Behind The Divorce

Behind The Divorce
Bab 33. Let Her!


__ADS_3

Jarum jam berputar dengan cepat dan kini hari senja kembali menyapa. Terhitung sudah lima jam tertidur dengan begitu lelap, Saskia akhirnya pun terbangun dengan kondisi kepala yang sedikit pening. Sesaat dia menggelengkan kepalanya dan menyesuaikan pandangan dengan sekitar.


Mata Saskia sedikit menyipit kala menyadari jika dirinya berada di tempat asing. Baru saja dia hendak bergerak untuk melihat tempat asing tersebut, tetapi Saskia terkejut dirinya tidak dapat bergerak. Wanita itu menunduk lalu semakin terkejut lagi kala mendapati kaki dan tangannya sedang terikat dengan posisi duduk.


“Breng*sek! Siapa yang melakukan ini semua?” tanya Saskia sembari meronta-ronta di tempatnya.


Dia lalu mengedarkan pandangannya menyapu seisi ruangan asing tersebut.


“Rumah siapa ini?” Saskia heran karena tempat itu begitu mewah dan luas.


Wanita itu masih larut dalam keheranannya, tiba-tiba saja dua orang pria berbadan kekar membuka pintu dan masuk. Saskia terlonjak kaget karena keduanya membuka pintu lalu menutupnya kembali dengan sedikit kasar.


“Kalian lagi?” Dia mengenali dan masih mengingat jelas wajah kedua pria tersebut. Mereka adalah dua orang yang tadi menghadang mobilnya dan juga membekap mulutnya. “Mau apa kalian sebenarnya, hah?” teriak Saskia.


Salah satu dari mereka mendekat pada Saskia sembari memegangi sebuah ponsel. Salah satu pria tersebut tampak sedang mengotak-atik layar ponsel yang dipegangnya. Entah apa yang dia lakukan.


“Kami tidak menginginkan apa-apa darimu, Nona. Hanya satu hal kecil saja dan itu sudah kami dapatkan,” jawabnya dengan santai sekali.


Mata Saskia memicing. “Jadi, jika kau sudah berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, lantas kenapa masih menahanku di sini?” tanyanya lagi.


Si cantik itu menatap kedua pria di sana bergantian sambil menebak-nebak apa sebenarnya yang menjadi incaran mereka.


“Sebentar lagi kami akan melepaskan Anda, Nona. Tenang saja. Sedikit lagi tugas ini berakhir.” Kedua pria itu tampak santai dan biasa saja.


“Wait, apa yang sudah kalian dapatkan?” Saskia mulai was-was. Dia mulai teringat akan mobil dan segala yang ada di dalam. “Di mana mobilku? Jika kalian mau, kalian boleh menjualnya tetapi jangan mengambil apapun di dalamnya, terutama tasku dan segala isinya.” Saskia melakukan penawaran yang dianggapnya cukup baik dan menguntungkan.


Kedua pria itu kompak tertawa kecil mendengar perkataan Saskia.


“Justru kalimat terakhir yang Anda sebutkan itu yang kami cari, Nona.” Saskia terperanjat. “Mobil Anda aman. Tidak perlu khawatir. Boss kami tidak membutuhkan itu sama sekali,” imbuh salah satu dari pria di sana.


Saskia geram. “Apa yang kalian cari sebenarnya?” bentaknya. Wanita itu sungguh sangat penasaran dibuatnya. “Mana, di mana bossmu itu? Siapa dia? Apa yang dia mau dariku? Panggil dia ke sini sekarang juga!” pekik Saskia tak tahan.

__ADS_1


“Siapa boss kami, itu tidak penting. Cukup Anda tahu bahwa Anda aman di sini dengan sebuah jaminan–”


Perkataan pria itu terhenti saat pintu kembali terbuka dan tampaklah seorang pria paruh baya yang sangat mereka segani dan takuti ada di sana. Dua pria itu lantas menunduk dan tidak berani mengangkat wajah mereka lagi. Berbeda dengan dua pria itu, wajah Saskia justru tampak kebingungan.


“Selamat sore, Tuan!”


“Om?”


Ketiganya sama-sama bersuara memberi salam serta sapaan.


“Lepaskan dia!” perintah pria paruh baya yang baru saja masuk.


Dua pria itu terlihat ragu, tetapi salah satu dari mereka lalu memberanikan diri menolak perintah pria paruh baya di sana.


“T-ta-tapi, Tuan–”


“Kau berani membantahku? Aku bilang lepaskan dia sekarang juga!” perintahnya sekali lagi dengan suara lebih keras dari yang sebelumnya.


