
Masih di dalam ballroom, William berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada. Hanya dalam sekali jentikan jari, seorang pria lain kemudian masuk dan langsung mendorong seorang wanita yang jatuh tersungkur tepat di bawah kaki Cecilia.
Wanita muda yang menyamar sebagai Caitlyn belum genap sehari itu, tersentak dengan mata membola serta tubuh yang gemetar takut. Cecilia meremas pinggiran gaun yang dia kenakan dengan kuat.
The end, Ma. Selesai, tamat. Wanita bodoh ini kenapa gak lari, sih? Arrrgghh kenapa secepat ini ....
“Berapa banyak orang yang sudah kau tipu selama ini? Apa kau akan bilang jika kau tidak mengenalinya juga?” tunjuk William pada wanita yang tengah berlutut meminta untuk diampuni.
“Em ... Dad, jangan percaya–”
“Don‘t call me like that. You're not my daughter, but you‘re just a fraud. You know?” ucap William dengan tegas, bahkan gesturnya ikut memperingati.
Cecilia tercekat dan tidak bisa lagi membuka mulutnya. Pria itu kemudian menatap pada wanita yang terlihat ketakutan di bawah sana.
“Dengan tidak tahu malu kau memaksa wanita ini untuk bekerjasama denganmu. Setelah tujuanmu tercapai, kau menyuruhnya untuk menghilang. Terbuat dari apa manusia sepertimu ini, hah? Apa kau titisan iblis? Sebenarnya saya prihatin melihat Anda, Nona. Kasihan masa mudamu dihabiskan dengan hal-hal jahat. Apa kau tidak kasihan pada dirimu sendiri?” cecar William.
Pria itu kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berbalik membelakangi Cecilia.
“Saya sudah meragukan ini sejak pagi tadi. Tapi saya memaklumi antusiasme istri saya. Dia terlalu bahagia hingga menutupi keraguan saya. Kemudian setelah melihat putriku malam ini, saya menyadari ada banyak hal yang berbeda di sini.”
Benar, William memang tidak begitu yakin di saat istrinya terlampau bahagia. Belum sempat untuk mencari tahu tentang Cecilia yang menyamar sebagai putrinya, sang istri–Nyonya Vargas, sudah memutuskan untuk membuat acara malam ini.
William mengurungkan niatnya hingga acara malam ini selesai. Namun, rencananya itu justru datang lebih cepat. Begitu tadi melihat Caitlyn, pria berkebangsaan Spanyol itu merasakan hal yang berbeda dari sorot mata hazel milik Caitlyn.
Tidak tahan karena didera rasa penasaran yang begitu hebat, William diam-diam menghilang dari acara, tepat saat bersalaman kedua kalinya dengan Caitlyn.
Pria itu kemudian teringat akan Bu Prita. Wanita seusia istrinya itu pun sudah tidak terlihat sejak sore. Padahal William hendak menginterogasinya. Tidak ingin mati penasaran berlama-lama, William lalu menghubungi beberapa orang untuk mencari dan membawa kembali wanita yang disewa menjadi ibu angkat Cecilia.
Setelah mendapati wanita itu, William pun tidak berlama-lama menginterogasinya. Dia mengancam dan memaksa hingga wanita itu membuka mulut menceritakan semua yang rencana yang telah disusun oleh Sania dan Cecilia.
“Jadi bagaimana, Nona Cecilia? Kau masih ada muka untuk memanggilku daddy? Sayang sekali drama yang kau perankan Samapi di sini saja,” ucap William sambil kembali berbalik menatap Cecilia.
Detik berikutnya tubuh Cecilia telah merosot ke lantai dan duduk bersimpuh persis yang dilakukan Bu Prita.
“Maafkan saya, Tuan. Tolong ampuni saya. Saya sungguh menyesal melakukan ini. Saya hanya dipaksa oleh mama mengikuti semua yang dia inginkan. Tolong maafkan saya, Tuan.” Cecilia memohon untuk diampuni dengan kedua tangan yang direkatkan di depan dada.
William mendengus. “Sudahlah, Nona Cecilia. Tidak perlu saling menyalahkan. Bukankah kau sangat bahagia memainkan peran ini? But it's ok. Saya berterima kasih atas idemu dan ibumu. Jika bukan karena kalian yang memulai semua ini, mungkin saya belum juga menemukan putri saya. Terima kasih, Nona Cecilia. Saya akan memikirkan pengampunan yang akan saya berikan, tetapi itu semua jika putriku memaafkanmu.”
__ADS_1
Cecilia merasa ini benar-benar akhir dari perjalanan hidupnya. Dia telah kalah dalam semua laga melawan Caitlyn. Bumil itu selalu menang dan menang lagi. Di sini, Cecilia harus menyiapkan mental lagi untuk mendapatkan penghinaan dari wanita hamil itu.
“Tahan mereka dan bawa ke lokasi tembak. Mungkin besok pagi mereka akan dieksekusi,” ucap William membuat Cecilia langsung berjengkit dsn memekik.
“Tidak, Tidaaaaakkk!!!!!”
Anak buah William lantas bergerak melakukan apa yang diperintahkan. Sementara, William berjalan keluar ingin menghubungi istrinya, mengabaikan teriakan Cecilia yang meraung meminta ampun.
