
Hadya mengangguk membenarkan pertanyaan sederhana dari pemuda di hadapannya. Dia memang mengenali wanita cantik yang menjadi sahabat menantunya itu. Siapa lagi kalau bukan Saskia?
“Ya, saya mengenalinya. Dia adalah sahabat dari putri saya,” jawab Hadya apa adanya.
Sangat berbeda dengan respon Saskia. Wanita itu terlihat sangat kesal dengan pemuda tengil yang tampak lebih muda beberapa tahun darinya. Dia masih tetap berdiri dengan wajah jengahnya tanpa ingin menjawab pertanyaan pria itu. Bagi Saskia sangat tidak penting untuk dijawab atau dijelaskan.
“Oh, ya? Jadi Om punya anak cewek juga? Aku tebak pasti dia cantik. Secara Om aja ganteng gini. Iya, ‘gak, sih Om?” seloroh pemuda itu dengan tingkah menyebalkan di mata Saskia.
Astaga, ini bocah ... ini lu ngomong depan bapaknya. Coba lu ngomong depan anaknya? Udah habis lu dibikin perkedel sama dia.
Gerutu Saskia dalam hati. Dia sedang membayangkan bagaimana jika Lean mendengar bacotan tidak masuk akal pemuda itu? Bisa kejang-kejang Presdir Sanjaya Grup tersebut dan dia akan langsung menghancurkan sekitarnya.
Hadya tertawa mendengar pertanyaan itu. “Ya, dia memang sangat cantik–” Hadya belum lagi menyelesaikan ucapannya, pemuda itu sudah lebih dulu menghentikannya.
“Nah, benar, ‘kan dugaanku. Boleh kenalan gak, Om? Siapa tau–”
Tiba-tiba saja tiga orang pria tiba di sana dan salah satu dari mereka bersuara menghetikan ucapan si pemuda tengil tadi.
“Saskia? Kamu sedang apa di sini?” Itu suara Lean.
Ya, tiga pria yang datang saat itu adalah Lean, Jerry, dan juga Rendi. Lean sempat heran melihat keberadaan Saskia di sana. Akan tetapi, dia lebih heran lagi melihat ayahnya yang bisa duduk dan berbaur dengan orang asing karena adanya pemuda lain di sana.
Panjang umur dia. Baru juga ngebatin, udah muncul aja ....
“Aku ....” Saskia kebingungan hendak menjawab apa.
“Dia ada janji dengan pemuda ini.” Hadya yang menjelaskan sekaligus menunjuk pada pria muda di hadapannya.
Lean menoleh pada pemuda itu dan pemuda itu pun melakukan hal yang sama. Sama seperti Hadya dan Saskia pada awal tadi, Lean dan pemuda itu pun sama. Keduanya sama-sama keget begitu saling mengenali.
Pemuda yang sedari tadi tampak tengil itu tiba-tiba bangkit dari duduknya dan langsung menunduk begitu melihat Lean.
“Hai, Tuan idola! Wah, senang sekali bisa bertemu Anda di sini, Tuan!” seru pemuda itu dengan sangat antusias.
__ADS_1
“Senang bertemu denganmu juga, Bro.” Lean membalas dengan gaya cool dan terlihat akrab.
Baik Hadya dan Saskia terheran-heran melihat Lean yang begitu ramah dan akrab dengan orang baru. Apalagi ini hanya seorang pemuda biasa yang berusia dibawahnya. Hadya semakin tidak percaya kala melihat Lean menepuk-nepuk pundak pemuda itu dan mempersilahkannya untuk duduk kembali.
Berbeda lagi dengan Saskia yang kini menatap penuh curiga pada keduanya.
“Kalian ... saling kenal? Sejak kapan dan kalian bertemu di mana memangnya?” tanya Saskia dengan mata yang memicing.
“Sejak Tuan idolaku ini mendatangi apartemen kamu dan dia mengajakku untuk bekerjasama,” ucap anak muda tanpa beban sama sekali.
Lean seketika salah tingkah dan merasa terjebak, apalagi ditatap oleh Saskia seperti itu.
“Oooohhh ... jadi kalian berdua yang memata-mataiku selama ini, ‘kan?” tembak Saskia.
Hadya, Jerry, dan Rendi yang tidak tahu apa-apa, hanya jadi pendengar setia di antara tiga orang aneh yang memiliki karakter berbeda-beda itu. Lean yang angkuh dan dingin, tiba-tiba menjadi friendly dan hangat. Saskia yang selalu cerewet dan bawel seperti biasanya, ditambah satu lagi yang agak tengil dan ceplas-ceplos.
