
Lean benar-benar hanya menonton dan menemani Caitlyn sarapan saat itu. Berkali-kali Caitlyn memintanya untuk mencoba, berkali-kali juga dia tetap menolak.
“Untuk mencoba masakanmu saja aku begitu takut, apalagi makan di tempat seperti ini.”
Begitu alasan yang dikatakan oleh Lean. Caitlyn hanya tertawa kecil mendengar ungkapan itu. Dia ingat betul saat Lean begitu takut diracuni olehnya. Setiap masakan ataupun minuman yang disediakan Caitlyn, jangan harap dia akan menyentuhnya. Trauma jebakan Caitlyn dengan segelas vodka, selalu terngiang-ngiang di ingatan Lean.
Setelah menyelesaikan makanannya, Caitlyn dan Lean segera beranjak dari sana, kembali melangkah bersama menuju rumah Caitlyn. Sama seperti saat pergi, keduanya pun terdiam sepanjang jalan pulang.
Sampai di depan pagar rumah Caitlyn, Lean menghentikan langkahnya dan membiarkan Caitlyn masuk sendiri.
“Kenapa? Kok, gak mau masuk?” tanya Caitlyn bingung.
Lean menatapnya dengan datar. “Kalau memang kau izinkan,” balas Lean sambil mengedikan bahunya.
Caitlyn mendengus lalu berbalik pergi diiringi omelan-omelan yang membuat Lean akhirnya tertawa.
“Tumben sok minta izin segala. Biasanya juga main nyelonong, terobos gak pake aturan. Seenak jidat kalau mau ngelakuin apa-apa, gak mikir perasaan orang. Hari ini tiba-tiba mengingat tatakrama. Salah makan kali dia.”
Lean mengikutinya dari belakang dengan tetap diam mendengar celoteh wanita itu. Dia mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan tawa agar tidak sampai terlepas. Sampai di dalam rumah, Lean berdiri mematung di ruang tamu sedangkan Caitlyn langsung menuju kamar dan mengganti hoodie yang dia kenakan.
“Tidak sopan, tamu dibiarkan berdiri,” sungut Lean.
Pria itu mengedarkan pandangannya menyapu seisi rumah minimalis itu. Ada beberapa hal yang dia tahu pasti hadiah dari ayahnya. Label yang terdapat pada beberapa furniture di sana, dia kenali itu adalah produk dari anak cabang milik Sanjaya Grup.
“Segitunya papa memperhatikan kamu,” gumam Lean sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Papa Hady, ‘kan, memang papa terbaik sepanjang abad ini,” sahut Caitlyn yang kini sudah berdiri di belakangnya.
Lean berbalik dan mendapati senyum manis Caitlyn di sana. Wanita itu lalu mempersilahkannya untuk duduk.
“Kamu tidak lapar? Aku akan membuatkan sarapan untukmu sebagai bayaran karena sudah menemaniku pagi ini,” tawar Caitlyn.
Lean menggeleng dan Caitlyn menebak jika alasan yang sama masih menjadi pertimbangannya.
“Ayolah, buang pikiran konyolmu itu … hmm, Tuan Sanjaya!” Caitlyn takut menyebutkan namanya. “Kau bisa mengikutiku dan memastikan sendiri pekerjaanku. Aku tau kamu lapar, Tu … an.” Caitlyn memelankan nada bicaranya dan sedikit memberi jeda kala melihat tatapan Lean yang berubah sangar.
“Teruskan lagi,” perintah Lean. Mode menyebalkan mulai on.
“Hmm?” Caitlyn bingung.
__ADS_1
“Teruskan panggilanmu tadi!” perintah Lean kedua kalinya.
“Tuan?” tanya Caitlyn dengan polos dan itu sukses membuat Lean terlihat kesal. “Tuan Sanjaya yang terhormat. Begitu–”
Caitlyn tidak dapat meneruskan perkataannya karena Lean yang tiba-tiba berdiri di hadapannya begitu dekat, hanya berjarak beberapa centi saja. Terpaan nafas hangat pria itu membuat Caitlyn membeku.
“Kenapa?” tanya Lean dengan nada rendah. “Kenapa memanggilku seperti itu? Seasing itukah diriku di matamu sekarang?” Caitlyn menengadah lalu membalas tatapan Lean dan menggeleng.
“Kamu sendiri yang meminta itu. Apa kamu lupa?” Caitlyn ikut bertanya dengan nada yang rendah pula.
Lean berdecak kesal. “Itu hanya berlaku saat aku marah, Caitlyn. Apa sekarang kau melihatku sedang marah?”
“Tetap saja aku takut kalau aku menyebut namamu dan kau akan marah.” Caitlyn kembali menunduk.
Lagi-lagi Lean berdecak. “Itu hanya alasanmu karena memang kau membenciku, ‘kan?” Berbalik dan duduk kembali ke tempatnya yang semula, sementara Caitlyn masih tetap berdiri.
“Tidak, itu tidak benar! Aku memang hanya menuruti permintaanmu waktu itu ….” Caitlyn beranjak dari tempatnya berpijak dan kini berdiri di depan Lean.
