Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 108. Tidak Mendapat Dukungan


__ADS_3

Lean mulai tampak tenang. Akan tetapi, Caitlyn tidak ingin menanyakan apapun itu. Bukan tidak peduli, tetapi wanita cantik itu sudah berjanji pada Nenek Sanju untuk tidak akan mempertanyakan apapun, atau mencari tahu hal-hal yang hanya akan berujung merusak mentalnya.


Caitlyn juga tidak ingin mengusik ketenangan hati sang suami yang baru saja membaik. Biarkan ini menjadi keputusan Lean untuk mau bercerita atau tidak. Satu hal pasti yang sudah Caitlyn tanamkan dalam hati bahwa pria itu mencintainya dan apapun yang dia lakukan hanya untuk kebaikannya semata.


“Sudah?” tanya Caitlyn begitu dia merasakan pelukan Lean mulai mengendur.


Lean yang tadinya menunduk dan merebahkan kepalanya di pundak Caitlyn, kini mulai menegakan kepalanya lagi. Perlahan dia pun melepaskan pelukannya, lalu menggenggam tangan Caitlyn.


Pria tampan itu mengangguk dengan wajah datar tanpa senyum. Sepertinya dia belum puas dengan yang terjadi, tetapi setidaknya hatinya mulai tenang.


“Thanks, Honey,” ucap sangat pelan.


“You’re welcome.” Caitlyn membalas dengan senyum manis. “Makan, yuk!” ajaknya kemudian karena memang waktu kini menujukkan waktunya makan siang.


“Aku tidak–”


“Tidak apa? Tidak berselera? No, no, no! Kalo kamu gak makan, aku juga gak akan makan. Kalau kita sama-sama gak makan ....” Caitlyn menjeda kalimatnya dan menunduk mengelus bagian perutnya yang mulai terlihat menumpuk dan menonjol. “Anak kita juga ikutan gak makan. Lapar dong dia. Yah, masa calon penerus Sanjaya kelaparan gara-gara mama sama papanya mogok makan?” Bumil cantik itu merotasikan bola matanya dengan gaya lucu.


Lean yang tadinya berwajah datar, tiba-tiba bisa tersenyum bahkan tertawa kecil. Tangan pria tampan itu terangkat lalu mencubit gemas hidung mancung istrinya.


“Ada-ada saja kamu.” Menunduk lalu mencium dan memberi lu*matan kecil di bibir Caitlyn sekilas. “Ayo, makan!” Dia langsung menarik tangan Caitlyn dan keduanya melangkah bersama keluar kamar.


Tiba di sana, Hadya bersyukur dan dapat bernapas lega karena Lean tidak lagi marah dan bisa mengobrol santai sekali tidak pernah terjadi apa-apa hari itu. Hadya melirik pada Caitlyn dan tersenyum teduh.

__ADS_1


Terima kasih, sayang. Sudah menjadi obat penenang untuk dia.


Hadya membatin dengan sejuta rasa terima kasih pada wanita cantik yang telah bersedia kembali ke kehidupan putranya.


...***...


Waktu berlalu cepat seolah saling berlomba. Hari pun berganti hari. Terhitung sudah tiga hari sejak hari di mana Lean dan Hadya mendatangi rumah Sania lalu membuat kesepakatan yang pada akhirnya gagal total.


Namun, tiga hari yang sudah terlewati ini, Hadya belum juga bisa memutuskan apapun. Pria itu bahkan sudah menceritakan yang sebenarnya untuk sang ibu–Nenek Sanju. Akan tetapi wanita lanjut usia itu pun menolak dengan tawaran Sania.


Hadya merasa sangat berat memutuskan semua ini. Membawa Sania kembali ke rumah bukanlah keinginannya. Namun, entah mengapa hari ini dia tiba-tiba mengatakan pada semua anggota keluarga Sanjaya jika dia ingin membawa Sania kembali ke rumah.


“Papa?” Itu suara Caitlyn yang begitu kaget dan tidak percaya.


Waktu itu Minggu sore dan keluarga Sanjaya sedang bersantai di teras belakang kediaman megah tersebut. Ruangan terbuka itu terletak di bagian paling belakang dengan pemandangan kolam renang yang besar, serta taman yang cukup luas. Suasana di tempat itu terlalu besar memberi ketenangan dan kenyamanan.


