
Hujan semalam telah reda, meninggalkan jejak basah bersama embun yang bergelantung di dedaunan. Udara pagi itu terasa lebih segar dari biasanya, memberi efek sejuk hingga ke hati Caitlyn.
Pagi-pagi sekali Hadya sudah mendatangi tempat tinggal Caitlyn, mengajak wanita cantik itu untuk jalan-jalan sebelum dia kembali ke kotanya.
“Mau ke mana memangnya, Pa? Caitlyn belum juga mandi, belum beres-beres yang lain juga. Lagian hari ini Caitlyn harus bikin pesanan cake beberapa buah untuk dibawa ke toko kue di ujung gapura sana,” keluh Caitlyn.
Hadya tersenyum dan menepuk kepala Caitlyn dengan lembut. “Mandi saja kalau begitu. Yang lain tidak perlu kamu lakukan. Nanti kita sarapan di luar dan tidak perlu khawatir masalah cake. Udah sana, siap-siap, papa tunggu sekarang!” perintah Hadya.
Caitlyn langsung menurut saja. Dia bersiap dalam waktu yang dipersingkat sesingkat mungkin. Dia tidak ingin membuat lelaki yang dipanggilnya papa itu menunggu lama. Total waktu mandi dan berganti, Caitlyn memakan waktu 30 menit. Kini dia bersiap untuk jalan-jalan bersama ayah mertuanya. Eh, mantan ayah mertua.
“Sudah siap? tanya Hadya.
“Sudah, Pa. Ayo!” Caitlyn terlihat bersemangat dan itu membuat Hadya ikut merasa senang.
Hari itu mereka lewati dengan makan, berkeliling di mall dan toko-toko kecil lainnya hingga waktu makan siang. Caitlyn geleng-geleng kepala melihat hasil belanjaan dan Jalan-jalan mereka saat itu. Sebuah mobil mini box, dipenuhi oleh banyak hal terkait kebutuhan Caitlyn. Jarum jam menunjukkan pukul 03.20 PM. Mereka baru tiba di rumah Caitlyn.
“Pa, ini kebanyakan. Kasian dapur Caitlyn gak muat sebanyak ini. Baju-baju juga napa harus banyak-banyak sih, Pa? Lemarinya gak bisa nampung nanti,” protes Caitlyn sebelum keluar dari mobil.
Lagi-lagi Hadya hanya tersenyum menanggapi ocehan Caitlyn yang terdengar seperti celoteh manja seorang bocah. Hadya ikut turun dari pintu mobil sebelahnya dan menuntun Caitlyn masuk ke dalam rumah.
Caitlyn terkejut melihat seisi rumah yang kini tampak berbeda 180° dari sebelumnya. Semua perabotan dari ruang tamu sampai dapur, telah diganti dengan yang baru dan lebih bagus. Dia juga terkejut melihat kulkas yang lebih besar dari sebelumnya, telah berdiri dengan cantik di samping kulkas yang lama.
Ah, pantes aja stok makanan dan susu banyak banyak banget.
Dia teringat dengan baju-baju yang juga banyak dibelikan tadi oleh Hadya. Caitlyn lantas berlari ke kamar dan benar saja, dia melihat lemari yang baru dan lebih besar juga ada di sana. Caitlyn tertawa dengan mata yang berkaca-kaca. Bagaimana bisa dia mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari keluarga yang sebenarnya sudah dia tinggalkan? Apakah hanya sebatas janin yang dikandungnya? Jika memang begitu, tidak perlu seperti ini juga.
Terlepas dari apapun itu, Caitlyn tetap merasa bahagia dan bersyukur. Dia keluar dari kamar dan kembali menuju teras rumah. Di sana dia melihat ayah mertuanya tengah memerintahkan anak buahnya untuk membawa barang-barang belanjaan dan menyusunnya di tempat masing-masing.
“Pa,” panggil Caitlyn yang kini berdiri di belakang Hadya.
__ADS_1
Pria paruh baya itu berbalik dan mendapati Caitlyn yang terlihat berkaca-kaca.
“Ada apa, Nak?” tanya Hadya bingung melihat Caitlyn yang tampak sedih sekali. Wanita itu ingin bicara tetapi bibirnya bergetar dan kaku. Tiba-tiba saja cairan bening luruh dari matanya. Hadya kaget. “Loh, kok, nangis? Kenapa–”
Caitlyn langsung menubruk dada pria yang dipanggilnya papa. “Papa bikin Caitlyn sedih,” ucapnya dengan suara yang sangat pelan dan lirih.