“Sudahlah, aku tau dan sadar jika aku tidak sepenting itu sekarang. Yang penting bagimu sekarang hanyalah Nathan dan Nathan. Ya, ya … aku–”
Caitlyn menunduk dan langsung menutup mulut Lean menggunakan kedua tangannya.
Lean melepaskan bekapan Caitlyn dari mulutnya. “Tidak bisa! Karena hanya dia yang selalu ada di otakmu. Hanya dia yang selalu saja kau sebut dengan begitu manis. Nath, Nuth, Nath, Nuth!” protes Lean dengan nada ketus dan ekspresi yang lucu.
Sontak, tawa Caitlyn pun lepas begitu saja. “Sudahlah. Ayo, aku akan memasak untukmu sebagai permintaan maaf, Tuan Sanjaya.”
Lean menggeram kesal. “Caitlyn, sekali kau memanggilku seperti itu, aku benar-benar akan menghukummu.”
Caitlyn menegakkan punggungnya dan melipat tangan di dada. “Apa yang bisa kau lakukan memangnya. Aku yang akan mengadukan perbuatanmu sama papa kalau–”
Caitlyn mendadak terdiam dengan mata yang membola begitu Lean berdiri dan membungkam mulutnya. Hanya beberapa detik, tetapi mampu melumpuhkan seluruh tulangnya. Bagai aliran listrik dahsyat yang menyengatnya, hingga aliran darah di sekujur tubuhnya pun terasa panas.
“Adukanlah sama papa. Dipersilahkan, Nona Caitlyn.”
Tanpa rasa berdosa sama sekali, Lean langsung meninggalkan Caitlyn dan melangkah ke arah dapur. Tidak sulit menemukan area masak memasak itu karena ukuran rumah minimalis dan mudah dijangkau.
Sementara itu, Caitlyn baru tersadar setelah beberapa detik Lean menghilang dari hadapannya.
“Leaaaannnnn!”
__ADS_1
...***...
Di tempat lain, dalam sebuah kamar hotel. Nathan tengah membereskan barang-barangnya untuk kembali ke kota. Usahanya semalam untuk kembali ke rumah Caitlyn, gagal total karena pergerakan Lean yang begitu cepat.
“Breng*sek! Apa-apaan, sih, dia itu? Bukannya udah mau cerai? Ngapain cari-cari lagi? Gak jelas banget,” gerutu Nathan.
“Sabar, Nath. Masih ada banyak waktu. Be calm, sebentar juga bakal cerai dan Lily akan menjadi milikmu.” Nathan tersenyum kecil sambil mengelus rahangnya bekas pukulan Lean semalam.
“Jika dia masih menghalangi jalanku, aku tau pada siapa harus meminta bantuan. Hah, sesekali harus berbuat nekat dan sedikit menyimpang untuk bisa mencapai tujuanmu. Sungguh ajaran yang berguna.” Lagi-lagi Nathan tertawa seraya melangkah keluar dari kamar hotel.
...***...
Lean baru bisa makan dengan tenang setelah memantau dan menyaksikan sendiri cara kerja Caitlyn. Sedetik pun matanya tidak ingin berpindah ke mana-mana. Jangan sampai ada cela sekecil apapun bagi Caitlyn meracuninya. Sungguh pemikiran konyol.
“Enak?” tanya Caitlyn ingin memastikan.
Lean mengangguk. “Lumayan … untuk kategori orang orang kelaparan sepertiku.” Oh, Caitlyn ingin sekali mencekiknya dengan jawaban itu.
“Terserah,” sahut Caitlyn dengan malas.
“Tapi aku tetap ingin berterima kasih karena sudah repot-repot membuatnya.” Wajah itu menyebalkan sekali saat mengatakannya, dan Caitlyn hanya bisa mendengus kesal. “Ngomong-ngomong, kau tau tujuanku datang ke sini?” tanya Lean sesudah itu dan Caitlyn menggeleng sebagai respon. “Nenek sakit dan hanya ingin melihatmu. Dia tidak ingin bertemu siapapun bahkan aku cucu kesayangannya.” Lean menyudahi makannya.
“Kau serius?” Caitlyn kaget.
“Kapan aku berbohong, hm? Kau tahu itu bukan bidangku.” Menjawab sambil berdiri lalu membawa piring bekas makannya menuju tempat cuci piring yang hanya beberapa jengkal dari meja makan.
“No, Lean. Biar aku saja. Kembalilah ke tempatmu,” cegah Caitlyn. “Jelaskan saja dulu, apakah sakit nenek parah?” Lebih penasaran dengan kondisi Nenek Sanju.
Tidak ada jawaban dari Lean. Pria itu tengah menunduk dan mengambil sesuatu dari dalam tempat sampah di dekat sana. Dia lalu membaca tulisan-tulisan yang tertera pada benda yang dipegangnya.
“Susu untuk ibu hamil?” gumamnya, tetapi dapat dapat didengar oleh Caitlyn.
Pria itu membaca ulang tulisan pada kardus bekas yang dipegangnya, bergantian memandang wajah Caitlyn dengan raut penuh tanya.
“Siapa yang hamil? Kamu? Jawab aku Caitlyn, kamu hamil?” desak Lean tak sabar. Jantung pria itu tiba-tiba berdetak tak menentu.
Caitlyn tergagap, entah harus menjawab pertanyaan itu ataukah tidak.
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...