
Semua orang tercengang mendengar perkataan Caitlyn yang begitu sederhana. Tidak terkecuali Lean dan Hadya. Ayah dan anak itu tidak habis pikir, apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Caitlyn.
“Caitlyn, tapi ....” Lean tampak ingin protes, tetapi dia juga tidak tega menolak yang hanya akan membuat wanita itu kecewa.
“Boleh, yah, Al. Boleh, yah, Pa. Please.” Caitlyn memohon dengan kedua tangan yang direkatkan di depan dadanya.
Hadya kehilangan kata-kata dan merasa serba salah. “Em, bisa kita bicarakan ini nanti, Sayang? Kita kembali ke rumah dulu, yah,” pinta Hadya.
“Yah, terus kapan lagi, Pa? Kalau kita balik ke rumah, Kak Rendinya gimana?” tanya Caitlyn dengan wajah cemberut.
“Dia bisa pulang ke rumahnya dulu,” ucap Hadya sambil memandangi Rendi. “Kamu masih ingat jalan ke rumah kamu, ‘kan?” tanyanya.
“I-iya, Tuan. Saya masih ingat,” jawab pria itu.
“Pa, tapi dia sendirian. Baru sembuh, nanti tidak ada yang merawatnya.” Caitlyn sangat mengkhawatirkan kondisi pria itu.
Lean menarik napasnya panjang dan menghembuskan dengan kasar. “Pokoknya kita pulang sekarang dulu. Kita perlu bicarakan ini, Caitlyn. Kamu tidak bisa memutuskan apa-apa sendirian. Kamu punya suami, kamu juga punya keluarga. Jadi kita bicarakan dulu baru menentukan selanjutnya akan seperti apa. Okay?” Lean mode memerintah dan tidak ingin dibantah.
Caitlyn menatapnya dengan sedikit takut. “Dia, ‘kan, juga keluarga aku, Al.” Masih mencoba membujuk.
Tatapan jengah Lean membuat Caitlyn langsung bersiap untuk pulang. Dia tahu betul bahwa dia tidak akan pernah bisa melawan Lean. Apalagi mereka baru saja berbaikan, membuat Caitlyn tidak berenai berpikir untuk melawan dan hanya berujung pertengkaran.
Mereka lalu akhirnya begegas kembali ke rumah utama keluarga Sanjaya. Sebelum pergi, Lean memberikan kartu namanya pada Rendi agar pria itu dapat menghubunginya kapan saja.
“Kau sudah tahu alamat rumah kami, bukan? Datanglah Minggu siang, aku dan istriku akan menunggumu,” ucap Lean yang membuat Caitlyn merasa tenang.
“Baik, Tuan. Terima kasih.” Sama seperti Caitlyn, Rendi pun merasa jauh lebih baik dan lebih tenang, ketika mendapat perlakuan baik dari seorang Presdir Sanjaya Grup seperti ini.
__ADS_1
Pria itu juga berterima kasih karena Lean meminta anak buah ayahnya untuk mengantarkannya pulang. Setelah membuat kesalahan besar pada istrinya, Rendi bersyukur karena masih diberikan kesempatan mendapatkan kebaikan pria itu.
Mereka pun berpisah. Caitlyn, Lean, dan Hadya, kembali ke kediaman utama menggunakan mobil yang sama, dengan Jerry yang mengemudi.
Namun baru saja keluar dari area rumah sakit, Lean meminta menghentikan mobilnya di tepi jalan.
“Ada apa, Al?” tanya Caitlyn sedikit panik.
Pasalnya, mobil belum juga berhenti sempurna, Lean sudah lebih dulu membukan pintu dan buru-buru untuk segera turun dari mobil. Pria itu berlari ke tepi jalan dan mengeluarkan semua isi perutnya yang ternyata kosong karena belum makan sedari pagi, dan hanya terisi dengan air.
“Al!” teriak Caitlyn bertambah panik sekarang. Dia bergegas ingin ikut turun dan menghampiri Lean. Akan tetapi Hadya melarangnya.
“Kamu di sini saja, Sayang. Biar papa yang urus dia,” titah Hadya.
“Tapi Caitlyn khawatir, Pa. Dia sakit,” rengek Caitlyn ingin ikut.
Caitlyn menurut dan hanya memantau dari dalam mobil. Wanita hamil itu melirik bangku pengemudi di mana Jerry pun ikut turun dari sana. Saat Jerry mendekat, Lean kembali Lean memuntahkan lagi isi perutnya.
“Jerry, ke*parat! Menjauhlah dariku, breng*sek!” teriak Lean marah-marah di pinggir jalan.
Spontan Jerry pun memundurkan langkahnya dan berdiri dengan jarak cukup jauh dari kedua tuannya.
“Sudah aku katakan untuk mengganti parfummu tapi kau tidak juga mendengarkan? Gajimu bulan ini akan kudonasikan ke yayasan panti asuhan!” pekiknya lagi.
Jerry kelabakan. “Tapi saya sudah menggantinya, Tuan!” Sedikit berteriak karena jarak yang lumayan jauh.
Caitlyn mendendang itu menjadi bingung. “Ganti parfum? Masalahnya apa memang?” gumam Bumil cantik itu.
__ADS_1
“Sudah, sudah. Kita menjadi tontonan banyak orang di sini. Ayo, pulang, Lean! Sepertinya dari kemarin kau tidak meminum obatnya!” ajak Hadya dan langsung memapah Lean.
“Tapi aku tidak bisa mencium baunya, Pa. Suruh dia pergi saja dengan taksi atau apapun itu.” Lean menolak satu mobil dengan Jerry.
Hadya mengiyakan dan meminta Jerry untuk menggunakan mobil lain bersama anak buahnya, sedangkan dia sendiri yang mengemudikan mobil mereka.
“Biar papa saja yang menyetir, kamu duduk dengan istrimu di belakang.” Hadya tidak ingin menyiksa putranya untuk berkendara dalam keadaan seperti itu.
“Makasih, Pa.” Keduanya kompak mengucapkan terima kasih pada Hadya.
Lean langsung bergabung dengan Caitlyn. Tanpa peduli dengan keberadaan sang ayah, dia pun bersandar manja di pundak Caitlyn. Lean bahkan mendusel wajahnya di ceruk leher Caitlyn, mengendus-endus aroma wangi rambut bumil itu.
“Kamu kenapa, hm?” tanya Caitlyn lembut. “Masuk angin karena belum makan, ‘kan?”
Lean menggeleng lemah. “Aku hanya ingin tidur di dekatmu.”
Caitlyn langsung berinisiatif membuka kedua tangannya dan Lean pun dengan senang hati masuk dalam dekapan kecilnya. Tidak menunggu lama, pria tampan itu langsung tertidur.
Lelah yang begitu hebat ditambah belum makan dan juga couvade syndrome yang kembali mengerjainya membuat Lean terlelap dengan sangat cepat. Kenyamanan pelukan Caitlyn pun turut mendukungnya. Dapat Caitlyn dengar, dengkuran halus dari mulutnya.
“Kalau seperti ini kau manis sekali,” ucapnya diikuti tawa kecil.
Hadya ikut bahagia melihat pemandangan anak dan menantunya itu. Hati pria paruh baya itu kini menjadi lebih tenang. Satu saja yang dia pikirkan saat ini, segera bercerai dari Sania.
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1