
Pada waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, Lean baru saja tiba di tempat tinggal Caitlyn yang pertama sejak wanita itu keluar kediaman Sanjaya. Mobil berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis itu. Lean sedikit bingung karena melihat kondisi rumah yang tampak gelap tidak ada penerangan.
“Kok gelap?” Lean keluar dari mobil dan mengedarkan pandangannya pada rumah warga di sekitar. Semua rumah lain pada terang dan hanya rumah Caitlyn yang gelap sendiri.
“Mungkin listriknya bermasalah?” Lean bergegas membuka pintu pagar, tetapi kemudian dia menyadari jika pintu pagar yang terbuat dari kayu tersebut dililit dengan rantai besi yang sudah berkarat, lengkap dengan sebuah gembok besar yang tergantung di sana.
“Apa? Dia pergi lagi? Oh, sh*it!” Mulai menyadari jika Caitlyn sudah tidak ada di sana. “Kenapa hobi sekali pergi-pergi tanpa pamit?” Lean menggerutu dan netizen be like ‘elu siapa memangnya sampai harus pamit Kagak penting! Ha-ha-ha.
Ingin bertanya pada tetangga dan warga sekitar, tetapi Lean merasa bahwa mereka pun pasti sama tidak tahu seperti dirinya. Pria itu mengacak rambutnya dengan kasar sambil menggeram kecil.
“Ke mana lagi dirimu, hah? Apa aku harus beralih profesi saja menjadi pencari pribadi? Atau pencari cinta?” Lean tertawa bodoh. Ya, menertawakan kebodohannya sendiri. “Saat aku begitu membutuhkanmu dan ingin membawamu pulang, kenapa kau selalu saja menjauh? Kau selalu pergi dariku.” Kali ini Lean berucap sambil meninju angin.
Dia lalu menyandarkan tubuhnya pada kap mobil sambil menengadahkan wajahnya ke langit, menatap hamparan bintang di atas sana.
“Tolong beritahu aku di mana dia sekarang? Sampaikan juga padanya jika aku begitu rindu dan ingin dia untuk kembali,” ucap Lean dengan sungguh.
Matanya kemudian terpejam menikmati rindu yang begitu menyiksa. Tiba-tiba bayangan Caitlyn yang sedang menangis terlintas di wajahnya. Lean membuka mata dan menggeleng kuat. Kembali dia terpejam untuk kedua kalinya hanya ingin mencari bayangan cantik Caitlyn dalam angannya. Namun, lagi-lagi yang muncul adalah wajah Caitlyn yang sedang ketakutan dan seolah berteriak minta tolong.
Kali ini Lean langsung tersentak dan membuka mata dengan perasaan mendadak panik.
“Caitlyn?” Menyebut nama itu dengan perasaan kacau. Lean bingung hendak melakukan apa.
__ADS_1
Dia bergegas masuk ke mobil lalu mencari ponselnya hendak menghubungi Hadya.
“Apa papa tau ke mana dia pergi kali ini? Pasti papa tau. Dia selalu memantau Caitlyn, bukan?” Menerka-nerka sendiri.
Panggilan itu sudah terhubung dan berbunyi beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban. Lean gusar dan memukul setir mobil. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba kacau dan cemas memikirkan keberadaan Caitlyn saat ini.
Sekali lagi dia mencoba menghubungi sang ayah, tetapi sama tidak ada yang menjawab panggilannya.
“Si*al.” Memukul setir mobil lagi dan lagi. “Papa ke mana, sih? Gak tau perasaan orang lagi kacau gini,” sungutnya sambil membenturkan kepala pada sandaran jok.
God, ada apa denganku?
Tiba-tiba vibrasi ponsel di atas dashboard menarik pandangan Lean dari rumah Caitlyn. Cepat-cepat dia mengambilnya dan melihat nama sang papa tertera di sana.
📲 “Pa, di mana Caitlyn sekarang? Papa pasti tau, ‘kan? Tidak mungkin papa tidak tahu sedangkan papa terus saja memantaunya. Cepat katakan di mana dia, Pa!”
Lean langsung saja mencecar sang ayah begitu mengangkat teleponnya. Dia lupa untuk memberikan kesempatan bagi papanya untuk berbicara.
📲 “Pa! Lean sedang bertanya.”
Mendengar suara anaknya seperti itu saja sudah membuat Hadya khawatir. Dia tidak membayangkan Lean akan segila apa nantinya jika mendengar kabar yang ingin dia sampaikan.
__ADS_1
📲 “Lean, sebelumnya papa minta maaf karena selalu menyembunyikan keberadaan Caitlyn dari kamu. Iya, nak. Papa yang menyuruh dia pindah dari sana karena–”
📲 “Karena tau nanti Lean pasti akan kembali jadi papa mau ngerjain Lean. Iya, ‘kan? It‘s okay, papa tidak perlu minta maaf. Lean emang pantas dikerjain habis-habisan. Jadi di mana dia sekarang, Lean mau ke sana.”
Langsung menghidupkan mesin mobilnya dan mulai melesat dari sana dengan masih tetap melakukan panggilan.
📲 “Tidak, Nak. Papa minta maaf karena tidak bisa menjaga Caitlyn dengan baik.”
📲 “Maksud papa?”
Perasaan Lean sudah tidak tenang. Rasa cemas kembali menyerangnya.
📲 “Caitlyn hilang dan–”
📲 “Papa …!”
Sentak Lean yang tiba-tiba mengerem mendadak sambil mere*mas setir mobil dengan sangat kuat. Jantungnya berdegup kencang dan tak karuan.
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1