
Hadya tiba di rumah utama pada jam 7 pagi. Baru saja turun dari mobil, Sania sudah menyambutnya di depan pintu utama bangunan mega tersebut dengan tangan yang terlipat di dada. Dari jauh Hadya sudah melihatnya dan tetap bersikap tak acuh.
“Kenapa pagi-pagi sudah di sini?” tanya Hadya basa-basi dan tanpa sapaan mesra seperti biasanya.
Sejak dulu dalam hati kecil Hadya selalu berharap jika istrinya itu bisa berubah seiring waktu. Nyatanya, tahun berganti tahun, musim berganti musim, Sania tetaplah Sania.
Decakan kesal terdengar dari mulut Sania. “Harusnya mama yang bertanya. Papa dari mana saja sampai baru pulang rumah pagi ini?”
Tidak ingin ambil pusing, Hadya terus melangkah tanpa peduli jika Sania sedang menunggunya. Dia bahkan melewati wanita iblis itu begitu saja.
“Aku sibuk.” Singkat sekali dan terkesan acuh.
“Sibuk apanya? Ngurusin kantor?” Mengikuti langkah suaminya dari belakang.
“Apalagi memangnya? Kau, ‘kan, tahu sendiri,” sahut Hadya sambil terus melangkah.
“Bukannya itu sudah jadi tanggung jawab Lean? Harusnya dia yang lebih sibuk daripada Papa. Bukan malah sebaliknya. Anak itu ke mana saja, sih, akhir-akhir ini?” Intonasi Sania mulai terdengar kesal dan meninggi.
Hadya mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah sang istri dengan tajam.
“Kenapa?” tanya Hadya dengan suara rendah tapi tegas penuh intimidasi. “Kenapa kau tiba-tiba peduli dengan putraku? Sejak kapan?” Tatapan tajam itu membuat Sania takut dan memundurkan langkahnya. “Kenapa juga memangnya kalau Lean tidak mengurus perusahaan dan aku yang menangani semuanya? Kenapa? Apa masalahmu, hah? Apa kau ingin memarahinya?” Wajah Hadya berkilat marah sekali kali ini.
Tubuh Sania gemetar takut karena melihat perubahan wajah Hadya yang begitu menakutkan. Wajah ini sudah lama tidak Hadya tunjukkan. Terkahir kali Sania mendapat tatapan seperti itu ketika Cecilia berbuat salah dan Sania yang menutupi semuanya.
“Dengar, Sani. Kau tidak memiliki hak untuk melakukan itu, dan jangan sekali-kali kau berusaha untuk menghakiminya karena hak itu tidak aku berikan padamu. Panggilan mama yang dia sematkan itu hanyalah formalitas saja, tidak ada yang spesial antara kau dan putraku. Dan aku peringatkan padamu untuk berhentilah mengusik ataupun mempermainkan kehidupan putraku. Jika saja kau berani melakukan itu, tidak akan tempat bagimu lagi di rumah ini!” Hadya menyudahi ucapannya dengan ancaman yang membuat pijakan Sania mendadak lemas.
Pria paruh baya itu membalikkan tubuhnya dan segera berlalu dari hadapan Sania. Tubuh wanita itu langsung merosot perlahan dan terduduk di lantai sambil menatap kepergian Hadya dengan tatapan nanar.
__ADS_1
Mungkinkah dia sudah tau segalanya seperti yang dikatakan oleh Tamara? Apakah ini akan menjadi akhir dari semua permainanku? Tidak, tidak, tidak, tidak ….
Sania membatin sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia belum rela dan mungkin tidak akan pernah rela jika harus kehilangan kemewahan ini. Sania begitu ketakutan saat ini.
Aku harus melakukan sesuatu secepatnya. Tidak boleh kalah. Iya, tidak boleh kalah. Bangkit dan lakukan sesuatu, Sania.