“Tuan, Anda tidak bisa melakukan ini! Lepaskan saya, Tuan!”
Sambil melangkah menuju parkiran, William melakukan panggilan ke nomor istrinya. Tidak menunggu lama lagi panggilan langsung tersambung.
📲 “Kalian sudah di rumah?”
📲 “Belum, Willi. Aku dan kakak di rumah sakit.”
William tersentak mandadak khawatir pada istrinya.
📲 “Apa yang terjadi, Nada? Kau baik-baik saja? Aku segera ke sana.”
📲 “Tenanglah, Willi. Aku baik-baik saja. Hanya saja ....”
📲 “No! Aku hanya khawatir pada istrinya Tuan Sanjaya–”
📲 “Caitlyn?”
📲 “Aku segera ke sana, Nada.”
Bukannya tenang, Tuan Vargas malah semakin khawatir. Dia segera masuk ke mobil dan melesatkan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit di mana putra sulungnya bekerja.
***
Langkah lebar Hadya berjalan tergesa-gesa membawanya menuju ruang rawat Caitlyn. Ada kecemasan yang tidak bisa dibendungnya. Dari kejauhan dia melihat dua orang tengah menunggu di depan ruangan menantunya.
“Siapa mereka?” Begitu sudah mendekat, barulah Hadya mengenali Dokter Vargas. “Anda di sini, Dokter?” tanya Hadya.
Dokter Vargas lantas bangkit dari duduknya dan bersalaman dengan Hadya.
__ADS_1
“Selamat malam, Tuan Sanjaya. Iya, Tuan. Maaf kami menunggu di depan ruangan menantu Anda karena ... karena mommy saya khawatir dengan kondisi menantu Anda, Tuan,” jelas Dokter Vargas.
“Oh, terima kasih karena telah mencemaskan putriku. Anda bisa mengantarkan ibu Anda untuk pulang dan beristirahat karena ini sedih larut malam. Sekali lagi terima kasih,” ucap Hadya dan hendak masuk ke dalam tetapi ditahan oleh suara Nyonya Vargas.
“Izinkan saya tetap di sini, Tuan Sanjaya. Saya juga ingin menemani menantu Anda. Saya ingin menunggunya sampai sadar. Tolong, jangan menyuruhku pulang.”
Hadya menatap ibu dan anak itu bergantian, hingga beberapa detik. Dalam benaknya dia bertanya-tanya apa yang telah terjadi? Mungkinkah wanita itu telah mengetahui jika Caitlyn adalah putrinya?
Entahlah, tetapi Hadya merasa tidak pantas dia mengusir mereka dari sana.
“Baiklah kalau begitu. Jika Anda mau, Anda bisa menunggu di dalam, Nyonya Vargas.” Ah, hati Nyonya Vargas seketika lega mendapat izin dari Tuan Besar itu.
Hadya langsung meraih gagang pintu lalu membuka kecil dan mengintip ke dalam. Dia mendapati keduanya sedang tertidur. Hadya pun membuka pintu sedikit lebar dan mempersilahkan dua orang itu untuk masuk.
Ketiganya lalu menunggu pada sofa panjang berbentuk leter L yang tersedia dalam ruang perawatan super mewah itu. Pada kesempatan itu Hadya memilih untuk menanyakan apa yang terjadi hingga menyebabkan menantunya dilarikan ke rumah sakit tengah malam begini.
Baru akan memulai cerita, atensi mereka teralihkan dengan suara Caitlyn yang terbangun dan memanggil suaminya.
“Al,” panggilnya pelan dengan nada serak.
Hadya belum bergerak dari tempatnya dan hanya ingin menyaksikan saja interaksi kedua anaknya itu.
“Al,” panggil Caitlyn sekali lagi.
“Ya, Sayang? Aku di sini. Mau apa? Ada yang sakit? Katakan, Sayang.” Kantuk dan rasa pusing Lean seketika lenyap. Pria tampan itu sigap berdiri dengan posisi menunduk di depan wajah istrinya.
Caitlyn menggeleng dan tiba-tiba saja menangis membuat Lean bertambah panik.
“Hei, kenapa, Sayang. Aku ada di sini. Katakan apa yang sakit, atau apa yang kamu butuhkan. Bilang sama aku, hm,” ucap Lean dengan lembut sambil menunduk meraih tubuh Caitlyn dan memeluknya.
Pasangan suami-istri itu tidak menyadari keberadaan tiga orang yang tengah duduk di sana, dan menyaksikan pemandangan manis yang mereka ciptakan.
“Aku mau sama ibu, Al. Aku ... aku tidak tahan melihatnya yang terus menggenggam tangan Cecilia. Dia ibuku, ‘kan? Katakan padanya aku sudah merindukan dirinya selama belasan tahun ... dan saat dia ada di depanku, malah orang lain yang dia peluk. Aku sakit melihatnya, Al. Aku–”
Belum juga Lean menjawab perkataan istrinya, bahkan Caitlyn juga belum sempat menyelesaikan isi hatinya, Nonya Vargas sudah bangkit berdiri dan langsung berjalan cepat ke arah ranjang pasien dan menghentikan acara pelukan pasangan suami-istri itu.
“Mommy di sini, Sayang.”
__ADS_1
...TBC...
...🌻🌻🌻...