
Malam itu berlalu dengan Hadya yang mengurung diri di ruang kerja demi untuk mencari ketenangan, hingga tertidur di sana. Sementara itu, Nenek Sanju mengurung diri di kamar sebagai bentuk demo kecil atas keputusan putranya.
Di samping itu, Lean dan Caitlyn pun ikut menghabiskan waktu bersama di kamar mereka dengan Caitlyn yang lebih banyak aktif karena lagi-lagi dia harus menenangkan sang suami.
Malam itu berlalu dengan tanpa makan malam bersama keluarga besar. Pelayan pun bertugas mengantarkan makan malam ke kamar mereka masing-masing.
Saat pagi datang, Nenek Sanju yang lebih dulu bangun. Wanita lanjut usia itu menjalankan sendiri kursi rodanya secara otomatis, menuju ke dapur. Saat tiba di sana, dia melihat pelayan di area itu mulai sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Mengetahui nyonya besar ada di sana, semua pelayan langsung menunduk memberi hormat. Nenek Sanju tidak menanggapi itu karena matanya sibuk mencari-cari satu orang pelayan di antaranya.
Di mana dia?
Wanita lanjut usia itu hendak berbalik, tetapi dia dibuat kaget dengan sosok Dita yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Pelayan wanita itu juga sama kagetnya dengan Nenek Sanju.
“Kau sedang apa di sini?” tanya Nenek Sanju dengan tatapan intimidasi.
Kenapa saya ditatap seperti ini? Batin Dita.
“Saya? Saya ... saya membersihkan meja dan ruang makan, Nyonya.” Dia menjawab dengan sedikit drama.
Nenek Sanju memiringkan kepalanya melihat ruang makan yang masih beberapa meter dari tempatnya berpijak saat itu. Lama dia menatap tempat itu dan wajah si pelayan berulang kali secara bergantian. Dia lalu mengangguk tanpa bertanya ataupun komplain dan segera pergi dari sana.
Setelah kepergian Nenek Sanju, sang pelayan kemudian bernapas lega seolah baru saja lepas deri ancaman. Namun, kelegaan itu tiba-tiba saja mencekiknya dengan kehadiran seorang pria di sana.
“Ada apa? Kenapa kau terlihat begitu lega saat nyonya pergi?” Jerry entah tiba-tiba muncul dari mana dan kini berdiri di hadapan pelayan itu.
FYI, atas perintah Hadya beberapa hari lalu, Jerry tidak pulang ke apartemennya. Asisten setia Lean itu tetap tinggal di kediaman atasannya karena tugas yang diberikan tuan besar. Oleh karena itulah, sudah tampak batang hidungnya sepagi ini.
“Tu-Tuan?” Dita tampak kaget. “E-em, saya tidak begitu. Maksudnya saya hanya merasa lelah saja, Tuan.” Pelayan itu sangat gugup di depan Jerry.
“Kau lelah di pagi hari? Apakah kau tidak tidur semalaman?” tanya Jerry lagi yang seolah membuat pelayan di hadapannya merasa tersudut.
“Tidur, Tuan.” Menjawab singkat dan cepat.
__ADS_1
“Lalu? Kenapa kau lelah sepagi ini? Bukankah vitamin untuk semua pelayan selalu tersedia?” Jerry sengaja terus menginterogasi pelayan itu karena sejak beberapa hari lalu, tingkahnya sangat mencurigakan.
“Em, saya ....” Dan sang pelayan benar-benar merasa terjebak oleh pertanyaan Jerry. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa.
“Pergilah dan selesaikan pekerjaanmu,” usir Jerry yang semakin menguatkan perasaan curiganya jika pelayan itu memang memiliki niat jahat bagi keluarga Sanjaya.
Dita pun mengangguk dan segera pergi dari sana dengan langkah cepat dan terburu-buru. Sementara itu Jerry masih tetap di tempatnya dan terus mengamati pelayan itu.
Jangan pikir kau akan lolos begitu saja ....
...***...
Waktu yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, tepatnya di kediaman keluarga Vargas. Suasana breakfast di keluarga ini begitu seru setiap harinya, karena nyonya rumah itu gemar memasak dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya sendiri.
Di ruang makan sudah ada beberapa anggota keluarga di antaranya ada Tuan Vargas dan istrinya Nyonya Vargas, juga putra sulung mereka–Chris. Namun, personil ini belum lengkap karena masih kekurangan satu lagi.
“Good morning, Mom!”
