
Hari sudah gelap dan dewi malam mulai menduduki takhtanya, menyinari gulita yang mengungkung bumi. Di tempat tinggal Tamara, wanita itu tengah merasa gelisah karena sejak pagi, Lean belum juga membalas pesannya.
Ingin rasanya dia mendatangi kediaman utama Sanjaya, tetapi Sania mengatakan jika Lean tidak ada di sana. Tamara sudah mendatangi gedung utama Sanjaya Grup siang tadi, tetapi keberadaan pria itu pun tidak dia jumpai.
Di mana dia sebenarnya?
Bertanya pada Jerry? Percuma saja. Pria itu di mata Tamara, bahkan lebih menyebalkan daripada Lean. Tamara mendial beberapa nomor pada ponselnya dan melakukan panggilan. Tidak membutuhkan waktu lama, teleponnya pun tersambung.
📲 “Halo, selamat malam, tan. Apa Lean sudah kembali ke rumah?”
To the point tanpa basa-basi.
📲 “Hah, jadi kau juga belum berhasil menemuinya hari ini? Entahlah, ayah dan anak itu ke mana saja seharian ini dan belum juga kembali hingga sekarang.”
📲 “Apa mereka sudah mengendus rencana kita dan sengaja menghindar lalu membuat rencana baru untuk menggagalkan rencana yang kita buat?”
📲 “Jangan bicara yang tidak-tidak, Tamara. Bertahun-tahun aku mengelabui mereka dan tidak pernah gagal.”
Sania menampik dugaan Tamara.
📲 “Oh, yah? Lalu kenapa gagal waktu itu sampai tante kehilangan kepercayaan dari Om Hady?”
📲 “Itu karena kecerobohan Cecilia. Tidak perlu mengungkitnya. Pikirkan saja bagaimana cara untuk menemukan Lean dan menjalankan rencana kita selanjutnya”
Tamara menghela nafasnya dalam-dalam lalu mengangguk.
📲 “Baiklah, tante. Sampai nanti.”
“Sh*it. Ke mana saja dia? Apa dia menemui wanita si*alan itu lagi? Aku bersumpah akan membuatnya menyesal karena selalu merebut Lean dariku.”
...***...
Sementara itu di kediaman lain milik keluarga Sanjaya, Lean baru bisa bangun dan merasa jauh lebih baik. Seharian ini dia hanya tertidur karena merasa pusing dan lemas. Makan pun sedikit saja dan sangat tidak berselera. Dokter yang dipanggilkan Hadya harus menunggu sampai pria itu bangun dan juga harus sesuai keinginannya.
Lean sudah menolak untuk diperiksa, tetapi Hadya lagi-lagi memaksanya. Pria paruh baya itu pun tidak ke mana-mana seharian ini. Dia setia menemani sang putra yang tak berdaya sedari pagi.
“Bagaimana, Lean? Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Hadya saat Lean mulai duduk dan bersandar pada headboard.
“Sedikit lebih baik meskipun masih pusing.” Menjawab singkat.
“Apa sudah boleh diperiksa sekarang?” tanya Hadya sekali lagi.
Well, meskipun sebenarnya Lean tidak ingin diperiksa, tetapi desakan Hadya membuatnya mengalah. Lean tidak memiliki banyak tenaga ekstra saat ini untuk melawan ayahnya.
Hadya lalu segera memanggil Dokter Andra yang memang dari siang sudah standby di sana untuk melakukan tugasnya yang selalu saja tertunda sejak siang.
Pria berjas putih itu lalu mengeluarkan stetoskop, kemudian meminta izin terlebih dahulu pada Lean barulah dia melakukan pemeriksaan. Beberapa kali dia menjalankan benda itu pada beberapa titik bagian tubuh Lean, tetapi tidak ada hasil apa pun yang dapat dia jadikan diagnosa.
__ADS_1
Wajah dokter itu tampak bingung. Dia sempat berpikir jika stetoskopnya yang rusak, tetapi tidak. Benda tersebut berfungsi dengan baik.
“Jadi putraku sakit apa, Dokter Andra?” tanya Hadya yang tidak sabar ingin mengetahui kondisi putranya.
“Tuan Muda sehat dan baik-baik saja, Tuan. Tidak ada gangguan kesehatan apapun yang ditemukan. Mungkin Tuan Muda hanya kelelahan,” jelas sang dokter.
Lean menarik nafasnya dalam-dalam, lalu melirik ayahnya dengan jengah.
“Sudah Lean bilang, ‘kan? Lean itu baik-baik saja. Cuman butuh istirahat,” ucap Lean dengan nada malas.
Hadya tidak puas dengan jawaban yang diberikan dokter itu. “Coba periksa sekali lagi, Dokter. Sepertinya alat Anda bermasalah.”
Lean berdecak mendengar perkataan ayahnya. “Papa jangan aneh-aneh, deh. Sudah sana pulang. Lean mau lanjut istirahat. Masak alat dokter dibilang bermasalah. Yang benar saja, dia itu dokter kepercayaan keluarga kita, bertahun-tahun melayani keluarga kita mana pernah bermasalah? Dia itu dokter profesional, tidak mungkinlah dia kerja dengan alat yang bermasalah. Bisa bahaya reputasinya, Pa.” Mengomel panjang lebar.
Eh, ini … ini tuan muda, ‘kan? Kenapa bicaranya jadi banyak sekali?
Tidak hanya dokter Andra yang bingung, tetapi Hadya pun sama.
“Ya, habisnya kamu kesakitan sejak pagi masak tidak ada gangguan kesehatan? Kamu sampai pucat dan lemas gini, loh, Lean. Papa khawatir,” sahut Hadya dengan cemas.