“Ah, sorry! Aku ralat statement itu, Saskia. Aku hanya mengajaknya kerjasama saat ingin mengetahui keberadaan Caitlyn. Kalau sekarang kau merasa masih ada yang memata-mataimu lagi, maaf. Itu bukan kami. Iya, ‘kan, Bro?” jelas Lean sambil meminta dukungan dari rekannya.
“Ya, benar sekali. Kerjasama kita telah berakhir!” sambung si pemuda itu dengan tegas.
Mereka lalu duduk pada kursi masing-masing. Rendi dan Jerry duduk pada meja yang berseberangan karena kapasitas tempat duduk setiap meja hanya ada empat.
“Okay. Jadi, Om, Tuan idolaku ini adalah putramu?” tanya pemuda itu lagi.
Saskia geram mendengar bacotan anak itu. Dia ingin sekali menutup mulutnya dengan apapun yang ada di sana.
“Ya, dia adalah putraku.” Hadya menjawab lalu selanjutnya dia meminta Jerry memesankan makan siang untuk mereka semua.
Mendengar itu, Saskia langsung menolak. “Ah, tidak usah, Om. Saya sudah makan siang tadi sebelum ke sini–”
“Lah, Mbak, gimana sih. Katanya hari ini kita mau ngedate. Kok–aarrrggghh!” Dia meringis karena Saskia sedang menekan kakinya dengan heels yang dia gunakan.
Saskia tersenyum cerah memamerkan gigi putihnya. “Em, maaf yah, Om. Lain kali saja. Saskia ada urusan sama bocah ini jadi kita pergi saja dari sini. Om sama Lean pasti ada urusan penting, ‘kan? Saskia tidak ingin mengganggu. Permisi, yah, Om.” Setelah mengucapkan itu, Saskia langsung bergerak menarik pria itu dari duduknya.
__ADS_1
“Aduh, Mbak. Aku, ‘kan, masih mau ngobrol sama Tuan idola,” teriak pemuda itu tetapi Saskia tidak peduli. Di tetap menarik dan menyeret pemuda itu ikut bersamanya.
“Saskia!” panggil Hadya saat keduanya sudah agak menjauh. Saskia berhenti lalu berbalik. “Em, om mau minta tolong. Jika tidak sibuk, sempatkanlah waktu untuk sesekali datang dan menemani Caitlyn di rumah. Dia jenuh sendirian terus,” pinta Hadya.
“Siap, Om!” Dia pun berbalik lagi dan kembali pergi.
“Apa dia beneran menjalin hubungan dengan pemuda itu?” tanya Hadya entah pada siapa?
Sebelah kening Lean terangkat. “Apa peduli papa memangnya?”
“Hah? Tidak ada. Hanya ... hanya heran saja. Tidak mengira jika seleranya anak kemarin sore begitu.” Dan ucapan itu sukses membuat Lean tergelak.
“Kenapa memangnya, Pa? Selera orang, ‘kan, beda-beda.” Lean melirik ayahnya dengan tatapan nakal. “Papa suka, yah, sama Saskia?” Seketika dia sendiri yang tergelak di sana.
Sementara Jerry dan Rendi yang merasa lucu juga tetapi tidak bisa untuk tertawa. Keduanya hanya bisa menunduk dengan bibir yang terkatup kuat.
“Kau ini bicara apa, Lean. Hentikan!” tegur Hadya dengan nada rendah. ”Kita ke sini mau bicarakan tentang Caitlyn dan rencana Sania.”
Kenapa jadi bahas Saskia? Hadya membatin kesal pada anaknya.
“Ok, kita dengan pembahasan kita. Jadi, papa mau bicarakan apa sekarang?”
“Surat panggilan dari pengadilan sudah keluar dan mungkin saja saat ini sudah sampai di tangan sania,” ucap Hadya to the point.
Lean sedikit terkejut. “Papa serius? Artinya Sania bakal menggila. Dan kita harus bergerak lebih cepat dari dia. Aku ingin menemuinya dan membuat kesepakatan.”
“Jangan gegabah, Lean!” sentak Hadya.
“Tidak gegabah, Pa. Karena jika dia hanya ingin menyakiti Caitlyn, aku yang akan lebih dulu menghancurkannya. Tapi di sini aku ingin membuat kesepakatan karena sebenarnya dia tahu siapa orang tua kandung Caitlyn,” beber Lean.
”Kamu serius, Lean?”
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...