
Berkendara kurang lebih dua jam, mobil yang dikemudikan oleh Lean akhirnya tiba di rumah sakit. Para petugas medis bergerak mendekat dengan brankar hendak membawa Caitlyn untuk segera diperiksa, tetapi lagi-lagi Lean menolak.
“Nanti saja dulu. Dia baru saja tidur beberapa saat lalu karena itu biarkan dia tidur lebih lama lagi. Lagian tidak perlu membawa brankar, kembalikan saja,” perintahnya.
Para petugas medis itu pun menurut dan mengembalikan brankar. Namun, mereka tetap berdiri siaga di depan rumah sakit.
Lean menoleh ke samping dan menatap wajah damai Caitlyn yang begitu lelap. Pria itu menyadari bahwa meski dalam keadaan lelah dan kacau seperti ini, wanita itu tetap saja terlihat cantik. Ya, sejak dulu Lean mengakui itu. Meskipun dia begitu membenci Caitlyn, tetapi naluri lelakinya tidak bisa menyangkal, bahkan menolak pesona wanita cantik satu itu.
Tidak heran jika dulunya dia tidak pernah bosan dan tidak pernah mengabsen untuk menyentuh Caitlyn, sekalipun berulang kali dia nyatakan membenci wanita itu. Lean selalu menutupi kenyataan dengan alasan hanya ingin menyakiti Caitlyn.
Lean terkekeh sambil geleng-geleng kepala mengingat betapa tololnya dia karena tidak pernah bisa melihat sisi baik wanita itu. Dia terlalu dibutakan oleh gengsi dan harga diri sebagai seorang Sanjaya.
“Aku memang bodoh,” bisiknya sambil terkekeh pelan, takut membangunkan Caitlyn.
Sejam telah berlalu dan ini sudah hampir pukul 04.00 pagi, Lean masih setia menunggu dan menemani Caitlyn. Namun, di lain sisi, dia juga sudah tidak sabar untuk kembali ke tempat di mana Sania dan antek-anteknya berada. Dia sudah sangat tidak menahan untuk membalas setiap perbuatan jahat Sania, Nathan, dan Tamara.
Dalam hening lamunannya, Lean terkejut kala merasakan sentuhan lembut tetapi begitu dingin, menggenggam tangannya. Dia tersadar dan mendapati Caitlyn yang kini tengah menggigil.
“Caitlyn,” panggilnya setengah berbisik.
Pria itu bisa melihat jika mata Caitlyn masih terpejam tetapi tubuhnya tetap menggigil hebat. Lean cepat-cepat melepaskan hoodie miliknya dan memakaikan pada tubuh Caitlyn. Beberapa detik setelah itu, wanita di sampingnya masih tetap menggigil.
Lean kini mendekat dan mendekapnya. “Caitlyn, hei. Kamu kenapa? Jangan bikin aku khawatir,” ucap Lean sangat pelan.
Tidak ada perubahan, Lean pun memutuskan untuk memanggil salah satu tenaga medis yang masih setia berdiri menunggu mereka.
“Bangunkan dokternya dan bersiap lakukan pemeriksaan terhadap istriku sekarang juga!” titah Lean.
“Apakah butuh brankar, Tuan?” tanya tim medis.
Lean menggeleng kuat. “Tidak perlu!” ucapnya tegas.
Dia lalu bergegas keluar dari mobil dan berlari cepat membuka pintu sisi penumpang, lalu segera membawa Caitlyn. Lean berjalan cepat dengan langkah lebarnya mengikuti dua orang perawat yang menuntunnya menuju ruang pemeriksaan kandungan.
__ADS_1
Sampai di sana, dokter sudah menunggu dan langsung memberikan penanganan pada Caitlyn. Dokter itu sempat kaget karena mendapati tubuh pasiennya yang tadi sempat diculik, menggigil hebat.
“Sejak kapan Nona menggigil seperti ini, Tuan?” tanya dokter sambil tangannya bergerak memasang infus.
Tidak lupa, dia meminta perawat memasang kaus kaki dan juga selimut hangat, serta mematikan AC agar ruangan tetap hangat.
“Baru beberapa menit yang lalu, Dokter,” jawab Lean. Detik berikutnya dia terkejut melihat dokter memerintahkan untuk memasang oksigen. “Loh, kenapa harus oksigen segala, Dok? Istri saya kenapa memangnya?” Mulai panik.