“Tapi kenapa? Kamu tidak suka yang papa kasih?” Caitlyn menggeleng. “Jadi kenapa harus sedih?”
Caitlyn semakin menangis dan Hadya harus menenangkannya meskipun bingung.
“Caitlyn udah jahat bikin nenek sakit. Caitlyn udah ninggalin rumah. Kenapa papa baikin Caitlyn, sih?” ucapnya di sela-sela tangis.
Hadya tersenyum lalu menepuk-nepuk punggung wanita yang sudah dia anggap seperti putrinya sendiri.
“Kamu mau tau jawabannya?” Hadya balik bertanya dan Caitlyn mengangguk. “Nanti suatu saat kamu akan tau jawabannya. Untuk saat ini yang harus kamu tau, papa dan nenek sayang sama kamu, dan terlebih lagi kamu sedang mengandung cucu papa. Ini semua tidak lebih berarti dari calon cucu papa.” Hadya menjelaskan dengan lembut.
“Berarti kalo Caitlyn gak mengandung cucu papa, Caitlyn gak disayang dan diperlakukan kayak gini? Papa cuman sayang sama cucunya dong?” canda Caitlyn di sela-sela tangisnya.
Caitlyn menghentikan tangisnya seraya melepaskan pelukan. Dia menatap wajah mantan ayah mertuanya dengan antusias.
“Tapi apa, Pa?” tanyanya tak sabar.
“Tapi tetap saja sayang sama anaknya lebih banyak dibanding sama ibunya.” Jawaban itu sukses membuat wajah Caitlyn memberengut, sedangkan Hadya tertawa melihatnya.
“Kalo ibunya, ‘kan, nanti disayang sama ayahnya dong. Kalo sayang papa kebanyakan ke ibunya, papa bakal kena marah sama yang punya.” Lagi-lagi keduanya tertawa, tetapi Caitlyn tertawa malu hingga membuat kedua pipinya memerah.
“Papa, ih. Apaan, sih.” Caitlyn menunduk malu.
Hadya tersenyum dan kembali memeluk Caitlyn. “Sudah waktunya untuk papa kembali. Ingat jaga diri kamu baik-baik dan jangan lupa minum susu biar penerus Sanjaya Grup tumbuh sehat. Jika ada waktu, papa akan sering datang mengunjungi kalian. Kalau papa tidak jadi datang, papanya anakmu yang akan datang.”
__ADS_1
“Jangan, Pa!” tolak Caitlyn dan Hadya tersenyum mengangguk.
“Iya, papa hanya bercanda. Papa jalan yah.”
Hadya pun segera pergi dari sana, sedangkan Caitlyn masih berdiri menatap kepergian mantan ayah mertuanya dengan perasaan haru.
Makasih, pa. Caitlyn juga sayang sama papa dan semuanya ….
...***...
Perjalanan yang cukup jauh mengakibatkan Hadya baru tiba di kediaman Sanjaya sekitar pukul 11.30 PM. Hadya buru-buru masuk untuk segera beristirahat karena kelelahan, tetapi langkahnya tertahan oleh suara Lean yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
“Selamat malam, Pa. Papa baru pulang?” tanya Lean basa-basi.
“Oh, iya. Perjalanannya sangat jauh, Nak. Kenapa kamu belum tidur?” tanya Hadya ikut berbasa-basi.
“Belum ngantuk, Pa.” Lean menjawab sambil melangkah menuju sofa di ruang tamu lalu duduk di sana.
Mau tidak mau, Hadya pun ikut duduk di sana mengobrol sebentar dengan anaknya walau sebenarnya dia sangat lelah.
“Gimana perjalanan Papa selama di sana?” Lagi Lean bertanya.
“Ya, baik dan menyenangkan,” jawab Hadya apa adanya. “Ada lagi yang mau kamu tanyakan atau bicarakan? Papa sangat lelah dan mau istirahat, Nak,” lanjut Hadya.
Sejenak Lean tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tidak ada yang mau ditanyakan, sih, Pa. Hanya mau minta alamat Caitlyn.”
Hah, dari tadi muter-muter ternyata ini yang dia inginkan ….
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...