“Ba-baik, Tuan!”


“Om, maaf tapi … sebenarnya ada apa ini?” tanya Saskia yang sungguh bingung dan mati penasaran.


Begitu ikatannya terlepas, dia segera bangkit berdiri dan menghampiri pria paruh baya yang pernah dikenalkan padanya oleh sang sahabat–Caitlyn.


“Maafkan om, Nak. Om terlambat mengetahui perbuatan anak itu. Maafkan om, ya,” ucap pria paruh baya yang ternyata adalah Hadya.


Kening Saskia mengerut semakin bingung. “Maksudnya, Om? Anak itu maksudnya, hmm … mantan suami Caitlyn?” Saskia enggan menyebutkan nama Lean.


“Tidak! Ah, bukan. Maksudnya iya ….” Hadya bingung sendiri hendak menyelesaikan kalimatnya seperti apa.


Maksud pria paruh baya itu adalah benar memang Lean yang dimaksud. Akan tetapi, penegasan TIDAK itu sebenarnya untuk status–mantan suami, yang disebutkan Saskia tadi. Bagi Hadya, Lean dan Caitlyn tidak pernah bercerai, juga Caitlyn masih tetap menjadi menantunya, bahkan mungkin saja selamanya seperti itu.

__ADS_1


Namun, Hadya tidak ingin menjelaskan apapun pada Saskia maupun siapa pun. Biarkan saja dia sendiri yang beranggapan demikian, sembari berusaha keras mempertahankan serta merealisasikan anggapannya tersebut.


“Om kenapa? Kia tambah bingung, loh, Om.” Tidak mengerti dengan perkataan tidak jelas dari Hadya.


“Maksudnya iya benar yang om maksud itu Lean. Om minta maaf atas perbuatannya.” Kali ini Hadya sudah kembali fokus.


Saskia lumayan terkejut. “Jadi dia yang melakukan semua ini, Om? Tapi untuk apa?” Masih belum memahami tujuan penyekapan sesaat itu.


Hadya menarik nafasnya dalam-dalam lalu mengembuskan dengan perlahan.


“Dia hanya menginginkan alamat Caitlyn, Nak. Dia ….”


Saskia menepuk jidatnya kuat hingga menghasilkan bunyi. “Jadi, dia sudah menuju tempat Caitlyn sekarang, Om?” Hadya mengangguk lemah. “Astaga … kok, aku gak kepikiran dari tadi yah?” Saskia berbalik dan menatap dua pria suruhan Lean. “Cuman buat dapat itu kalian sampai harus nyekap aku? Trus itu udah dapat kenapa gak dibebasin aja dari tadi, sih?” sungut Saskia pada keduanya.


“Maaf, Nona. Tapi kata tuan muda, Anda harus tetap ditahan supaya tidak menggagalkan perjalanannya,” jawab salah satu dari mereka.


Mendengar itu hampir saja Saskia mengumpat jika tidak ada Hadya di sana.


“Nak, maafkan Lean yah. Om akan menghukum dia untuk hal ini.” Hadya mengalihkan perhatian Saskia.


Wanita itu mengangguk pasrah. Jika bukan Hadya yang datang meminta maaf, dia akan mencari Lean sampai ketemu dan membuat perhitungan dengan pria menyebalkan itu. Saskia tidak peduli sehebat dan seberkuasa apapun dia.


“It’s ok, Om. Hanya saja Kia memikirkan keadaan Caitlyn. Sebenarnya dia sedang ….” Saskia ingin mengatakan tentang kehamilan Caitlyn tetapi dia ragu. Takut jika sahabatnya tidak menyetujui hal itu. Namun, tanpa dia ketahui bahwa Hadya telah mengetahui semuanya.


“Jangan khawatir, Nak! Om jamin jika sahabatmu akan baik-baik saja,” ucap Hadya dengan sungguh.


“Makasih, Om. Kia percaya sama Om. Kalau begitu, Kia mau pulang aja. Kia permisi, yah, Om.” Dia berpamitan dan Hadya menyuruh salah satu pria itu mangantar Saskia keluar.


Setelah kepergian Saskia, Hadya tampak begitu marah. Namun, dia tidak ingin marah pada anak buah putranya itu. Seseorang yang ingin sekali dia marahi adalah putranya sendiri.


“Pasti dia sudah tiba di tempat menantuku, ‘kan?”

__ADS_1


TBC


🌻🌻🌻


__ADS_2