
“Papa bilang apa?” tanya Caitlyn begitu Lean mengakhiri panggilan telepon dengan ayahnya.
“Hm?” Sudah dengar, tetapi Lean bersikap seolah tidak mendengarkan apapun.
Mata pria itu kini terpejam berpura-pura tidur sambil masih memeluk Caitlyn. Dengan gerakan yang sangat pelan dia memasukan ponsel dalam saku celananya.
“Papa ngomong apa tadi di telepon?” tanya Caitlyn sekali lagi dengan nada setengah merengek kali ini. Dia tidak suka Lean mengacuhkannya seperti ini.
“Tidak ada, Sayang. Hanya pekerjaan kantor,” jawab Lean yang langsung membuka matanya.” Pria itu terkekeh melihat wajah cemberut sang istri. “Tidurlah, aku ingin ke kamar mandi sebentar.” Lean langsung bergerak hendak bangun tetapi lagi-lagi Caitlyn menahannya.
“Bohong, ‘kan? Gak, gak. Gak boleh.” Caitlyn menggeleng sembari mengeratkan pelukannya. Tidak hanya tangan, tetapi kakinya pun ikut melingkar di tubuh Lean.
Tingkah wanita hamil itu membuat Lean tergelak karena tidak dapat menahan gemas. Suasana yang tadinya tegang, penuh emosi, penuh ketakutan, kini menjadi cair dan hangat.
“Beneran gak bohong, Sayang. Aku cuman sebentar aja di kamar mandi, sakit perut, Cintaaaa! Kalo gak percaya yodah sini ikut,” ajak Lean di sela-sela tawanya.
“Gak mau, jorok!” seru Caitlyn menolak.
“Ya, kalo gitu lepasin biar aku pergi sendiri. Sebentar saja, Sayangku.” Lean merayu dengan segala cara.
“Aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. It‘s ok. Aku sudah pernah berjanji untuk tidak akan menanyakan apapun jadi tidak perlu juga untuk menjelaskan. Pergilah!” putus Caitlyn pada akhirnya.
Wajah cantiknya yang tampak datar dan tanpa senyum, membuat Lean tidak tega meninggalkannya.
“Maafkan aku, Sayang. Aku akan kasih tau kamu jika semua masalah ini telah teratasi dengan baik,” ucapnya dengan wajah yang serius.
Selesai berucap demikian, bukannya pergi karena telah mendapat izin dari sang istri, Lean justru kembali memeluk tubuh bumil cantik itu.
“Loh, kok, malah tidur? Sana pergi, pasti ditungguin Papa.” Caitlyn mendorong pelan tubuh kekar itu, tetapi Lean semakin membawanya masuk dalam pelukannya.
“Aku gak tega ninggalin kamu sendiri, Sayang. Nanti saja urusannya. Aku temani sampai kamu tidur, baru aku pergi.” Finally.
Pada akhirnya, Lean menunggu dan menemani hingga istrinya itu benar-benar tertidur. Dia lalu bangun dengan perlahan dan memastikan semua yang ada di sekitar istrinya itu aman, barulah Lean meninggalkan kamar.
__ADS_1
Pria itu berlari turun dari tangga dengan cepat mencari keberadaan ayahnya. Namun, tidak dia temukan di ruan kerja. Pria itu menelpon, lalu menyusul Hadya di ruang nonton yang mirip bioskop mini, setelah mendapat jawaban.
“Papa,” panggil Lean pelan.
Hadya mengalihkan tatapannya ke arah pintu. “Di mana Caitlyn?” tanyanya.
“Udah tidur di kamar, Pa.” Menjawab sembari berjalan ke arah salah satu tempat duduk di sana. “Berita apa yang ingin Papa tunjukkan?” tanya Lean selanjutnya. “Eh, Ren? Sejak kapan di sini?” Baru sadar jika tidak hanya ada sang ayah di ruangan itu.
“Sudah sejak satu jam lalu, Tuan.” Rendi menjawab sesuai waktu yang sebenarnya. Lean pun merespon dengan hanya anggukan.
Hadya yang awalnya telah mematikan telivisi berukuran besar di sana, kembali menyalakannya dan meminta Lean untuk menatap ke depan.
Chanel pertama yang disuguhkan oleh Hadya, serta-merta membuat Lean terperanjat. Hadya lalu mengganti lagi ke saluran yang lain, berita yang sama pun muncul hingga saluran berikutnya Lean seketika bangkit dari duduknya, padahal dia baru saja duduk.