Panjang umur, dia telah datang dan melengkapi personil keluarga Vargas. Namun, yang sebenarnya itu juga tidak sempurna karena mereka telah kehilangan salah satu anggotanya. Well, lupakan itu dan kembali ke topik.
“Di sini ladies yang diutamakan. Setuju, ‘kan?” jawabnya sembari meminta dukungan dan dibenarkan pula oleh dua pria di sana.
“Terserah kau saja, Callix.” Chris menanggapi dengan santai.
“Ayo, makanlah! Hari ini kau dan papa akan ke lokasi proyek.” Tuan Vargas baru bersuara. Pria bule paruh baya itu memang tidak suka banyak berbicara dan wajahnya selalu datar.
“Oke, Dad. Tapi syaratnya aku akan kembali Minggu ini ke apartemen. Okay?” Mengingatkan lagi persyaratannya.
“Kembali dan selesaikan kuliahmu secepatnya, bukan malah mengejar wanita di samping apartemenmu itu!” peringatan keras sang daddy.
Callix berdecak, sedangkan ibu dan kakaknya justru tertawa melihat wajah tengilnya yang tampak kesal. Tuan Vargas sama seperti Papa Hadya yang diam-diam selalu memantau tiap gerak anak-anaknya.
“Oh, ya. Mommy baru ingat. Klien Daddy yang membantu mendanai proyek ini adalah Sanjaya Grup, bukan?” tanya Nyonya Vargas dan suaminya pun langsung mengangguk. “Nah, itu dia!” serunya begitu bersemangat membuat tiga pria di hadapannya kaget dan juga bingung.
__ADS_1
“Memangnya ada apa, Mom?” tanya Chris.
“Mereka keluarga Sanjaya yang kamu maksud hari itu, ‘kan?” tanya wanita itu lagi dan putra sulungnya mengangguk. “Nah, mommy akan mengundang keluarga mereka untuk makan malam supaya mommy bisa ketemu wanita yang kamu ceritakan itu,” tambahnya dengan perasaan bahagia sekali.
Chris baru akan membalas ucapan sang mommy, tetapi seorang pelayan kemudian datang dan menginterupsi obrolan mereka.
“Maaf, Tuan dan Nyonya. Di depan ada tamu.” Pelayan itu memberi laporan.
“Tamu? Sepagi ini?” tanya Nyonya Vargas sedikit tidak percaya. Namun, anggukan sang pelayan membuatnya harus percaya. “Tamunya siapa dulu ini? Tamunya saya dan suami saya atau tamunya Chris?” Bukan tanpa asalan dia bertanya seperti itu.
Wanitai itu berpikir mungkin saja ada orang yang sakit dan membutuhkan bantuan putra sulungnya.
“Katanya mau ketemu sama Nyonya dan Tuan.” Pelayan itu menjawab sekali lagi.
“Baiklah! Katakan kami akan segera ke sana, yah.” Nyonya Vargas memberi pesan.
Dia lalu meminta suaminya untuk segera menyelesaikan sarapan dan sama-sama menemui tamu yang dimaksud. Tidak berselang lama, pasangan suami-istri itu lalu bergegas ke ruang tamu.
Tiba di sana, mereka sama-sama bingung karena tidak mengenali siapa yang datang saat itu. Di sana terdapat dua orang wanita cantik berbeda usia. Namun, Nyonya Vargas tetap bersikap ramah seperti biasanya.
“Halo, selamat pagi.” Nyonya Vargas menyapa lebih dulu.
Kedua wanita yang sedang duduk dan melihat seisi ruangan itu pun kaget dan langsung kompak berdiri kala melihat tuan rumah yang telah datang.
“Selamat pagi, Nyonya. Maaf sudah mengganggu waktu Anda pagi-pagi begini.” Salah satu dari wanita itu berkata.
“Oh, tidak apa-apa. Silahkan duduk lagi.” Begitu tamu-tamunya duduk kembali, Nyonya Vargas lantas bertanya, “Ada perlu apa, yah, sama saya dan suami saya? Mungkin ada yang bisa kami bantu?” tanya wanita anggun itu dengan sangat hati-hati takut menyinggung tamunya.
Tiba-tiba saja salah satu dari wanita itu yang berumur lebih tua, turun dari sofa dan duduk berlutut di lantai.
”Sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan saya sangat terlambat, Nyonya, Tuan. Tapi saya datang bukan ingin meminta bantuan apapun, melainkan saya ingin mengembalikan putri Nyonya dan Tuan yang hilang bertahun-tahun lalu.”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...