Namun, ketenangan itu tiba-tiba buyar kala satu kalimat keputusan dari Hadya, sukses menggegerkan suasana.


“Apa papa tidak waras? Please, Pa. Jangan buat pikiran aku ke papa itu jadi berubah. Papa itu orang hebat yang di mata aku sangat bijak. Tapi kalau papa membuat keputusan itu, papa orang paling gila yang pernah aku temui.” Lean lepas kendali saking emosinya, kemudian berucap yang tidak sopan kepada sang papa.


“Al!” tegur Caitlyn dengan desisan kesal pada suaminya itu. “Jaga omongan kamu sama Papa. Gak boleh gitu, Sayang.” Melanjutkan kalimatnya sambil tangannya bergerak mengelus lengan Lean menenangkannya.


“Apa-apaan kamu, Hady? Ibu tidak akan pernah setuju dengan keputusan kamu yang satu ini. Tidak akan pernah. Wanita tidak tidak tau diri itu tidak boleh sekali-kali menginjakan kaki di rumah ini. Entah ibu masih hidup ataupun tiada nanti, ibu tidak sudi dan tidak akan pernah sudi!” ucap Nenek Sanju dengan suara parau, tetapi tegas.

__ADS_1


“Ibu, Hadya juga tidak ingin membawanya ke sini. Tapi Hadya terpaksa, Bu. Aku harus melakukan ini demi keluarga kita juga.” Hadya berusaha membela diri sekaligus memberi pengertian pada seluruh keluarganya.


“Demi keluarga ini Papa bilang?” tanya Lean dengan nada pelan, tetapi tajam. Matanya bahkan memicing menatap ayahnya. “Papa lupa dengan semua yang sudah dia lakukan pada keluarga ini? Tidak adanya dia di dalam rumah ini saja sudah mengancam ketenangan rumah ini, bahkan keselamatan istri aku, Pa. Apalagi sampai dia diizinkan untuk kembali? Tidak, Pa.” Lean menggeleng kuat. “Ini namanya bukan mencari solusi tetapi justru semakin menghancurkan keluarga ini. Ini keputusan tergila yang pernah ada dalam sejarah keluarga Sanjaya.” Lean berucap geram.


Pria tampan yang kini diliputi emosi itu langsung bangkit dari duduknya dan berlalu pergi begitu saja. Tidak lama kemudian, Nenek Sanju pun menyusul sang cucu dan tinggalah Hadya bersama menantunya.


Hadya menatap wajah datar Caitlyn dengan tatapan penuh tanya. Memahami itu, Caitlyn menggeleng.


“Aku tidak tau harus mengatakan apa. Aku juga tidak ingin protes sama papa. Tapi di sini, aku ingin mengatakan jika aku ada di pihak suamiku dan juga Nenek. Bukan berarti aku marah sama Papa. Hanya saja ... aku ingin supaya papa ingat lagi dengan semua perilaku buruk Tante Sani. Jangan mau jatuh di lubang yang sama, Pa.” Caitlyn bangkit dan menghampiri ayah mertuanya. Tangan lembutnya mengusap pelan pundak Hadya. “Pikirkan lagi, Pa. Aku susul Lean dulu,” pamit Caitlyn dan langsung pergi.


Hadya termenung sendiri dengan tatapan nanar yang jatuh pada air di kolam renang. Kata-kata sang putra, sang ibu, dan sang menantu terus berdengung di telinganya. Hadya lalu membuang napasnya dengan kasar.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku yakin Sania tidak akan sabar dan tinggal diam saja. Tapi kenapa mereka tidak mau juga memahami kondisi ini?” Pikiran Hadya semakin kacau saja karena tidak mendapat dukungan dari keluarganya.


Pria itu butuh penenang dan hanya akan dia temukan di ruang kerjanya. Hadya pun memilih ke sana. Saat sudah tiba di ruang kerja, dia langsung mencari foto istri pertamanya yang selalu dia simpan di sana.


Senyum manis dalam bingkai itu membuat perasaan Hadya sedikit tenang. Jemarinya bergerak mengusap bingkai foto tersebut seolah itu adalah wajah nyata mantan istrinya.


“Apa ini hukuman untukku karena dulu telah mengkhianati kamu, Jeanice?”


...TBC...


...🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2