Pemirsa, kabar pagi ini datang dari seorang pengusaha ternama sebuah perusahaan asing–Vagz Internasional–William Vargas. Atas ditemukan kembali putri pimpinan perusahaan asing tersebut yang hilang belasan tahun lalu. Suasana haru pun memenuhi kediaman mewah Vargas. Kabarnya gadis cantik itu selama ini tinggal di wilayah kumuh yang berdekatan dengan lokasi pembangunan proyek baru Vagz International. Warga sekitar yang mendapat informasi jika pemimpin Vagz International tengah mencari-cari putrinya yang hilang, lantas menyampaikan hal tersebut pada seorang wanita paruh baya yang selama ini membesarkan seorang putri yang dia temukan belasan tahun lalu. Diduga, gadis tersebut adalah putri pemimpin Vagz International. Dan hal tersebut kemudian dibenarkan sendiri oleh istri William Vargas dari sebuah kalung yang dikenakan sang gadis sebagai tanda yang mereka berikan dulu.
“Tidak, tidak mungkin!”
Hampir saja Lean membanting ponselnya, tetapi kesadaran masih bisa menguasai pria tampan itu.
“Arrrggghhhh ...! Si*alan ... bajingan ... Sania ke*parat!” umpat Lean yang kembali emosi.
Pria itu menjambak rambutnya dengan kasar meringankan sakit dan pusing yang mendadak menyerangnya. Lean lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke sofa. Dalam tenang dia memikirkan sesuatu.
“Tapi di mana si iblis tua itu, Pa? Di sana hanya terlihat iblis kecil dan wanita lain. Siapa lagi dia?” tanya Lean bingung.
“Papa yakin dia sedang tertawa senang sekarang. Dia sedang memonitoring semua ini dari jauh. Wanita itu hanyalah alatnya saja.” Hadya berpendapat.
Lean memahami dan otaknya mencoba untuk memikirkan solusi dari ini semua.
“Pasti ada jalan. Caitlyn akan mendapatkan apa yang menjadi miliknya. Aku berjanji demi mendiang ibuku, aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan kebahagiaan yang menjadi hak istriku, bukan Cecilia!” janji Lean.
Pria itu langsung bangkit berdiri dan Hadya refleks menahannya. “Mau ke mana?”
__ADS_1
Lean menggeleng. “Tidak ke mana-mana, Pa. Caitlyn tidak mau ditinggal ke mana-mana hari ini,” jawab Lean.
Dia lalu membuka slide kunci pada ponselnya, kemudian mencari sebuah kontak di sana. Lean pun menghubungi nomor tersebut.
📲 “Kau sudah menahannya?”
Langsung bertanya saat seseorang di seberang sana menjawab telepon.
📲 “Sudah, Tuan.”
📲 “Bagus. Sekarang tugasmu mencari si wanita iblis dan mengurungnya di tempat yang sama dengan rekannya itu.”
📲 “Baik, Tuan.”
Lean pun memutuskan sambungan telepon.
“Jerry? Kau menyuruhnya menahan Sania juga?” tanya Hadya.
“Tentu saja, Pa. Kali ini jangan Papa membatasi tindakanku. Aku ingin memperlihatkan rasa sakit yang belum pernah dia rasakan. Dengan sendirinya dia akan memohon untuk menghabisi nyawanya saja,” katanya dengan geram dan penuh penekanan.
Hadya menarik napasnya dalam-dalam. “Lakukanlah, Nak. Papa tidak akan melarang kamu lagi. Tapi berjanjilah untuk tidak sampai membunuh mereka. Ingat anak dan istrimu, Lean.”
Selesai mengatakan itu, Hadya yang lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut. Tidak lama kemudian disusul Lean dan Rendi. Hadya menuju ke kamar ibunya–Nenek Sanju dan memberitahu segalanya.
Sementara itu Lean kembali ke kamarnya memeriksa keadaan Caitlyn. Bumil cantik itu masih tidur rupanya. Dia masuk dengan pelan-pelan agar tidak mengusik tidur sang istri.
Perlahan Lean duduk di bibir ranjang sambil menatap wajah teduh Caitlyn dengan penuh sayang. Tiba-tiba saja hatinya terasa tercubit mengingat betapa kejamnya takdir yang mempermainkan kehidupan wanita cantik itu.
“Maafkan aku yang dulu tidak pernah bisa melihat penderitaan di matamu,” bisik Lean. “Ternyata banyak hal sulit yang sudah kau lewati sendirian selama ini.” Lean menunduk dan meraih tangan Caitlyn dan mengecupnya. “Kali ini kau tidak akan pernah sendiri lagi, Sayang. Aku ada di sini. Akan selalu bersamamu. Aku bahkan akan membawa keluargamu kembali padamu. Aku berjanji Cecilia tidak akan lama memainkan peran ini. Aku berjanji, Sayang!”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1