Sementara itu di dalam kamar, Hadya langsung membersihkan tubuh lalu berganti pakaian dan bersiap-siap untuk ke kantor. Pria paruh baya yang masih saja terlihat gagah dan berwibawa itu mematut dirinya pada cermin sembari menata rambutnya agar terlihat lebih rapih.
Dari pantulan di dalam cermin, tampak Sania yang kini tengah berdiri di belakangnya dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan sarapan. Hadya menyudahi kegiatan dengan rambutnya dan hendak melangkah keluar, tetapi Sania mencoba menahannya.
“Pa, biarpun papa marah sama mama, tapi tolong sarapan dulu sebelum ke kantor, yah.” Sania mencoba tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
“Makasih, aku sudah sarapan sejak tadi.”
Setelah mengucapkan itu, Hadya pun segera berlalu meninggalkan Sania dalam kesendirian yang mengesalkan serta membuat emosi.
Si*al.
“Sabar, Sania … sabar. Tenangkan dirimu dan pikikan apa yang harus kau lakukan.”
Sarapan yang tadinya dia siapkan untuk sang suami, dinikmati sendiri olehnya.
...***...
Di kantor, Hadya sedang dipusingkan dengan pekerjaan yang tertunda sejak kemarin. Entah sudah berapa jam Hadya berkutat dengan laporan-laporan yang ditumpukkan di atas meja kerja Lean. Aidam dan Jerry setia menemani dan siap sedia melakukan segala perintah Hadya.
“Jerry, siang ini kau ikut bersamaku untuk mengantarkan Lean ke rumah sakit. Tapi setelah rapat selesai.”
__ADS_1
“Baik, Tuan!”
Waktu siang kini menyapa dan kurang lebih setelah 2 jam berlalu, Hadya pun sudah selesai memimpin rapat. Pria paruh baya itu tampak buru-buru untuk kembali secepatnya dan melihat keadaan sang putra. Jerry ditugaskan untuk mendampinginya, sedangkan Aidam tetap di kantor untuk memantau langsung kinerja para karyawan.
Beberapa saat berkendara, mobil yang ditumpangi Hadya dan Jerry tiba di kediaman Sanjaya yang lainnya. Lagi-lagi Hadya melangkah cepat karena tidak sabar untuk melihat keadaan putranya.
Tiba di kamar sang putra, Hadya baru bisa bernapas lega karena mendapati pria muda kembaran masa mudanya itu sedang berbaring sambil memainkan benda pipi persegi di tangannya dengan wajah yang sangat serius.
“Lean,” sapa Hadya. “Sedang apa kamu?” Segera mendekat ke arah tempat tidur.
“Papa?” Sedikit kaget karena kedatangan sang ayah. “Papa dari kantor?” tanyanya.
“Iya, Nak. Mana mungkin papa biarkan kerjaan kamu menumpuk dengan kondisi kamu seperti ini. Tapi gimana perasaan kamu hari ini? Papa liat sepertinya sudah jauh lebih baik dari kemarin.”
“Maafin Lean yang sudah bikin Papa pusing dengan kerjaan di kantor.” Merasa tidak enak dengan ayahnya. “Hari ini lumayan baik, Pa. Mual sama muntahnya sedikit berkurang. Cuman masih pusing–”
“Selamat siang, Tuan. Maaf baru bisa–”
Perkataan Jerry terhenti saat Lean mengangkat sebelah tangan ke arahnya sebagai tanda untuk berhenti berbicara. Selain itu juga sebelah tangan Lean digunakan untuk menutup hidung.
“Jerry, apa kau mengganti parfummu? Kenapa baunya tidak sedap sekali?” Lean berbicara dengan ekspresi jijik dan kembali mual.
“Hah? Saya tidak–”
Jerry mendadak diam saat Lean dengan gerakan secepat kilat menyibak selimutnya dan berlari menuju kamar mandi.
Sebenarnya Tuan sakit apa?
__ADS_1
...TBC ...
...🌻🌻🌻...