
Lean melihat nama yang tertera pada layar ponsel membuatnya mendadak memikirkan keadaan Caitlyn. Cepat-cepat dia menggeser ikon berwarna hijau pada layar guna menjawab panggilan dari ayahnya.
📲 “Halo, Pa.”
📲 “Halo, Lean. Kamu di mana sekarang? Pulang ke rumah sekarang juga. Papa tunggu.”
📲 “Caitlyn baik-baik saja, ‘kan, Pa?”
📲 “Ya, dia baik-baik saja. Tapi ada sesuatu yang perlu papa omongin sama kamu. Kalau bisa ... bilang Rendi ke sini juga. Papa juga perlu sama dia.”
📲 “Okay, Pa. Lean pulang sekarang. Tapi papa serius Caitlyn tidak kenapa-kenapa, ‘kan?”
📲 “Iya, nak. Istrimu baik-baik saja. Dia sedang bersama nenek di kamar.”
Lean dapat bernapas Lega. Sedari tadi berbicara dengan sang ayah, pandangannya tidak berpindah sedikit pun dari Rendi. Dia terus melirik sembari memikirkan kata-kata pria itu tadi yang mengkhawatirkan istrinya.
📲 “Baiklah, Pa. Sampai ketemu di rumah.”
Panggilan itu pun berakhir. Lean segera memerintahkan Rendi dan Jerry untuk sama-sama kembali ke rumah.
“Ayo, Ren! Papa juga perlu bicara sama kamu katanya.” Lean berucap sambil bersiap untuk melangkah keluar.
“Tapi keadaan Lily gimana, Tuan?” Bukannya mengiyakan saja perkataan Lean, pria itu justru menanyakan keadaan Caitlyn.
Lean berhenti dan menatap Rendi sejenak. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kedatangan Rendi tadi dan juga panggilan telepon dari ayahnya.
“Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa kau begitu mencemaskan istriku? Apa yang kau ketahui, Ren? Apa ini semua ada kaitannya dengan Sania lagi?” Tepat sasaran cercaan Lean.
Rendi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. “Tadi ... dia ada di resto itu. Makanya aku tiba-tiba menghilang,” akunya.
__ADS_1
Lean terkejut dan bersamaan dengan itu pula, Jerry muncul dari balik pintu. Asisten itu menatap Rendi dengan wajah bingung.
Lah, ini orangnya. Dari mana saja dia ...? Dicariin di mana-mana, malah nongol di sini.
“Em, kita bicarakan ini nanti di mobil, Ren. Sekarang kita balik ke rumah dulu. Ayo, Jerry!” Lean langung melangkah keluar dan si susul Rendi dan juga Jerry.
Tiga pria itu lalu berjalan cepat meninggalkan ruangan Lean. Begitu keluar dari gedung utama SG, Rendi hendak berbelok ke arah parkiran karyawan karena motornya terparkir di sana.
“No, ikut mobil saya saja, Ren. Motornya nanti saja dibawa sama orang-orang papa ke rumah,” cegah Lean.
“Oh, baiklah, Tuan.” Rendi mengiyakan dan ikut bersama mobil Lean.
Begitu masuk ke mobil, Lean langung meminta Rendi menceritakan kejadian di resto tadi. Sementara Jerry bergerak menjalankan mobil meninggalkan area kantor. Sambil mengemudi dengan serius, Jerry juga memasang telinga pada pembicaraan Rendi.
Oh ... pantes dibawah kabur sama nenek sihir, sih ....
Sementara itu Lean sangat marah mendengar cerita Rendi. Dia pikir wanita iblis itu telah menjauh dari kehidupan mereka, ternyata baru sebulan lebih dia kembali dan berulah lagi.
Sebelum mencari sang ayah, Lean justru lebih dulu ke kamar Nenek Sanju demi memastikan keadaan istrinya. Sementara Jerry dan Rendi langsung menghampiri Hadya di ruang kerjanya.
“Sayang,” panggil Lean saat membuka pintu.
Hati pria tampan itu seketika lega mendapati Caitlyn tengah duduk manis pada sofa yang terdapat di dalam kamar sang nenek. Tanpa menunggu lama, dia pun mendekat dan langsung memeluk tubuh Caitlyn yang semakin padat saja.
“Al? Kok ada di sini? Emang udah izin sama papa?” tanya Caitlyn yang kaget mendapati suaminya siang-siang di sana.
“Udah, dong. Lagian, ‘kan, udah genap sebulan ini. Harusnya malam baru aku ke sini tapi ... nunggu malam lama. Aku sudah tidak tahan, Sayang.” Lean menggoda istrinya.
“Ih, masih tidak tahu malu dia, Nek.” Caitlyn pura-pura mengadu pada Nenek Sanju.
__ADS_1
Nenek Sanju hanya tertawa melihat tingkah pasangan suami-istri muda itu.
“Apa kau sudah makan, Lean? Jika belum, biarkan istrimu yang akan mengurus.” Nenek Sanju beralih menatap Caitlyn. “Pergi dan layani dulu suamimu,” ucapnya.
“Ah, aku sudah makan, Nek. Caitlyn di sini saja dulu sama Nenek karena aku ada sedikit urusan sama papa.” Lean berkata pada neneknya. “Tunggu aku selesai urusan sama papa, yah,” ucapnya pada sang istri.
Lean lalu bangkit dari duduknya setelah meninggalkan satu kecupan manis untuk Caitlyn. Dia pun berpamitan dan keluar menuju ke ruangan kerja ayahnya.
Di sana sudah ada Jerry dan Rendi yang berbicara dengan Hadya. Begitu Lean bergabung, Hadya langsung menanyakan perihal kejadian di resto sesuai dengan yang diceritakan Rendi.
“Ah, aku juga tidak melihat wanita iblis itu di sana, Pa. Aku pun juga baru tau setelah Rendi menceritakannya,” ucap Lean sembari memilih duduk berdekatan dengan ayahnya. “Lalu ada apa ayah menyuruhku pulang?” tanya Lean selanjutnya.
“Kau sudah dengar ancaman wanita itu pada Rendi? Itu yang coba dia lakukan tadi di rumah ini. Entah dia bekerjasama dengan siapa lagi kali ini. Kita harus lebih berhati-hati lagi,” ucap Hadya yang lagi-lagi dibuat pusing oleh perbuatan Sania.
Lean terkejut. “Serius, Pa? Tapi Caitlyn baik-baik saja. Apa yang terjadi memangnya?” tanya Lean sedikit cemas.
“Dia membayar seorang kurir untuk mengantarkan paket atas nama Caitlyn. Untung saja paket itu belum sampai ke tangan istrimu karena pengawal sudah lebih dulu mencurigai kurirnya,” ucap Hadya penuh sesal.
Yah, dia sangat menyesal karena hampir saja menantunya mendapat serangan mental yang sangat mungkin akan berimbas menganggu kehamilannya.
“Paket? Kurir? Di mana paketnya? Kenapa kurirnya gak ditahan, Pa?” Lean bertambah cemas.
Hadya langsung berdiri dan mengambil kotak berukuran sedang yang dia simpan, lalu memberikannya pada Lean.
“Bukalah! Tapi jangan cepat emosi Lean. Jangan sampai gegabahmu membuat Caitlyn mengetahui ini!”
...TBC...
...🌻🌻🌻...
__ADS_1