“Papa dengar sendiri, ‘kan, dokter bilang apa? Jadi tidak perlu khawatir dan papa pusing saja ke rumah utama. Lean mau istirahat lagi,” putus Lean.
“Tidak, papa mau tetap di sini jagain kamu.” Hadya begitu kekeh.
Dokter Andra masih tetap di sana dan menyaksikan perdebatan ayah dan anak itu.
“Em … maaf, Tuan. Saran saya, alangkah baiknya besok Tuan ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lengkap biar kita tahu yang pasti.” Dokter Andra bersuara menengahi perdebatan ayah dan anak itu.
“Tidak perlu, Dokter. Aku baik-baik saja.” Lean menjawab.
“Oh, itu sangat perlu, Dokter. Baiklah, besok dia akan rumah sakit.” Hadya menentang ucapan anaknya.
Tidak ingin pusing dengan keras kepala dua manusia di hadapannya, Dokter Andra pun berpamitan dan segera menghilang dari sana.
“Oh, iya, Dokter. Terima kasih!”
Itu suara Hadya, sedangkan Lean sudah menenggelamkan diri di dalam selimut. Kondisi tubuh yang lemas membuat pria itu tidak berselera untuk bicara lagi dengan ayahnya.
Kenapa papa jadi menyebalkan sekali?
“Lean, Lean ….” Tidak ada sahutan. “Lean!” panggil Hadya sedikit keras.
“Orangnya sudah tidur. Silahkan hubungi lagi nanti.”
Seketika Hadya tergelak mendengar sahutan dari balik selimut. Dalam hati Hadya bersyukur karena ketidakberdayaannya hari itu membuat dia banyak mengalah dan mau berbicara lagi dengan Hadya.
Hari ini dia terlihat sangat berbeda. Bicaranya ketus dan marah-marah tapi lucu sekali … Papa seperti melihat Lean kecil kesayangan papa 20 tahun silam.
__ADS_1
Hadya membatin sembari tersenyum dan membiarkan putranya itu beristirahat.
“Baiklah. Selamat malam, nak.”
Hadya tidak langsung keluar. Dia menunggu di sana hingga Lean benar-benar terlelap. Beberapa detik kemudian, ponsel Hadya berdering dan dia melihat nama Caitlyn di sana.
Pria paruh baya itu memastikan Lean sekali lagi sebelum beranjak dari sana dan menjawab panggilan dari menantunya.
📲 “Halo, sayang. Sudah sampai di rumah barumu?”
📲 “Pa, kenapa gak siapkan rumah yang kecil saja, sih? Kan Caitlyn cuman sendiri.”
📲 “Nanti juga berdua sama cucu papa, nanti bertiga juga sama Lean.”
📲 “Ck, papa apaan sih. Papa sudah jelasin sama dia?”
📲 “Sudah, nak. Tapi dia masih keras kepala dan tidak mau percaya. Tapi kamu tenang saja, papa sedang berusaha meyakinkan dia, sayang. Bersabarlah.”
Hening tercipta di antara mereka, hingga terdengar helaan napas panjang dari Caitlyn.
📲 “Btw makasih, ya, pa. Rumahnya indah sekali. Caitlyn sangat menyukainya. Dan juga … terima kasih untuk hot dog brioche-nya.”
Dia mengalihkan pembicaraan mengenai Lean. Nama itu terlalu besar mempengaruhi hati Caitlyn.
📲 “Sudah sampai juga ternyata pesanannya. Syukurlah, nak. Nikmati dulu brioche-nya lalu istirahat yah. Jangan begadang. Besok papa akan ke tempatmu”
📲 “Siap komandan.”
Hadya tertawa lega karena Caitlyn tidak lagi sesedih hari kemarin. Panggilan di antara mereka pun berakhir dengan Hadya yang terpikirkan satu hal.
“Oh, ya. Harusnya, ‘kan, Caitlyn melakukan pemeriksaan juga. Tapi tidak, tidak bisa kalau siang. Jangan sampai ada yang tahu jika dia sudah kembali ke kota ini.”
Ya, Hadya memutuskan untuk menarik Caitlyn dari kota kecil nun jauh itu dan kembali ibu kota agar Hadya bisa memantaunya lebih dekat. Selain itu, dia sudah menduga jika nantinya ada beberapa orang yang akan mencari Caitlyn di sana dengan tujuan yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Lean sendiri.
Hadya sangat yakin jika Lean tahu kebenarannya nanti, putranya itu akan langsung mencari Caitlyn. Oleh sebab itu, dia meminta anak buahnya untuk membawa Caitlyn keluar sana lebih cepat.
Pria paruh baya itu juga menyiapkan tempat tinggal berupa penthouse super mewah di sebuah kawasan hunian premium. Awalnya dia ingin menempatkan Caitlyn di luxury landing, tetapi mengingat unit apartemen Lean ada di sana dan orangnya juga sering bermalam di sana, mau tidak mau Hadya beralih ke skylar residence yang mana tidak kalah mewah dari luxury landing.
Hadya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk menantu dan calon cucunya. Oleh sebab itu, penthouse menjadi pilihan yang tepat supaya Caitlyn merasa nyaman dan tentu saja merasa betah dengan view yang indah, meskipun dirinya akan selalu terkurung di sana.
“Besok pagi-pagi sekali aku harus ke tempat Caitlyn terlebih dahulu sebelum ke kantor dan sesudah itu memaksa Lean ke rumah sakit.”
Hadya menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskan dengan kasar.
“Jika saja Sania tidak seperti iblis, mungkin aku tidak akan serepot ini.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...