal yang ingin dia telusuri secara diam-diam, ternyata telah diambil alih sendiri oleh putranya. Hadya tidak menyangka ternyata Sania mengetahui semua itu dan dia berpura-pura buta agar bisa menindas Caitlyn terus-menerus.


“Tapi kenapa dia melakukan semua itu? Jika memang dia membenci putriku, pasti ada alasannya, bukan? Tidak mungkin dia membenci tanpa sebab. Tapi apa?” Hadya benar-benar pusing sekali memikirkan tingkah iblis Sania yang tidak ada habis-habisnya.


“Itu dia yang tidak kita ketahui sekarang. Maka lebih baik aku menemuinya secara langsung saja. Aku sudah tidak tahan dengan semua drama yang diciptakan wanita itu, Pa. Dia seakan sengaja menekan hidup kita, Pa. Dan kita seolah berada di bawah kendali dia. Aku tidak bisa menerima semua ini lebih lama lagi.” Wajah serius Lean terlihat seolah ingin meluapkan semua emosi.


“Sabar, Lean. Hadapi dengan tenang. Papa akan minta orang-orang papa untuk mencari tempat tinggalnya dan juga Nathan.” Hadya memberi saran.


“Secepatnya, Pa. Hari ini juga harus sudah ada hasilnya,” ucap Lean.


Hadya mengangguk dan langsung menghubungi orang-orang kepercayaannya dan memberi perintah.


“Dan bagaimana dengan proyek baru bersama Vagz International? Bukankah kamu juga bisa saja bertanya langsung pada mereka kenapa ingin kembali lagi ke tempat itu?” Hadya berbicara lagi setelah selesai menghubungi anak buahnya.


“Justru karena aku sudah bertanya makanya aku tahu kalau mereka ingin mencari anak kecil yang hilang bertahun-tahun lalu di sana, Pa. Tapi aku tidak bisa langsung mengklaim jika anak itu adalah Caitlyn, ‘kan? Bisa saja orang lain. Mereka juga paling tidak bisa percaya begitu saja dan mereka pasti butuh bukti. Ini semua itu tidak mudah,” ucap Lean sedikit frustasi.


Sungguh masalah yang sedang terjadi membuat tidurnya tidak nyenyak akhir-akhir ini. Menyita waktu dan juga menguras tenaga maupun emosi.


“Ok. Kalau begitu kita memang perlu bicara dengan Sania. Lagi pula dia juga pasti akan meminta harta gono-gini, ‘kan? Sekalian saja kita penuhi permintaannya. Bagaimana?” tanya Hadya pada putranya.


Lean mengangguk menyetujui. “Benar, Pa. Mari kita selesaikan ini secepatnya.” Dia lalu menatap Rendi. “Kau masih ingat perkataanku, ‘kan? Sania itu tidak waras dan sangat nekat. Jaga dirimu baik-baik!” peringat Lean sekali lagi pada kakak angkat istrinya.


“Saya ingat, Tuan. Terima kasih karena selalu mengingatkan!” ucap Rendi.


Mereka lalu menyelesaikan makan siang dan akhirnya kembali ke kantor, sedangkan Hadya memilih kembali ke rumah.

__ADS_1


...***...


Masih di tempat makan siang itu, Saskia sedang melanjutkan perdebatan dengan pemuda yang entah siapa namanya. Dia hanya senang memanggilnya dengan sebutan ‘bocah’. Saskia sungguh tidak peduli sama sekali siapa pun pemuda itu. Untuk mengenalinya bukanlah hal yang penting bagi Saskia.


“Sudah selesai, ‘kan? Sekarang aku mau pulang.” Saskia hendak berdiri tetapi pria itu langsung mencegahnya.


“Tidak semudah itu, Mbak pacar–”


“Aku bukan pacarmu, Bocah edan!” bantah Saskia tidak terima.


“Eitsss, jangan lupa kita punya kesepakatan bersama!” Saskia langsung diam tetapi matanya melirik pemuda itu dengan kesal. “Sebenarnya, sih, kalau mau dilihat bukan aku yang diuntungkan dari kesepakatan ini, tapi Mbaknya sendiri yang untung,” lanjut si pemuda.


Saskia menaikan sebelah alisnya. “Kenapa bisa begitu? Bukannya kamu seneng dan beruntung bisa ngedate gini sama aku?” Saskia berkata angkuh.


“Bocah edannnn!” Saskia memekik geram dan langsung bangkit hendak melayangkan pukulan pada pemuda itu, tetapi vibrasi ponsel menghentikannya. Ternyata vibrasi itu berasal dari ponsel milik pemuda tengil itu.


Si pemuda mengangkat sebelah tangannya menahan gerakan Saskia. Setelah itu dia meletakkan jari telunjuknya pada bibir meminta Saskia untuk tidak boleh berisik.


📲 “Halo?”


📲 “Pulang sekarang juga, Callix. Daddy menunggumu.”


📲 “No! Aku tidak ingin–”


📲 “Pulang ke rumah ... atau kembali ke Seattle?”

__ADS_1


📲 “Iya aku pulang!”


Telepon langsung dimatikan dengan decakan kesal dari pemuda itu. Saskia yang masih bisa untuk mendengar semuanya, bersorak dalam hati.


“Ehm, sepertinya kau punya urusan keluarga. Kalau begitu aku sudah bisa pergi, ‘kan?” tanya Saskia yang sudah tidak ingin berlama-lama.


Pemuda itu mengembuskan napasnya dengan kasar, kemudian dia bangkit dari duduknya.


“Okay. Kita bisa bertemu lagi besok setelah aku kembali ke apartemen. Tapi sebelum berpisah, berikan aku satu ciuman.” Setelah mengucapkan itu, Saskia sudah tidak menemukannya lagi karena si tengil itu sudah langung berlari menjauh.


“Bener-bener ini bocah bikin tensi naik. Anak siapa, sih, dia? Pasti orang tuanya kesel sampai ingin membuangnya ke mana tadi?” Saskia tampak berpikir. “Seattle? Ya, Seattle. Hah, semoga saja dia segera menghilang dari hidupku.”


Saskia pun segera pergi dari sana dengan perasaan yang cukup melelahkan karena ulah seorang pria muda nan tengil.


...***...


Pada waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda. Seorang wanita tengah mengamuk di rumahnya. Segala barang di ruang tamu itu telah dia hancurkan karena amarah yang tidak lagi tertahan.


“Tidak, tidak, tidak! Dia tidak bisa menceraikanku. Dia tidak akan pernah bisa!” teriak Sania sambil merobek surat panggilan dari pengadilan yang baru saja diterimanya.


“Hadya, kurang ajar. Aku bersumpah akan menghancurkan hidupmu dan juga keluargamu jika saja kau berani menceraikan aku.


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2