“Istri Tuan mengalami hipotermia yang bisa berakibat fatal. Mungkin karena belum makan sehingga mudah lelah dan juga terlalu lama berada dalam ruangan dingin sehingga tubuh kehilangan banyak cairan dan penurunan imun. Untung saja sudah tiba di rumah sakit dan bisa langsung diperiksakan kalau tidak–”
“Jangan diteruskan, Dokter! Istriku akan baik-baik saja.” Lean memotong perkataan dokter. Sejujurnya dia sangat takut mendengar kemungkinan yang buruk.
“Ya, istri Tuan akan baik-baik saja.”
Setelah beberapa menit, tubuh Caitlyn mulai kembali normal dan tidak menggigil lagi. Lean setia menunggu di sampingnya dan tetap menggenggam tangannya. Sementara itu, dokter mulai bekerja membersihkan luka goresan yang terdapat pada leher Caitlyn, juga memar kecil di ujung bibirnya.
Lean mengepalkan tangannya menahan marah. “Sania,” geramnya.
Dokter kini sudah selesai mengobati luka Caitlyn. Dia kembali ke tempat duduknya dan meminta perawat menyiapkan gel khusus dan alat untuk USG.
Lean mengalihkan tatapannya dari wajah Caitlyn dan menatap dokter begitu antusias.
“Memangnya sudah boleh, yah, Dok?” Lean tampak senang sekali.
“Tentu saja, Tuan.”
Dokter itu kemudian meminta izin menyingkap sedikit baju dan selimut yang menghalangi perut rata Caitlyn. Wajah Lean memerah antara kesal pada dokter yang dianggapnya terlalu lancang, ataukah dirinya yang tidak dapat menahan melihat kulit perut Caitlyn yang begitu putih dan mulus. Entahlah, yang pasti wajah itu jelas tengah menahan sesuatu dalam dirinya.
Namun, perasaan itu mendadak sirna ketika dokter mulai menjelaskan bagian-bagian yang terlihat pada layar. Wajah tampan Lean tampak kagum dan bahagia. Apalagi dokter memperdengarkan denyut jantung yang terdengar lemah itu, mata Lean refleks terasa panas dan perih.
“Denyut jantungnya sedikit lemah akibat hipotermia yang tadi sempat dialami ibunya.” Ucapan dokter membuat hati Lean tersentil lagi.
Dia menggenggam tangan Caitlyn dengan kuat, lalu menciumnya dengan mata terpejam.
__ADS_1
“Maafkan aku yang terlambat datang menolong kalian, maafkan aku,” gumamnya.
Lean menyesal karena keterlambatannya hampir saja membunuh Caitlyn dan bayinya. Tidak lama setelah itu, dokter menyudahi pemeriksaan dan memberikan resep obat untuk Lean.
“Terima kasih, Dok.”
Lean sudah merasa tenang karena kondisi Caitlyn yang sudah cukup baik. Dia pun menghubungi seseorang pada waktu hampir setengah 6 pagi.
📲 “Bisa tolong datang di rumah sakit sekarang juga, aku butuh bantuanmu untuk menjaga Caitlyn.”
📲 “Ok. 15 menit kemudian.”
📲 “Thanks.”
Benar saja, dalam waktu 15 menit, orang yang dinantikan Lean pun akhirnya tiba. Dia pun bergegas untuk melakukan misi selanjutnya.
“Aku pergi sebentar, yah. Aku akan kembali setelah semuanya beres. Hanya sebentar saja.” Dia pun memberikan kecupan singkat di kening Caitlyn sebelum pergi.
“Titip dia, yah. Tolong jaga dengan baik. Jika perlu apa-apa, panggil saja penjaga atau perawat. Jangan tinggalkan dia sendirian, aku mohon! Makasih, sebelumnya.”
Orang itu mengangguk dan Lean pun akhirnya keluar. Pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju tempat Sania dan ayahnya berada. Dalam perjalanan, dia menghubungi beberapa orang yang sudah dia percayakan untuk menyiapkan sesuatu yang besar.
Dalam waktu singkat yang hanya 1 jam lebih, Lean tiba di rumah baru milik Sania tersebut. Dia senang karena ayahnya dan Jerry masih setia menahan keempat orang di sana.
“Mari kita lanjutkan permainan kita,” ucap Lean dengan senyum iblis.
Pria itu kini duduk dengan kaki yang menyilang pada kursi yang terdapat dalam ruangan itu. Lean lalu menepuk tangannya memberi kode. Detik berikutnya, beberapa orang masuk sambil membawa seorang pria yang sangat mengejutkan mereka semua yang ada di ruangan itu termasuk Hadya dan Jerry.
“Lean? Dia, ‘kan ….” Hadya speechless.
Sementara itu, Sania dan Nathan merasakan hidup mereka benar-benar telah berakhir.
...TBC...
__ADS_1
...🌻🌻🌻...